KATAKAMI KATAKAMI

Hentikan Debat Kusir Cari Pembenaran Diri Soal Tanggul Warisan "Londo", Korban Situ Gintung CIRENDEU Perlu Pertolongan Nyata !

Sebagian pengungsi lansia musibah Situ Gintung (Foto : DETIK)
Sebagian pengungsi lansia musibah Situ Gintung (Foto : DETIK)

JAKARTA 28/3/2009 (KATAKAMI) Kita boleh saja istirahat sejenak dari semua rutinitas dan kepadatan kerja. Lalu menikmati ketenangan akhir pekan. Atau bagi para politisi dan kader parpol yang mendapat “jatah” melakukan kampanye terbuka, akan berkonsentrasi mengisi agenda kampanye dengan sebaik-baiknya.

Tapi bagaimana dengan para korban dan keluarganya di Situ Gintung CIRENDEU ? Evakuasi mayat masih terus dilakukan. TIM SAR, TNI, POLRI dan warga bahu membahu melakukan evakuasi itu.

Berita tentang hasil evakuasi itu sangat memilukan. Ada perempuan hamil tua ditemukan. Kemudian ada bayi dan balita. Semua sudah tak bernyawa akibat jebolnya tanggul Situ Gintung CIRENDEU.

Di hari pertama musibah, begitu banyak Pembesar, Petinggi dan Pejabat berdatangan ke lokasi.

Kami tidak sependapat dengan pihak manapun yang mengartikan kunjungan itu sebagai “kampanye terselubung” atau upaya mencari simpati dalam rangka pemenangan Pemilu.

Sementara jika belum atau tidak datang ke lokasi musibah, maka CAPRES atau Tokoh Nasional yang dispekulasikan akan maju sebagai CAPRES 2009 lainnya dituding tidak peduli.

Ini sebuah pembelajaran bagi siapapun juga, termasuk bagi media massa agar dalam masalah kemanusiaan seperti ini janganlah ada prasangka yang berbau anyir politis.

Urusan kemanusiaan adalah kemanusiaan.

Kita jangan membuat situasi bertambah kisruh. Korban dan keluarganya membutuhkan uluran tangan yang secepat-cepatnya dan sebanyak-banyaknya.

Presiden SBY memutuskan untuk naik sepeda motor milik PENGAWAL PRESIDEN agar bisa cepat tiba di lokasi musibah SITU GINTUNG (Jumat 27/3/2009)

Presiden SBY memutuskan untuk naik sepeda motor milik PENGAWAL PRESIDEN agar bisa cepat tiba di lokasi musibah SITU GINTUNG (Jumat 27/3/2009)

Kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden M. Jusuf Kalla, patut diberi penghargaan sebab ini menjadi sign atau tanda kepada semua APARAT TERKAIT yang memang wajib terlibat dalam upaya tanggap darurat di Situ Gintung CIRENDEU.

Hendaklah juga, Presiden dan Wapres tidak berhenti hanya sekedar berkunjung ke lokasi.

Diharapkan duet kepemimpinan nasional ini, terus secara dekat memonitor jalannya proses tanggap darurat. Terutama bagaimana kelanjutan dan hasil dari semua proses evakuasi.

Lalu, bagaimana kelanjutan dan perkembangan terakhir mengenai proses pengungsian. Jangan hanya menerima daftar korban atau jumlah manusia orang per orang yang kini hidup di penampungan.

Proses evakuasi korban Situ Gintung CIRENDEU (Foto : DETIK)

Proses evakuasi korban Situ Gintung CIRENDEU (Foto : DETIK)

Yang terpenting diatas semua itu, berapapun juga jumlahnya korban dan keluarganya di tempat penampungan atau pengungsian, semuanya harus diurus dengan sangat manusiawi.

Mereka perlu makan, pastikanlah bahwa mereka memang bisa mendapatkan makanan yang wajar dan sehat. Mereka perlu melakukan rutinitas, seperti mandi, mencuci pakaian dan memasak misalnya. Pastikanlah bahwa mereka bisa mendapatkan air yang cukup dan higenis.

Terutama yang memang akan mereka gunakan untuk minum, apalagi untuk bayi dan anak-anak balita yang harus tetap minum susu (walaupun misalnya mereka terpaksa hidup di penampungan atau pengungsian). Paling tidak, selama 14 hari ke depan ini semua korban dan keluarga benar-benar memerlukan uluran tangan yang sangat “sempurna”.

Ibu Ani Yudhoyono & Ibu Ibu Anggota SIKIB

Ibu Ani Yudhoyono & Ibu Ibu Anggota SIKIB

Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) memiliki Persatuan Para Isteri yang diberi nama SIKIB atau SOLIDARITAS ISTERI KABINET INDONESIA BERSATU. Ada baiknya, Ibu Negara Ani Yudhoyono, Ibu Mufidah Jusuf Kalla, Ibu Muniarti Widodo AS dan semua Isteri Pejabat Tinggi dalam Kabinet Indonesia Bersatu bisa dengan sangat cepat mengadakan aksi sosial yang dapat disalurkan kepada korban dan keluarganya.

Di saat WEEKEND atau akhir pekan seperti ini, barangkali jauh lebih baik untuk tidak melewatinya dengan kegiatan-kegiatan pribadi dulu. Arahkanlah dulu pandangan, perhatian dan pertolongan yang sangat maksimal ke Situ Gintung CIRENDEU.

Bantuan demi bantuan, agar diatur yang memang sangat dibutuhkan. Tolonglah mereka, jangan dilepas begitu saja. Dalam situasi seperti ini, bisa jadi selera makan mereka saja sudah tidak ada. Mengingat saat datangnya musibah “air bah” pasca jebolnya tanggul Situ Gintung saja, mereka pasti masih trauma. Apalagi kalau ada anggota keluarga mereka yang belum ditemukan atau sudah ditemukan dalam keadaan tewas.

Disini, kondisi mental mereka masih sangat rapuh dan pasti begitu memprihatinkan. Masih ingatkah Pemerintah saat menangani BENCANA ALAM TSUNAMI (Desember 2004) ? Artinya, cara-cara penanganan terhadap korban dan keluarganya sudah bukan barang baru.

Apakah kita harus menunggu NEGARA ASING atau LEMBAGA ASING datang ke Situ Gintung CIRENDEU untuk melakukan penyembuhan psikis kepada korban dan keluarganya ?

Gubernur Banten Hj. Ratu Atut Choisiyah menegaskan bahw Pemda Banten akan memberi santunan Rp. 5 Juta per keluarga korban Situ Gintung CIRENDEU

Gubernur Banten Hj. Ratu Atut Choisiyah menegaskan bahw Pemda Banten akan memberi santunan Rp. 5 Juta per keluarga korban Situ Gintung CIRENDEU

Kemudian janji-janji bantuan kepada korban dan keluarga di Situ Gintung, janganlah cuma sekedar janji. Gubernur Banten Hajjah Ratu Atut Choisiyah telah memberikan janji untuk memberikan santunan Rp. 5 juta kepada masing-masing keluarga yang menjadi korban.

Dengan seluruh hormat kepada Pemda Banten, alangkah baiknya jika janji santunan itu bisa diberikan dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Artinya, kita yang berjanji maka kita yang harus menepati.

Jangan lukai perasaan mereka dengan menunda-nunda atau malah melupakan janji itu.

Berikanlah santunan yang dijanjikan. Jika yang dijanjikan Rp. 5 juta per keluarga, pastikanlah bahwa santunan itu memang diterima utuh oleh masing-masing keluarga.

Jangan dikentit. Jangan dikorupsi. Dan jangan “bocor” entah kemana atau digondol pihak siluman.

Saat ini, yang melakukan evakuasi mayat dan terus memberikan pertolongan secara teknis di lapangan adalah TIM SAR, TNI / POLRI.

Evakuasi mayat korban Situ Gintung CIRENDEU

Evakuasi mayat korban Situ Gintung CIRENDEU

Sebaiknya diingatkan disini agar masing-masing INSTANSI yang menurunkan personelnya untuk melakukan MISI KEMANUSIAAN di Situ Gintung CIRENDEU agar memperhatian dan mengurus semua anggaran operasional yang dibutuhkan oleh regu penyelamat atau semua personel yang dilibatkan dalam MISI KEMANUSIAAN di Situ Gintung.

Apalagi hari libur seperti ini, mengurus anggaran yang memenuhi standar pengajuan yang normal secara administrasi, tentulah tidak mungkin. PIMPINAN harus memastikan bahwa memang ada anggaran darurat yang secara nyata bisa diberikan kepada PETUGAS di lapangan.

Para petugas itu perlu makan, minum dan istirahat. Dan jangan lupa, mereka juga perlu disiapkan fisiknya agar tetap sehat secara prima. Perhatikan sampai sejauh itu agar jangan justru TIM SAR, Anggota POLRI atau PRAJURIT TNI yang diterjunkan dalam MISI KEMANUSIAAN di Situ Gintung yang jatuh sakit.

Nafas dari semua keterlibatan TNI / POLRI dalam MISI KEMANUSIAAN seperti ini memanglah bagian dari pengabdian. Tetapi, lepas bahwa semuanya itu adalah pengabdian, setiap orang yang ditugaskan untuk terjun langsung memberikan pertolongan kepada korban dan keluarganya, harus tetap mendapatkan insentif yang memadai.

Termasuk juga POLISI LALU LINTAS.

Bayangkan, dampak dari musibah ini menimbulkan kelumpuhan lalulintas di kawasan Ciputat – Lebak Bulus. DIRLANTAS POLRI jangan sampai lengah atau kurang fokus dalam menangani situasi darurat ini.

Dalam waktu 2 minggu ini, pasti akan sangat banyak kendaraan yang lalu lalang ke lokasi musibah. Entah itu Ambulans, Mobil Jenazah, Mobil dari semua CREW TELEVISI dan kalangan JURNALIS, TIM SAR, Pejabat-Pejabat yang mau berkunjung dan pihak lainnya. Peran dari POLISI LALU LINTAS sangat penting dalam mengatur dan memastikan bahwa semuanya itu akan tertangani secara baik sekali.

Kita juga jangan lupa, kadang-kadang dalam situasi yang sangat berdukapun akan ada pihak-pihak yang tega melakukan perbuatan tercela. Misalnya, para korban dan keluarga dijarah atau dirampok barang-barangnya.

Apalagi saat nanti mereka mendapatkan santunan uang dari sana-sini. Lagi-lagi, POLRI harus memperhatikan masalah keamanan di lokasi musibah dan sekitarnya. Janganlah ada yang berperilaku sebagai GARONG yang kelaparan melahap rezeki atau hak milik orang di tengah situasi yang serba berduka seperti ini.

Lalu Kita jangan terjebak dalam debat kusir, apakah musibah ini HUMAN ERROR atau BENCANA ALAM. Luar biasa, jika ada pihak-pihak yang kasak kusuk atau sibuk tak karuan mencari pembenaran diri agar jangan dipersalahkan. Hentikan semua debat kusir yang menyesatkan seperti itu.

Daripada banyak omong mencari pembenaran diri, alangkah lebih baik kalau melakukan hal-hal berguna dalam hal kemanusiaan. Repot benar rasanya, mencari-cari dalih agar jangan disalahkan atau ketahuan memang tidak peduli selama ini kepada warga masyarakat yang tak berdaya.

Lambang Kerajaan Belanda, janganlah dicari-cari alasan bahwa karena tanggul itu "warisan" masa kolonial BELANDA maka dianggap wajar kalau JEBOL di era sekarang !

Lambang Kerajaan Belanda, janganlah dicari-cari alasan bahwa karena tanggul itu "warisan" masa kolonial BELANDA maka dianggap wajar kalau JEBOL di era sekarang !

Tidak usah menyalahkan pemerintahan yang lalu-lalu, bagaimana dengan Pemerintahan SBY- JK ? Mengapa hampir 5 tahun berkuasa seperti sekarang, tidak pernah mendapatkan laporan bahwa ada tanggul warisan Belanda yang rapuh dan berpotensi menimbulkan musibah kemanusiaan jika ambruk diterjang banjir misalnya ?

Heboh soal tanggul Situ Gintung yang disebut-sebut warisan dari zaman penjajahan Belanda, agak lucu sebenarnya. Seolah-olah mau sengaja, digembar-gemborkan bahwa tanggul itu buatan KOLONIAL BELANDA, maka wajarlah jika “jebol”.

Bayangkan, BELANDA pertama kali mendaratkan armada kapal dagangnya di Indonesia saja sekitar tahun 1500 – an. Khusus untuk tanggul ini, entah dibuat di era tahun berapa pada masa kompeni “Londo” menjajah. Artinya, tanggul itu sudah bertahan semasa penjajahan Jepang.

Lalu sepanjang Indonesia merdeka, dengan 5 Presiden yang berkuasa selama ini. Jadi, tanggul Situ Gintung itu sangat hebat sebenarnya. Kita yang harusnya malu, masak sudah ratusan tahun tidak terpikir sedikitpun untuk membenahi atau membangunkan yang bangun semua tanggul atau jembatan warisan Belanda.

Salah siapa kalau selama ratusan tahun, atau sebutlah selama hampir 11 tahun masa REFORMASI ini, tidak berinisiatif melakukan pembangunan yang juga bersifat reformatif.

Masak setelah ada musibah jebolnya tanggul Belanda seperti ini, barulah teriak sana-sini mencari-cari alasan yang bisa digunakan untuk melempar kesalahan.

Yang sibuk debat kusir seperti itu, sebaiknya membeli atau meminjam KALKULATOR dari orang lain.

Lalu jika KALKULATOR itu sudah ada di tangan mereka, coba hitung secara cermat sudah berapa tahun lamanya BELANDA angkat kaki dari negara ini pasca dibangunnya tanggul itu ?

Coba dihitung ! Jika sudah ada jawabannya, pertanyaan selanjutnya adalah kemana saja ANDA-ANDA yang memang berkewajiban untuk merenovasi atau memperbaharui tanggul warisan kaum kolonial Belanda ?

Janganlah membuka borok sendiri bahwa memang selama ini sangat banyak hal-hal di bidang sosial kemasyarakatan yang terabaikan.

Janganlah ada bawahan-bawahan dari Presiden SBY – JK yang sibuk tak menentu saat ini mencari data dan informasi yang dianggapnya paling EKSKLUSIF untuk sekedar alasan pembenaran. Bukan EKSKLUSIF namanya, jika ada pihak-pihak yang dalam hitungan menit langsung melemparkan informasi ke media massa bahwa tanggul itu warisan Belanda.

Lokasi musibah jebolnya tanggul Situ Gintung

Lokasi musibah jebolnya tanggul Situ Gintung

Apa yang mau dibanggakan dengan pelemparan informasi yang seperti itu di tengah musibah yang sudah terlanjur terjadi di tengah masyarakat ?

Berpikir dan bertindaklah degan cerdas !

Sementara korban dan keluarga meraung-raung dalam tangisan yang pilu, mengapa yang diperdebatkan dan disebar-luaskan justru informasi-informasi dangkal yang tak berguna untuk diramaikan dalam pemberitaan. Sehingga yang tetap harus diutamakan dalam semua perjalanan hidup ini adalah melakukan yang berguna bagi orang lain, apalagi kalau yang dilakukan itu adalah kebaikan demi kebaikan. Bukan justru sebaliknya !

Dan secara khusus mengenai korban Situ Gintung CIRENDEU, kasihani mereka dan hendaklah semua rasa belas kasihan itu diwujudkan secara nyata.

Kami teringat pada lirik lagu BERITA KEPADA KAWAN yang dinyanyikan EBIET G ADE :

Perjalanan ini
T’rasa sangat menyedihkan
Sayang engkau tak duduk
Disampingku kawan
Banyak cerita
Yang mestinya kau saksikan
Di tanah kering bebatuan
Reff :

Mungkin Tuhan mulai bosan
Melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga
dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan
Bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada
Rumput yang bergoyang

(MS)

TULISAN YANG MENDUKUNG TULISAN INI, SILAHKAN BACA YANG BERJUDUL, “TEROR BAK BADAI TORNADO YANG HANTAM CIRENDEU SELAMA 3 JAM PADA HARI NYEPI, DATANGKAN NYANYIAN DUKA DARI SITU GINTUNG”

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: