KATAKAMI KATAKAMI

Wartawan Protes Rahasia Negara Dibocorkan Kepada Satu Media Televisi, Kapolri Sutanto Marah & Menegur Keras Densus 88 (Mei 2008)

DIMUAT DI INILAH.COM tgl 01/05/2008 – 23:55

Oleh : Mega Simarmata

INILAH.COM, Jakarta – Disharmonisasi Mabes Polri dan wartawan kian tercium. Semua berawal dari diskriminasi informasi yang dilakukan Densus 88 Anti Teror, detasemen prestisius Mabes Polri. Kapolri Jendral Sutanto pun gerah dibuatnya.

Wajah sejumlah wartawan masih kusut saat meliput pertemuan kunjungan Perdana Menteri Timor Leste, Kay Rala Xanana Gusmao ke Mabes Polri, Kamis (30/4/2008) sore. Tak ada yang salah dengan Xanana. Juga pada Jenderal Sutanto.

Pangkal soalnya adalah kambuhnya penyakit kronis Densus 88. Saat menangkap kaki tangan Noordin M. Top di Jawa Tengah, 22 April lalu, info itu secara eksklusif hanya diberikan kepada sebuah televisi nasional. Wawancara eksklusif tersangka teroris dilakukan reporter muda mereka di Yogyakarta dengan difasilitasi Densus 88.

Tak satupun media lain yang diberikan informasi, konfirmasi, apalagi wawancara eksklusif. Semua tertutup. Ketika wartawan bertanya kepada Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen. Pol. Abu Bakar Nataprawira, dia pun kesulitan mendapatkan konfirmasi dari Densus 88 Anti Teror yang kini dipimpin Brigjen Pol. Surya Darma.

Ini bukan yang pertama. Setahun lalu, peristiwa yang sama terjadi saat tim Satgas Bom Polri menangkap Abu Dujana, panglima sayap militer Jamaah Islamiyah. Dalam hitungan jam, tertangkap juga Zarkasih alias si Mbah, Amir Darurat (Pimpinan Tertinggi) JI.

Ketika itu, publik dikejutkan dengan ditayangkannya video pemeriksaan terhadap Abu Dujana oleh sebuah televisi swasta nasional. Irjen Gories Mere yang memimpin seluruh rangkaian pemberantasan terorisme ini hanya bersedia memberikan eksklusivitas pemberitaan kepada televisi swasta nasional, karena pimpinannya bersahabat sangat akrab dengan GM.

Tindakan diskriminatif itu menuai protes keras dari semua media massa dan kalangan DPR. Sutanto mendapatkan protes secara langsung setiap kali ada kesempatan bertemu dalam forum terbuka. Kapolri saat itu sangat marah terhadap tindakan Gories Mere dan Surya Darma.

“Saya perintahkan Densus 88 Anti Teror agar jangan membocorkan rahasia negara kepada wartawan. Apa yang belum saatnya disampaikan kepada wartawan, jangan dulu disampaikan. Saya sudah perintahkan kepada Kabareskrim (Komjen. Pol. Bambang Hendarso Danuri) agar mengatasi masalah ini sehingga jangan lagi hanya satu televisi itu saja yang dikasih eksklusif,” kata Sutanto.

Tidak cuma tindakan diskriminatif dalam pemberitaan saja yang menjadi kontroversi saat Abu Dujana dan Zarkasih ditangkap. Berita tentang keberhasilan penangkapan ini, kabarnya lebih dulu disampaikan kepada pihak Australia dibandingkan kepada pihak Indonesia.

Abu Dujana dan Zarkasih ditangkap tanggal 9 Juni 2007. Pihak Australia menyampaikan ucapan selamat melalui media massa internasional tanggal 11 Juni dan publik Indonesia baru mendapatkan kabar penangkapan itu tanggal 13 Juni 2007.

Video yang berisi tentang pemeriksaan penyidik Polri terhadap Abu Dujana, hanya dalam hitungan jam sudah ditayangkan eksklusif sebuah televisi yang menjadi langganan untuk mendapatkan eksklusivitas pemberitaan. Ketika itu, sejumlah anggota DPR bereaksi sangat keras karena Polri diskriminatif.

Tidak cuma video pemeriksaan, yang dijadikan komoditas pemberitaan eksklusif tadi, termasuk juga membocorkan barang-barang bukti yang disita dari Abu Dujana semisal surat-surat. Semuanya itu diberikan kepada sebuah media saja untuk disiarkan.

Hal yang sama terulang ketika Polri melakukan rekonstruksi penangkapan dan saat Abu Dujana-Zarkasih dibawa ke Jakarta. Lagi-lagi hanya satu media ini saja yang diajak serta alias masuk ke dalam bis yang membawa para teroris itu.

(SELESAI)

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: