KATAKAMI KATAKAMI

Kisah Sang Superstar Yang Meroketkan Diri Secara Fantastis Tetapi Melongok Korban Situ Gintung Saja Cuma Sekali

1 a NEW041 a flags_135

Jakarta 10 April 2009 (JAKARTA) Kalau ingat Pemilu Legislatif 2009 kemarin maka rasanya kita juga harus mengingat secara baik musibah Situ Gintung. Musibah yang menewaskan seratusan orang itu terjadi beberapa pekan menjelang Pemilu Legislatif.

Dan dihari pencontrengan kemarin, sebagian korban Situ Gintung memberikan hak suaranya di TPS yang disediakan untuk mereka.

Seingat kami, ada pemimpin nasional yang datang Ke Situ Gintung saja cuma satu kali untuk dadah-dadah dengan bergaya koboi sebab untuk mendatangi lokasi mengendarai motor.

Evakuasi korban musibah jebolnya Situ Gintung Cirendeu (Photo : Situs Radio BBC London)Evakuasi korban musibah jebolnya tanggul Situ Gintung Cirendeu

Dadah sana, dadah sini, sapa sana, sapa sini.

Barangkali, patut dapat diduga agar se-Indonesia melihat memang punya atensi besar karena memang sudah tahu bahwa di lokasi ada sederetan media massa pertelevisian.

Habis itu keluar negeri sekian minggu. Begitu pulang, langsung kampanye. Tak lama kemudian, berjaya di pementasan yang digelar ibu pertiwi.

Tapi kalau mau jujur, tak cuma korban Situ Gintung, masyarakat pada umumnya juga tahu bahwa dari perwakilan Pemerintah yang datang ke sana sampai tiga kali untuk memastikan bahwa seluruh korban diurus dengan baik adalah WAPRES M. JUSUF KALLA.

Ada yang menilai bahwa JK kesana untuk maksud politis.

Menurut kami, tidak ! Kayak kita tidak tahu saja bagaimana sulitnya mengendalikan petugas di lapangan dan birokrasi di wilayah setempat dalam hal mengurusi masyarakat yang tertimpa bencana.

Seingat kami, ada pemimpin nasional yang masih berkantor di DI Yogyakarta pasca terjadinya gempa bumi beberapa tahun lalu. Bayangkan, sampai berkantor disana. Dari barak ke barak, dan dari sana ke sini, semua dikunjungi dengan gaya yang sama.

Tepuk-tepuk, dadah-dadah, hebat sekali perhatiannya.

Tetapi pada kenyataannya, kompensasi dana untuk korban gempa bumi DI Yogyakarta saja memakan waktu bertahun-tahun.

Jadi untuk apa, ada yang sampai menginap di sana karena faktanya tak seindah yang dijanjikan.

Walau dari jauh, rakyat Indonesia menyaksikan perkembangan yang terjadi di berbagai wilayah. Duka Situ Gintung, bukan cuma duka dari korban dan keluarganya saja. Tapi itu juga merupakan duka dari rakyat Indonesia secara keseluruhan.

Rakyat melihat secara nyata, siapa pemimpin yang turun ke bawah dengan kesungguhan dan kerja keras.

Yang tak cuma rapat, rapat dan rapat terus.

Hasil yang ditunjukkan kepada rakyat Indonesia seperti semua pemaksaan kehendak. Kalau anak gaul bilang, “Maksa banget gitu loh !”.

Kenapa tidak dibuat saja sekalian, angka saktu kejayaan itu ialah menenangan 100 persen. Iya dong, kalau memang disebut semua serba SEMPURNA dalam mengabdikan diri kepada bangsa dan negara maka nilainya harus 100.

Kan diumbar kemana-mana kalau keberhasilan yang dicapai itu adalah keberhasilan yang SEMPURNA.

Jangan tanggung-tanggung kalau membuat sebuah ajang pertandingan menjadi tontonan spektakuler.

Buat dengan percaya diri, angka yang diklaim adalah 100 persen.

WirantoPrabowoSoetrisno Bachir

Lalu yang lain dibuat nol semua, JK nol, Megawati nol, Wiranto nol, Prabowo nol, Soetrisno Bachir nol, siapa lagi ?

Pokoknya semua lawan politik dibuat malu dengan angka nal nol nal nol.

Ibaratnya sebuah bangunan, maka rancangan bangunan itu harus kokoh agar si bangunan itu sendiri dapat tegak dan tegar menunjukkan diri dengan kondisi yang elegan dan … SEMPURNA !

Rakyat tidak buta dan tidak tuli kalau ada pemimpin yang kerjanya mengamuk terus. Semua ditantang. Semua disikat. Semua diejek. Semua dihajar dengan kata-kata balasan yang berlebihan.

Kabinet Gotong Royong yang dipimpin MEGAWATI SOEKARNOPUTRI tegas menangani kasus NARKOBA

Megawati kena. Wiranto kena. Prabowo kena.

“Pemberian bantuan itu adalah diridhoi agama dan tidak dipersalahkan dalam ajaran agama. Itu iklas. Bla bla bla” begitu kata Pemimpin tertentu dalam menanggapi kritikan bahwa sebaiknya rakyat tidak usah menerima.

Kalau kami jadi rakyat yang menerima bantuan misalnya, kami juga akan merasa dijebak kalau disuruh menerima bantuan. Tapi nanti dari iklan politik yang dipamerkan dan dipertontonkan, kebaikan-kebaikan hati itu dijadikan senjata politik untuk mengklaim keberhasilan yang SEMPURNA.

Lho, katanya dari PEMERINTAH tapi kok masuk ke angka-angka keberhasilan skup partai ?

Anda memimpin, atas nama partai atau PEMERINTAH ?

Iya khan.

Hal-hal semacam inilah yang jadi antiklimaks dan kontradiksi. Terlalu menyakitkan kesombongan yang sangat dipaksakan dari umat manusia yang memposisikan dirinya ibarat setara dengan Tuhan.

Sebab, yang sempurna itu hanyalah Tuhan. Dan tak ada satupun manusia yang bisa mengklaim bahwa dirinya SEMPURNA.

Tahun 2004 lalu, patut dapat diduga seorang CAPRES yang akan maju dalam Pilpres 2004 dibiayai oleh Artalyta Suryani yang kini mendekam di dalam penjara karena kasus suap sebesar USD 660 ribu kepada mantan Jaksa Urip Tri Gunawan.

Sudah masuk penjara kawan baik yang patut dapat diduga mendukung dan mengantarkan seseorang ke gerbang pertandingan politik 5 tahun lalu.

Dari sisi itu saja, sebenarnya sudah bisa dicari gambaran bahwa yang dulu saja bermasalah kalau patut dapat diduga ada aliran dana dari makelar kasus alias MARKUS.

Padahal dulu belum berkuasa. Lalu bagaimana dengan sekarang ?

Mana ada yang berani memeriksa atau memperkarakan. Kekuasaan adalah senjata pemukul dan penakluk bagi lawan manapun juga.

Kami masih berharap, akan ada kejutan yang sangat manis (entah dari siapapun itu) yang tergerak hatinya untuk “buka suara” jika memang patut dapat diduga ada penggembosan terhadap partai politik apapun juga yang dianggap sebagai saingan.

Tak perlu terang-terangan memberikan informasi berharga bagi siapa saja yang mengetahui secara pasti bahwa patut dapat diduga ada “suntik silikon” pada perolehan suara dalam sebuah pertandingan .

Meroket jauh ke atas. Ibaratnya sampai hampir menembus langit karena sangkin tingginya daya tembus dari si roket tadi.

Kembali ke masalah musibah Situ Gintung, kami ingat betul bahwa yang sangat sungguh-sungguh mengurusi korban Situ Gintung itu adalah Wapres JK.

Dan tak cuma musibah Situ Gintung, musibah lain pun begitu.

Presiden SBY & Wapres JK, mengapa terkesan tak perduli dan cuek dalam kasus bandar narkoba MONAS ?

JK bukan tipe yang hobi tepuk-tepuk dan dadah—dadah ke kamera televisi agar terlihat bagaikan bintang film kenamaan. Pasti sangat teknis yang ditanyakan, diurus dan dibantu oleh JK.

Begitu juga yang dilakukan Megawati selama hampir 5 tahun terakhir. Ia jarang sekali mau mengekspose perjalanan dirinya untuk kunjungi rakyat dari pelosok yang satu ke pelosok yang lain semenjak tidak menjabat lagi sebagai PRESIDEN.

Naik tinggi popularitasnya. Kalau berdasarkan polling-polling yang murni sih, peringkat PDI Perjuangan relatif sangat tinggi.

Begitu juga Prabowo Subianto. Sebagai Ketua Umum HKTI yang mengurusi petani-petani, kuli, pedagang kecil dan kalangan bawah yang terabaikan, kami mendengar bahwa Prabowo sangat diidolakan sebagai dewa penyelamat mereka.

Sebagai negara agraris, Indonesia ini memilih angka kalangan petani, kuli dan kaum papa yang relatif besar. Tetapi aneh juga, bisa raib kenyataan itu. Ada Gus Dur dan Yenny Wahid yang masuk dalam barisan Mas Bowo ini. Omong Kosong kalau ada yang sangat arogan mengatakan Gus Dur tidak punya pengaruh. Pengaruh Gus Dur itu ada. Apalagi Gus Dur mau untuk ikut mendampingi saat kampanye.

Sama halnya dengan Wiranto, kader yang masuk ke Partai Hanura sangat beragam dan menunjukkan kualitas dari seorang Wiranto.

Apalagi Soetrisno Bachir, walau nama besar Amien Rais tetap sangat kuat pengaruhnya tetapi Soetrisno Bachir sangat aktif mensosialisasikan dirinya di berbagai media massa, khususnya media televisi.

Ampun beribu-ribu kali ampun, kalau konstalasi politik yang sekarang mencuat sangat mengejutkan.

Tapi, keterkejutan itu sangat tanggung ! Bikin saja semua dapat nol persen.

Artinya, rakyat melihat dengan mata dan kepala sendiri tentang siapa dan bagaimana para Pemimpin Nasional itu bekerja. Tak harus yang banyak mejeng di televisi untuk pidato atau dadah-dadah ke sana-sini.

Sehingga sangat mencengangkan keberanian siapapun menempatkan dirinya dibelakang kemudi ROKET. Lalu, terbang tinggi ke angkasa menembus cakrawala perpolitikan dengan mengesampingkan semua akal sehat dan logika manusia.

Hebatnya lagi, ada oknum aparat tertentu yang patut dapat diduga ikut juga ikut MEROKET sehingga menjual kemampuan dirinya untuk disalah-gunakan pihak tertentu. Sebab, si oknum ini patut dapat diduga ingin menghalalkan segala cara yang serba spektakuler juga.

Kalau boleh berandai-andai, beginilah barangkali umpatan dari oknum tertentu yang patut dapat diduga ingin MEROKET juga itu :

Persetan amat dengan yang lain, yang penting gue “aman”.

Persetan amat dengan demokrasi, yang penting gue “berhasil menanam budi”.

Persetan amat dengan kedok gue yang terkuak sebagai beking bandar kotor tertentu, yang penting makin banyak gue “pegang” rahasia si babe (termasuk patut dapat diduga misteri gelegar hebat yang terjadi dua hari setelah seorang aktivis mati 5 tahun lalu itu untuk menyelamatkan pamor si babe juga).

Persetan amat dengan laporan media yang namanya KATAKAMI karena sudah melaporkan gue ke PROPAM karena patut dapat diduga memang gue pelaku aksi pengrusakan media mereka, mencuri sms, sabotase sms, merusak koneksi internet, mengepung rumah dan mengikuti Pemimpin Redaksinya sejak tahun 2007 karena interes alias animo pribadi gue yang memang tak pantas itu kok berani-beraninya ditolak mentah-mentah !

Hari Jumat (10/4/2009) sore, patut dapat diduga gue juga beraksi menteror Pemimpin Redaksi KATAKAMI agar seolah-olah teror itu datang dari pihak KEPALA NEGARA dan akhirnya KEPALA NEGARA yang akan dikritik orang. Tapi sayang, aksi “gue” ketahuan oleh Pihak KATAKAMI.

Sakitnya tak seberapa, malunya ini …

(MS)

1 a good-friday-glitter3Iklan KATAKAMI

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: