Bendera Merah Putih

barang bukti kasus bandar narkoba liem piek kiong alias MONAS

Jakarta, 3 April 2009 (KATAKAMI) Bulan Mei 2009, tepat 11 tahun masa reformasi. Tapi suara yang menghujat Orde Baru masih tetap ada. Bahkan ada Partai Politik, yang terang-terangan mengumumkan bahwa mereka ANTI ORDE BARU.

Semua pendapat itu tak bisa disalahkan karena menjadi bagian proses demokratisasi dan kebebasan dalam penyatakan pendapat atau aspirasi masyarakat.

Tapi jika disebut bahwa INDONESIA yang sekarang, jauh lebih berhasil dan sangat reformatif dibanding era Orde Baru yang dipimpin oleh Almarhum Pak Harto maka yang patut dipertanyakan adalah, “Apakah benar INDONESIA yang sekarang memang lebih berhasil dan sangat reformatif ?”.

Terkait kepindahan KATAKAMI.COM ke alamat www.KATAKAMI.BLOG.FR dan www.REDAKSIKATAKAMI.WORDPRESS.COM misalnya, itu menjadi salah satu contoh kecil tentang semakin suramnya kehidupan berdemokrasi, kebebasan dan kemerdekaan pers.

Aneh memang, khusus untuk Situs Berita www.KATAKAMI.COM, ada euforia dan semacam semangat maju tak gentar dari sejumlah pihak untuk merusak media kami.

Barangkali, karena kami mengetahui banyak hal dan tajam menganalisa permasalahan-permasalahan tertentu sampai ke dasar serta akar permasalahan tersebut.

Kalau pihak yang melakukan pengrusakan ini tidak bersalah, tidak mungkin akan sangat panik, kalap dan gelap mata.

Kalau pihak yang melakukan pengrusakan ini berada di pihak yang benar maka mereka akan mengajukan hak jawab atau menyampaikan somasi.

Ini tidak demikian !

Yang terjadi justru sebaliknya, KATAKAMI yang terus menerus mengeluh dan bahkan sudah melaporkan kejadian ini kepada PIHAK KEPOLISIAN.

Tapi apa boleh buat, patut dapat diduga salah satu pihak yang gencar melakukan aksi pengrusakan itu justru oknum perwira tinggi POLRi yaitu Komisaris Jenderal GM dan ada pihak lainnya.

Sketsa wajah oknum perwira tinggi yang patut dapat diduga menjadi BEKING UTAMA bandar narkoba MONAS
(Patut dapat diduga ada oknum perwira tinggi yang menjadi BEKING UTAMA bandar narkoba MONAS)

Pada saat KATAKAMI, patut dapat diduga terus menerus ditindas dan dizolimi oleh oknum APARAT KEAMANAN & APARAT PENEGAK HUKUM di negeri ini, maka kami bergerak untuk menghindar dengan langkah yang cantik dan cerdas yaitu beralih ke cadangan BLOG KATAKAMI.

Langkah yang cantik dan cerdas ini, tetap bermuara pada niat baik untuk berkarya bagi kebaikan INDONESIA yang sama-sama kita cintai.

Kalau dulu di era Orde Baru, ketidaksetujuan dan ketidak-senangan pada media massa diwujudkan lewat PEMBREIDELAN maka di era yang sekarang beda-beda tipis.

PEMBREIDELAN juga tujuannya tapi dilengkapi dengan aksi teror dan pengrusakan yang tak berkesudahan.

Betapa malunya MABES POLRI jika kondisi seperti ini terus terjadi dan patut dapat diduga tak dapat berbuat apa-apa dalam mengatasi perilaku oknum anggotanya sendiri.

Jadi, janganlah kita sembarang menghujat era ORDE BARU.

Sebab, dalam masalah penegakan hukum, khususnya pemberantasan narkoba misalnya, PEMERINTAH tidak konsisten dan setengah-setengah.

Patut dapat diduga, bandar narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS pemilik 1 juta PIL EKSTASI sudah 3 kali diloloskan dari jerat hukum.

Cece Isteri Bandar Narkoba MONAS yang telah mendapatkan VONIS MATI dari majelis hakim

CECE, isteri bandar narkoba MONAS, yang telah mendapatkan VONIS MATI bulan September 2008
Sementara, CECE sebagai isteri dari bandar narkoba MONAS (yang ditangkap bersama-sama dengan MONAS di Apartemen Taman Anggrek pada bulan November 2007) sudah mendapatkan vonis MATI dan pada bulan Desember 2008 lalu.

Dan kami anda sekarang, untuk membaca sejenak pemberitaan TABLOID SENSOR edisi 21 September 2008 saat CECE mendapatkan VONIS MATI .

Vonis Mati untuk Cece and Gank

Hakim memvonis ketiga kasus kepemilikan ribuan ekstasi dengan hukuman mati. Palu pun diketuk dan sidang pun usai.

Kabar baik itu sempat membuat wanita penghuni rumah predo bernama Jat Lie Chandra alias Jackly alias Cece alias Key Person tersenyum simpul. Sekalipun setengah percaya, namun selentingan bakal diganjar ringan sempat terbetik, apalagi ada pertanda dari molornya jadwal sidang hingga berjam-jam. Ya, inilah harapan terakhir istri Monas, terpidana tujuh bulan dalam kasus narkoba, yang ketika ditangkap bersembunyi di rumah rocker gaek Akhmad Albar.

Setelah lima jam dalam penantian, akhirnya sekitar pukul 18.30 WIB, majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Barat, yang dipimpin Hesmu Purwanto, menggelar sidang pembacaan amar keputusan dengan terdakwa Cece bersama koleganya, Lim Jit Wee alias Kim dan Christian.

Mereka dengan seksama mendengarkan hakim bergantian membacakan amar. Namun, suasana berubah tegang ketika memasuki pembacaan keputusan, malah Cece sempat menitikan air mata.

Ya, Kamis (18/9) sekitar pukul 19.00 WIB itu, majelis hakim memutuskan ketiganya terbukti secara tanpa hak memiliki, menyimpan, dan membawa narkoba. Perbuatan terdakwa melanggar Pasal 59 ayat 1 huruf e jo ayat 2 Undang-Undang Nomor 5/1997 tentang Psikotropika. Hakim pun memvonis ketiganya dengan hukuman mati. Palu pun diketuk dan sidang pun usai.

Seperti telah diduga sebelumnya, saat ketiganya digelandang menuju mobil tahanan, reaksi spontan pun terlihat. Kim tampak lunglai, Christian pun idem ditto. Malah, Cece lebih dari itu, berteriak-teriak histeris. Namun, ketika Cece digelandang ke mobil tahanan, dia langsung membopong anaknya dan menciuminya berkali-kali.

Anak itu seperti tidak tahu apa-apa, toh dia terlihat riang dan menikmati suasana persidangan, melompat-lompat gembira dan tersenyum saat disapa wartawan. Stanley begitu ia biasa disapa oleh kedua orang tuanya, yang dalam beberapa bulan lagi bakal mempunyai adik. Mahfum, Cece tengah berbadan dua dan usai kandungannya memasuki bulan keempat. Demikian pemberitaan dari TABLOID SENSOR.

barang bukti uang dalam kasus bandar narkoba MONAS

Permohonan banding dari CECE pada bulan Desember 2008 lalu sudah ditolak oleh MAJELIS HAKIM.

Biasanya, upaya hukum sampai ke tingkat tertinggi sekalipun, akan sangat mustahil untuk bisa mendapatkan pengampunan jika kasusnya adalah kasus NARKOBA.

Kabinet Gotong Royong yang dipimpin MEGAWATI SOEKARNOPUTRI tegas menangani kasus NARKOBA

Terutama pada era PEMERINTAHAN Megawati Soekarnoputri.

Bahkan Megawati di saat memerintah memerintahkan kepada bawahannya agar PERMOHONAN GRASI dari kasus-kasus narkoba yang mendapatkan VONIS MATI agar diberi map berwarna khusus saat akan disampaikan ke meja kerja Presiden MEGAWATI.

Sehingga, pada saat MEGAWATI melihat ada MAP berwarna khusus maka ia sudah cepat mengetahui bahwa itu adalah permohonan GRASI dari terpidana NARKOBA dan tidak ada kata lain selain MENOLAK permohonan GRASI tersebut.

Kabinet Gotong Royong tidak mengenal toleransi dalam pemberantasan narkoba.

Tapi entah mengapa, KABINET INDONESIA BERSATU patut dapat diduga tidak serius dan setengah-setengah dalam melakukan penegakan hukum.

Jaksa Agung Hendarman Supandji

KORPS KEJAKSAAN AGUNG, sudah sejak awal merasa “bingung” dan terus mempertanyakan, mengapa bandar narkoba MONAS sebagai pemilik 1 juta PIL EKSTASI yang ditangkap bersama semua “anggotanya” di Apartemen Taman Anggrek, justru tidak diajukan ke muka hukum.

Bayangkan, bandar utama yang memiliki 1 juta PIL EKSTASI itu diloloskan dari jerat hukum. Sementara, anggotanya yang ditangkap bersama-sama dengan MONAS diadili. Termasuk isteri dari MONAS sendiri yaitu CECE.

Ada 2 hal yang diabaikan oleh PEMERINTAH yaitu asas kebenaran dan asas keadilan demi tegaknya hukum.

Bagaimana mungkin, CECE sebagai seorang isteri yang selama ini hanya bertugas untuk membantu gerak laju dari bisnis haram bandar narkoba MONAS, justru diberi VONSI MATI.

Ia hanya tinggal menunggu ajal yang akan menjemput.

Barangkali saat ini, CECE dan 2 temannya yang sama-sama mendapat VONIS MATI pada kasus yang sama, akan mengajukan upaya hukum berikutnya yaitu KASASI. Lalu jika ditolak maka proses selanjutnya adalah PENINJAUAN KEMBALI (PK). Dan jika masih ditolak, proses tertinggi adalah GRASI. Diperkirakan pada proses GRASI inilah, upaya hukum dari terpidana mati kasus narkoba akan mentok.

Presiden SBY & Wapres JK, mengapa terkesan tak perduli dan cuek dalam kasus bandar narkoba MONAS ?

Mustahil, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden M. Jusuf Kalla bisa mendiamkan, mengabaikan atau membiarkan saja kasus ini mengambang.

Di satu pihak, ada 3 nyawa akan akan segera “diselesaikan” oleh regu tembak MABES POLRI.

Tapi di pihak lain, BANDAR UTAMA yang patut dapat diduga menjadi mafia di tingkat dunia yaitu Liem Piek Liong alias MONAS, justru dibiarkan saja saat diloloskan dari JERAT HUKUM.

Yang harus diingat disini adalah, MONAS bersama sang isteri (termasuk 2 terpidana mati lainnya), ditangkap bersama-sama. Diciduk berbarengan. Penangkapan mereka adalah untuk kasus 1 juta PIL EKSTASI. Itu sebabnya, CECE dan anggota sindikat MONAS mendapatkan VONIS MATI.

VONIS MATI itu, sama dengan tuntutan yang diajukan oleh PIHAK KEJAKSAAN.

Lalu, bagaimana cara dari oknum POLISI manapun untuk menutupi semua fakta itu ?

Dan parahnya lagi, lolosnya bandar narkoba MONAS ini adalah untuk yang ketiga kalinya. Kali ini, CECE sang isteri, bisa dibilang sedang apes alias sial karena sebelumnya CECE ikut “diselamatkan”.

Tapi kali ini, patut dapat diduga ia dibiarkan menjadi korban oleh MONAS dan beking kuat yang ada dibelakang MONAS.

Ini fakta dan tak ada cara apapun juga yang bias digunakan untuk mengubur semua fakta itu.

Bagi CECE dan kedua rekannya yang mendapatkan VONIS MATI, hari demi hari yang mereka lalui adalah tangga menuju pintu kematian yang sudah didepan mata. Ajal sudah dekat dan kecil kemungkinan untuk bisa mendapatkan keajaiban.

Ini bukan kasus kecil !

Betapa malunya kita kepada dunia internasional, terutama yang sangat concern dalam hal pemberantasan narkoba.

Bukan tak mungkin, dunia internasional juga ikut berdecak kagum karena lolosnya bandar narkoba MONAS ibarat permainan sulap yang sangat lihai. Terlihat jelas dampaknya. Tapi tak jelas, mengapa BEKING UTAMA yang terus menerus meloloskan bandar narkoba MONAS dari jerat hukum ini dibiarkan merajalela dan tetap eksis dalam jabatannya.

Harusnya kita malu pada diri kita sendiri dan pada dunia internasional. Seperti inilah POTRET dari penegakan hukum di INDONESIA.

Kapolri Jenderal Sutanto saat sidak ke apartemen Taman Anggrek (Nov 2007) yang menangkap MONAS Cs

Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri, mengapa hanya mencopot 5 penyidik kelas bawah dan menengah ? Dan mengapa MABES POLRI belum juga MENANGKAP bandar MONAS untuk disusulkan ke muka HUKUM ?
MABES POLRI, hanya mencopot 5 penyidik BARESKRIM dalam kasus rekayasa Berita Acara Pemeriksaan (BAP) bandar narkoba MONAS. Yang dicopot itu adalah penyidik kelas bawah dan menengah.

Mereka terbukti bersalah mengubah BAP MONAS agar bandar ini tidak masuk dalam proses hukum dari kasus narkoba TAMAN ANGGREK. Dari semua yang ditangkap, MONAS yang diloloskan.

MONAS memang diadili tetapi sengaja dibuatkan kasus tersendiri yaitu kepemilikian 1 gram sabu.

Luar biasa, ini permainan yang sangat kotor dan entah mengapa PEMERINTAH INDONESIA tidak malu jika patut dapat diduga ada oknum PERWIRA TINGGI POLRI yang merasa sangat berhak untuk melakukan aksi sulap yang menginjak-injak hukum di negara ini.

Jika karena ketajaman kami menyoroti masalah ini maka aksi pengrusakan SITUS KATAKAMI terus berkepanjangan, kami tak akan gentar.

Sekali lagi, kebenaran itu ibarat air sungai yang mengalir. Ia akan tetap mengalir, walau dibendung.

Jenderal berbintang 3 sekalipun, disertai seluruk ANGGOTA KELOMPOKNYA dan diperlengkapi dengan alat penyadap atau perangkat teknologi yang sangat canggih seperti apapun juga, kami tidak akan gentar jika patut dapat diduga mereka memang terlibat dan merupakan BEKING UTAMA bandar narkoba MONAS.

Jangan permainkan nyawa manusia !

Betapa bejatnya oknum aparat penegak hukum seperti itu jika patut dapat diduga sengaja mengorbankan sang isteri sekalipun, asal nyawa bandar narkoba MONAS tetap bisa diselamatkan dan mengalir upeti yang menggiurkan.

Dan betapa bejatnya oknum aparat penegak hukum seperti itu jika patut dapat diduga menjadi sangat gelap mata dan kalap kesetanan merusak SITUS KATAKAMI dengan semua cara (disertai aksi teror fisik berkepanjangan), hanya gara-gara ketakutan jika dirinya akan ikut terseret ke muka hukum karena melakukan tindakan yang sangat tak bermoral ini.

iklan katakan tidak pada narkoba

Jika PEMERINTAHAN SBY – JK menyerukan pada rakyat Indonesia, KATAKAN TIDAK PADA NARKOBA. Maka, rakyat INDONESIA akan bertanya, OH YA ? Kenapa ada bandar narkoba kelas super kakap seperti MONAS bisa lolos 3 kali dari jerat hukum ?Katakan TIDAK, pada narkoba !

Katakan TIDAK, pada semua kasus suap dari bandar narkoba.

Katakan TIDAK, pada setiap kesengajaaan yang menjungkir-balikkan proses penegakan hukum dalam pemberantasan narkoba.

Tetapi jika PEMERINTAH (khususnya Presiden SBY dan Wapres JK), tidak bisa mengatakan TIDAK terhadap semua itu maka rakyat Indonesia akan mencatat hal ini sebaik mungkin.

Copot dan non-aktifkan oknum PERWIRA TINGGI yang patut dapat diduga memang menjadi BEKING UTAMA bandar narkoba MONAS. Ia perlu dicopot dari jabatannya yang sangat strategis agar proses pemeriksaan bisa dijalankan secara baik.

Kemudian, tidak ada kata lain bagi KAPOLRI Jenderal Bambang Hendarso Danuri selain memerintahkan penangkapan terhadap bandar narkoba MONAS.

Pihak Kejaksaan Agung, sampai saat ini masih tetap menunggu diajukannya bandar narkoba MONAS oleh Penyidik POLRI.

Sehingga, fokus perhatian jangan sampai dialihkan dari kasus bandar narkoba MONAS ini. Betapa memalukannya, ada bandar narkoba pemilik 1 juta PIL EKSTASI diloloskan sebanyak 3 kali berturut-turut.

Presiden SBY & Wapres JK, mengapa diam saja saat seorang bandar narkoba kelas kakap diloloskan ?

Dan mengapa, PEMERINTAH (khususnya Presiden SBY & Wapres JK), diam saja dan tak bergeming terhadap kasus ini ?

Ada apa dibalik diamnya PEMERINTAH ?

Indonesia adalah negara hukum. Dan semua warga negara sama kedudukannya di muka hukum. Walaupun sudah berpangkat sampai ke tingkat KOMISARIS JENDERAL, jika patut dapat diduga melakukan pelanggaran hukum yang seberat ini maka harus ditindak secara tegas.

Apa yang dikuatirkan atau ditakutkan ?

Tegakkan hukum sampai langit runtuh. Sebab, itulah tujuan mulia dari reformasi yang sudah dijalani oleh bangsa Indonesia selama hampir 11 tahun lamanya.

Kalau pelanggaran hukum yang seberat ini saja diendapkan alias CINCAI CINCAI saja semuanya, maka janganlah ada satupun dari KABINET INDONESIA BERSATU ini yang merasa jauh lebih baik atau jauh lebih berhasil dari pihak manapun (termasuk dari era Orde Baru).

Dan untuk mempertegas, bandar narkoba MONAS adalah pemilik 1 JUTA PIL EKSTASI. Angka 1 JUTA itu bukanlah angka yang kecil. Sekali lagi, bandar narkoba MONAS adalah pemilik 1 JUTA PIL EKSTASI, dan itu belum termasuk yang jumlah lain yang bisa saja dimiliki oleh sang bandar atau yang akan tetap diproduksi (sampai saat ini).

Pak SBY, Pak JK, katakan tidak pada pelaksaan hukum yang setengah-setengah. Perangi narkoba secara konsisten. Dan biarkan hukum menjadi panglima di negaranya sendiri.

Penegakan hukum yang setegak-tegaknya dalam hal pemberantasan narkoba adalah pilar terpenting bagi berdirinya Indonesia menjadi sebuah negara yang lebih kuat, sehat dan bermartabat.

Siap, mohon maaf bagi jenderal manapun dan seluruh anggotanya yang merasa terancam jika kasus bandar narkoba MONAS ini “disikat” !

KATAKAMI tak punya kepentingan apapun dibalik kegigihan menyuarakan kebenaran dan keadilan ini. Itulah peran dan pengabdian dariu PERS NASIONAL yaitu agar Indonesia ini tetap terjaga secara baik dari kebejatan dan rusaknya moralitas dari oknum aparat penegak hukumnya. Tegakkan hukum sampai langit runtuh.

Blog KATAKAMI