KATAKAMI KATAKAMI

Juni 20, 2009

President Barack Hussein Obama on Iran: "The World is Watching"

Filed under: iran,katakami,president barack obama,world news — katakamikatakami @ 7:00 am

FRIDAY, JUNE 19TH, 2009 AT 6:48 PM

Speaking to Harry Smith of CBS News, the President explains his thinking on Iran:

Q Let’s move on to the news of the day. The Ayatollah Khamenei gave his speech today, gave his sermon. He said that the election in Iran was, in fact, legitimate. He said, “The street demonstrations are unacceptable.” Do you have a message for those people in the street?
THE PRESIDENT : I absolutely do. First of all, let’s understand that this notion that somehow these hundreds of thousands of people who are pouring into the streets in Iran are somehow responding to the West or the United States, that’s an old distraction that I think has been trotted out periodically. And that’s just not going to fly.
What you’re seeing in Iran are hundreds of thousands of people who believe their voices were not heard and who are peacefully protesting and seeking justice. And the world is watching. And we stand behind those who are seeking justice in a peaceful way. Already we’ve seen violence out there. I’ve said this throughout the week, I want to repeat it, that we stand with those who would look to peaceful resolution of conflict and we believe that the voices of people have to be heard, that that’s a universal value that the American people stand for and this administration stands for.

And I’m very concerned, based on some of the tenor and tone of the statements that have been made, that the government of Iran recognize that the world is watching. And how they approach and deal with people who are — through peaceful means — trying to be heard will I think send a pretty clear signal to the international community about what Iran is and is not. But the last point I want to make on this — this is not an issue of the United States or the West versus Iran; this is an issue of the Iranian people.

The fact that they are on the streets, under pretty severe duress, at great risk to themselves, is a sign that there’s something in that society that wants to open up. And, you know, we respect Iran’s sovereignty and we respect the fact that ultimately the Iranian people have to make these decisions.

But I hope that the world understands that this is not something that has to do with the outside world; this has to do with what’s happening in Iran. And I think ultimately the Iranian people will obtain justice.
Q People in this country say you haven’t said enough, that you haven’t been forceful enough in your support for those people on the street — to which you say?
THE PRESIDENT : To which I say, the last thing that I want to do is to have the United States be a foil for those forces inside Iran who would love nothing better than to make this an argument about the United States. That’s what they do. That’s what we’re already seeing. We shouldn’t be playing into that. There should be no distractions from the fact that the Iranian people are seeking to let their voices be heard.

What we can do is bear witness and say to the world that the incredible demonstrations that we’ve seen is a testimony to I think what Dr. King called the “arc of the moral universal.” It’s long but it bends towards justice.
(DIKUTIP DARI SITUS GEDUNG PUTIH)
Iklan

Juni 18, 2009

Mawar Surga Yang Semasa Hidupnya Begitu Banyak Berbuat Kebaikan Mengagumkan Itu Bernama Stanley Ann Dunham. Terimakasih Ibu ANN. TERIMAKASIH CINTA !

Filed under: barack obama,katakami,stanley ann dunham,world news — katakamikatakami @ 4:06 pm
Ann Dunham by katakamikatakami.

Oleh : MEGA SIMARMATA,
Pemimpin Redaksi KATAKAMI

Dipersembahkan sebagai penghormatan dan kenangan khusus kepada IBU STANLEY ANN DUNHAM

Dimuat juga di WWW.KATAKAMI.COM dan WWW.KATAKAMINEWS.WORDPRESS.COM

Jakarta 18/6/2009 (KATAKAMI) Sebuah kalimat yang legendaris akan mengawali tulisan mengenai ANN DUNHAM, seorang perempuan yang dikaruniai kecerdasan yang luar biasa dan semasa hidupnya ia juga secara murah hati mau “mencintai” dengan sangat luar biasa terhadap kehidupan di Indonesia.

“KASIH IBU SEPANJANG MASA !”

Sahabat saya, Teguh Santosa, Wartawan Senior Rakyat Merdeka yang mendapatkan kesempatan bersekolah di Hawaii, lebih dulu menulis tentang Almarhumah Ann Dunham. Dan saya berbangga hati atas sahabat saya ini karena dalam kesibukannya menimba ilmu, ia tetap produktif menulis tentang banyak hal di “tanah perantauannya”.

Saya ajak anda semua, untuk sejenak membaca sekelumit kisah hidup Almarhumah ANN DUNHAM dari tulisan Teguh Santosa (www.teguhtimur.com) :

https://i0.wp.com/theobamafamily.com/obamaFamilyphotos/ObamasMother.jpg

Stanley Ann Dunham lahir di Forth Leavenworth, Kansas, 29 November 1942. Ia adalah anak tunggal pasangan Stanley Amour Dunham dan Madelyn Lee Payne.

Nama Stanley diberikan ayahnya yang begitu menginginkan anak laki-laki.

Sepanjang Perang Dunia Kedua, ayahnya bergabung dengan Angkatan Darat, sementara ibunya bekerja di pabrik pesawat Boeing di Wichita, Kansas.

https://i1.wp.com/1.bp.blogspot.com/_zKBbtj9rWrU/SQ-NXHiDBLI/AAAAAAAAAOI/KBnd2Xz_bRg/s400/Ann,_Madelyn,_and_Stanley_Dunham.jpg

Usai Perang Dunia, keluarga Dunhams pindah ke California, Texas lalu Seattle, Washington. Tahun 1959, keluarga Dunhams memutuskan pindah Hawaii, yang di tahun itu resmi menjadi negara bagian ke-50 Amerika Serikat.

Di Republik Aloha, Stanley Amour bekerja sebagai staf pemasaran di sebuah toko furniture.

Adapun Madelyn Lee menapaki kariernya di Bank of Hawaii, hingga tahun 1970 ia menjadi salah seorang wanita yang duduk di kursi wakil direktur. Stanley Amour yang oleh Obama dipanggil Gramps, meninggal tahun 1992 dan dikuburkan di Makam Nasional Punchbowl, di Honolulu. Sementara Madelyn Lee Dunham yang dipanggil Toots hingga kini masih menetap di Honolulu.

Ann Dunham menyusul kedua orangtuanya setalah ia lulus dari Mercer Islands High School di Washington tahun 1960.

https://i1.wp.com/twominuterealitycheck.com/obamasr.jpghttps://i1.wp.com/noobamanation.com/images/NON5.png

Begitu tiba di Hawaii dia melanjutkan pendidikan di jurusan antropologi UHM, dimana dia kemudian bertemu dan jatuh cinta dengan Barack Hussein Obama Sr, mahasiswa jurusan ekonomi asal Kenya dari suku Luo yang juga merupakan mahasiswa Afrika pertama yang kuliah di Hawaii ketika itu.

Keinginan Ann Dunham dan Obama Sr. membangun mahligai rumah tangga sempat ditentang kedua keluarga, terutama keluarga Obama Sr. di Kenya.

Dalam sepucuk surat, ayah Obama Sr., Onyango Hussein Obama, mengatakan tak rela bila darah keturunannya bercampur dengan darah wanita kulit putih. Tetapi Obama Sr. bersikeras. Pernikahan mereka berlangsung di Pulau Maui tanggal 2 Februari 1961. Tak lama kemudian, 4 Agustus 1961, Obama Jr. lahir di Honolulu.

Tahun 1963 Obama Sr. melanjutkan studi ke Harvard University, di Massachusetts.

Ia meninggalkan Ann Dunham dan anak semata wayang mereka yang baru berusia dua tahun.

Setelah mendapatkan gelar master bidang ekonomi di tahun 1965, Obama Sr. kembali ke Kenya.

Di awal 1970-an, ia sempat menemui Obama Jr. di Honolulu. Itu adalah pertemuan terakhir mereka.

Tahun 1982 Obama Sr. tewas dalam sebuah kecelakaan di Kenya.

Tahun 1967, Ann Dunham menikah dengan Lolo Soetoro, mahasiswa jurusan geografi UHM asal Indonesia yang ditemuinya di East West Center (EWC). Di tahun yang sama Ann Dunham dan Obama mengikuti Lolo ke Indonesia.

Maya Soetoro-Ng, buah pernikahan Ann Dunham dan Lolo lahir di Jakarta tanggal 15 Agustus 1970.

Setahun kemudian, setelah empat tahun menetap di Jakarta, Obama memilih kembali ke Hawaii, melanjutkan sekolahnya di Punahou School di Honolulu.

Di tahun 1980 dia dan Lolo sepakat berpisah. Mereka tetap berhubungan baik sampai Lolo meninggal dunia pada Januari 1987.

Jakarta dan Indonesia adalah tempat Ann Dunham memulai karier profesional.

Antara Januari 1968 hingga Desember 1969 dia bekerja sebagai asisten direktur Lembaga Indonesia Amerika di Jakarta. Lalu antara Januari 1970 hingga Agustus 1972 dia menjadi salah seorang direktur Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Manajemen (LPPM). Salah satu tugasnya adalah mensupervisi penerbitan buku-buku pendidikan dan manajemen.

Tahun 1973 Ann Dunham pulang ke Hawaii bersama Maya untuk menyelesaikan pendidikan master di jurusan antropologi UHM. Tahun 1977 dia kembali ke Jakarta dan bekerja sebagai instruktur di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), dan setahun kemudian menjadi konsultan di kantor International Labor Organization (ILO) di Jakarta. Antara Oktober 1978 hingga Desember 1980, Ann Dunham menjadi konsultan pembangunan pedesaan USAID di Departemen Perindustrian. Di masa ini, Ann Dunham sering mengunjungi desa-desa terpencil di pedalaman Jawa Tengah untuk membantu kelompok perempuan miskin yang ditemuinya disana.

Selesai dengan USAID, antara Januari 1981 hingga November 1984 Ann Dunham menjadi supervisor program pemberdayaan perempuan dalam pembangunan di kantor Ford Foundation Asia Tenggara di Jakarta. Bersama, antara lain, Dr. Pujiwati Sayogyo dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Ann Dunham mengembangkan proyek penelitian mengenai perempuan di sektor pertanian.

Antara 1986 hingga 1987 Ann Dunham bekerja sebagai konsultan pembangunan pedesaan di Pakistan. Dalam program yang dibiayai Asian Development Bank (ADB) itu dia ikut mendesain skema mikrokredit untuk perempuan dan perajin di provinsi Gujranwala.

Tahun 1988 Ann Dunham kembali ke Indonesia. Kali ini ia menjadi koordinator riset dan konsultan di Bank Rakyat Indonesia (BRI). Sebagai konsultan, Ann Dunham ikut melatih karyawan BRI di tujuh provinsi, membantu menyiapkan skema mikrokredit bagi masyarakat miskin, menganalisa data, hingga memberikan rekomendasi kepada pimpinan BRI. Dia menyelesaikan tuganya di BRI tahun 1992. Di tahun yang sama dia kembali ke Hawaii untuk mempertahankan disertasinya.

Setelah menggondol gelar PhD bidang antropologi, tahun 1993 Ann Dunham menjadi koordinator riset dan kebijakan Women’s World Bank (WWB) di New York. Ia ikut menyiapkan program pengembangan kebijakan dengan 52 lembaga internasional di 40 negara Asia, Afrika dan Amerika Latin yang berafiliasi dengan WWB.

https://i2.wp.com/www.telegraph.co.uk/telegraph/multimedia/archive/00661/news-graphics-2008-_661332a.jpg

Puteri ANN DUNHAM, Maya Soetoro

Ann Dunham juga berperan dalam Konferensi Wanita yang diselenggarakan PBB di Beijing bulan September 1995.

Menjelang ulang tahunnya yang ke-53, tanggal 7 November 1995 Ann Dunham meninggal dunia karena kanker ovarian.

butterflyRoses.gif butterflies and roses (animated) image by victornlaura

Saya tidak berkeinginan untuk menuliskan “hal-hal sangat rumit” mengenai sepak terjang Almarhumah ANN DUNAM semasa hidupnya.

Tetapi, ada sebuah pesona yang “mencuri hati saya” dan siapapun juga yang menyimak perjalanan hidup ANN DUNHAM.

https://i2.wp.com/www.metastaticlivercancer.org/images/ovarian-cancer-survivor-stories.jpg

Bukan keinginannya semasa hidup, bisa mempunyai seorang anak yang “kelak” bisa menjadi salah satu pemimpin dunia yang tersohor. Yang dilakukannya semasa hidup, adalah mencintai dan mengabdikan dirinya secara total terhadap apapun serta siapapun yang menjadi bagian dari cinta yang ia miliki didalam dirinya.

Ia mencintai secara total pekerjaannya.

Ia mencintai secara total orang-orang kecil tak berdaya yang dijumpainya di berbagai belahan dunia sehingga dengan bermodalkan cinta yang tulus itulah ANN DUNHAM memberikan sesuatu yang bisa ia lakukan untuk menolong.

Ia mencintai secara total keluarga intinya, terutama kedua permata hatinya.

Saat salah seorang permata hatinya (Barack Hussein Obama), berhasil memenangkan pertarungan politik di AMERIKA SERIKAT bulan November 2008 maka mau tak mau nama ANN DUNHAM ikut menjadi bahan perbincangan.

Ia dianggap sebagai “orang yang paling berjasa” membentuk karakter Barack Hussein Obama.

Kalau cuma diperbincangkan dari sisi yang positif, sah sah saja dan boleh boleh saja. Tetapi, yang sungguh menyedihkan hati adalah ada sebagian kecil yang menyoroti hal-hal pribadi yang sifatnya sangat sensitif.

Pernikahan dan agama yang dianutnya.

Manusia, kadang-kadang tak bisa lepas dari karakter buruk yang terus dicoba oleh kalangan iblis ka dalam hati manusia-manusia kerdil yang tak bisa tenang jika belum membicarakan atau melakukan hal buruk untuk merugikan pihak lain.

Tidak ada yang salah dalam pernikahan ANN DUNHAM, baik ketika ia menikah dengan sangat tulus bersama seorang pria Kenya (Obama Senior).

Dan saat statusnya menjanda, ia menikah kembali dengan pria Indonesia (Lolo Soetoro).

Dimana letak kesalahannya ? Tidak ada samasekali !

Ia mencintai pria yang diyakininya dapat membahagiakan dirinya. Dari pernikahan itu, ia dan pasangan hidupnya dikaruniai anak yang ternyata sangat membanggakan.

Tak ada perselingkuhan. Tak ada kekerasan dalam rumah tangga. Tak ada sedikitpun kenistaan yang mengotori.

Perbedaan budaya dari latar belakang ANN DUNHAM dengan pria yang dicintai dan mencintainya, adalah faktor terkuat yang barangkali menjadi kendala terberat dan terbesar untuk membawa pernikahan itu ke dalam mahligai yang penuh keabadian.

Begitupun dalam hal agama atau iman kepercayaan yang dianutnya.

Kita sebagai manusia, seakan menjadi HAKIM atau TUHAN dari sesama kita manusia bila dengan sangat arogan mencari-cari kesalahan atau kelemahan orang lain dari sudut pandang agama.

Agama atau kepercayaan apapun yang dianut oleh manusia, sepanjang itu diyakininya tanpa paksaan dan sungguh dijalankan sepenuh hati, manusia manapun tak punya hak untuk menghakimi atau menggugat.

rose_red.gif red rose image by sandiek0207rose_red.gif red rose image by sandiek0207rose_red.gif red rose image by sandiek0207

ANN DUNHAM adalah mawar surga yang sangat pantas untuk dikenang dari sudut pandang yang penuh kebaikan, keindahan dan keabadian cinta yang memukau hati.

ANN DUNHAM adalah mawar surga yang tak ingin berpura-pura semasa hidupnya sehingga tanpa membedakan suku ,agama, ras dan golongan, yang dilakukan ANN DUNHAM adalah kebaikan demi kebaikan demi nilai-nilai kemanusiaan.

ANN DUNHAM adalah mawar surga yang pantas dihormati sebagai pejuang kehidupan yang begitu banyak menolong dan berbagi kasih terhadap sesamanya manusia yang ketika ANN DUNHAM masih hidup didunia yang fana ini … orang-orang yang banyak ditolongnya adalah orang-orang kecil yang sungguh miskin dan tak berdaya.

rose_red.gif red rose image by sandiek0207rose_red.gif red rose image by sandiek0207rose_red.gif red rose image by sandiek0207

Sulit bagi siapapun untuk mengukur dan menilai jasa baik dan nilai kepejuangan orang lain yang dilakukan kepada orang-orang kecil yang sungguh miskin dan tak berdaya, jika kita sendiri belum pernah menjadi bagian dari kalangan papa yang sangat menderita.

Yang mau dikatakan disini adalah orang-orang yang mendapat perhatian, pertolongan dan curahan kasih sayang ANN DUNHAM semasa hidupnya, tak akan pernah melupakan jasa baik dan kesempurnaan karakter yang memukau dari figur kepribadian ANN DUNHAM.

Misalnya satu orang saja — dari yang ditolong itu — memanjatkan doa kepada Sang Pencipta karena telah mendapatkan pertolongan, maka bayangkan kalau yang mendoakan itu tidak cuma satu. Tetapi sangat amat BANYAK !

Belum lagi, kalau keluarga yang ditolong itu, menceritakan turun temurun kepada keluarga besarnya bahwa ada seorang PEREMPUAN AMERIKA SERIKAT yang tak kenal lelah berbuat kebaikan semasa hidupnya dari tempat yang terpencil ke tempat yang terpencil lainnya di berbagai belahan dunia.

Dalam ajaran agama Kristen ditekankan satu hal yang sangat mendasar yaitu IMAN, TANPA PERBUATAN ADALAH MATI !

Artinya, agama yang dianut akan sia-sia, jika sepanjang hidupnya manusia tidak melakukan apapun yang diajarkan dalam agama itu.

ANN DUNHAM, memang harus dihormati sebagai seorang perempuan hebat yang telah mempersembahkan hidupnya bagi nilai-nilai kemanusiaan. Berbuat yang terbaik bagi sesamanya manusia, tanpa mengenal suku, agama, ras dan golongan.

https://i2.wp.com/blogs.fayobserver.com/livewire/files/2008/03/obamas-mother.jpg

Dan dari perjalanan yang panjang dalam hidupnya selama hampir 53 tahun, Indonesia adalah salah satu tempat yang dicintai dan banyak dikunjungi oleh ANN DUNHAM.

IBU ANN DUNHAM, terimakasih untuk cinta anda kepada “INDONESIA”.

IBU ANN DUNHAM, terimakasih untuk cinta anda kepada orang-orang miskin dan tak berdaya, yang telah anda cintai, anda tolong dan anda kunjungi semasa hidup anda dulu.

IBU ANN DUNHAM, terimakasih untuk mengajarkan kepada siapa saja perempuan didunia ini agar tak takut dan tak kenal lelah untuk berbuat kebaikan kepada sesama tanpa mengenal suku, agama, ras dan golongan.

Ya,terimakasih IBU ANN, untuk cinta anda yang tulus tak terhingga kepada sesama manusia.

Dan menutup tulisan ini, ingin rasanya saya mewakili orang-orang yang pernah dicintai dan ditolong ANN DUNHAM semasa hidupnya untuk menyanyikan sebuah lagu yang sangat terkenal di Indonesia saat ini yaitu TERIMAKASIH CINTA !

Semoga di tempatnya kini ia berada, “MAWAR SURGA” yang tampak begitu cantik dengan rambutnya yang tergerai panjang dengan senyum yang begitu manis ini, tetap mau tersenyum menerima dan mendengarkan lagu ini.

Ya, TERIMAKASIH CINTA !

https://i2.wp.com/i.peperonity.com/c/25F346/462071/ssc3/home/005/elinor2/merci.gif_320_320_256_9223372036854775000_0_1_0.gif

Terimakasih, Cinta (Lagu dari AFGAN)

Tersadar didalam sepiku
Setelah jauh melangkah
Cahaya kasihmu menuntunku
Kembali dalam dekap tanganmu

Terima kasih cinta untuk segalanya
Kau berikan lagi kesempatan itu
Tak akan terulang lagi
Semuaaa kesalahanku yang pernah menyakitimu

Tanpamu tiada berarti
Tak mampu lagi berdiri
Cahaya kasihmu menuntunku
Kembali dalam dekapan tanganmu

Terima kasih cinta untuk segalanya
Kau berikan lagi kesempatan itu
Tak akan terulang lagi
Semuaaa kesalahanku yang pernah menyakitimu

ouuwwww…
ouuwwww…

Terima kasih cinta untuk segalanya
Kau berikan lagi kesempatan itu
Tak akan terulang lagi
Semuaaa kesalahanku oouuwww
Kesalahanku yang pernah menyakitimu

(MS)

C’est Pour Kiti

https://i2.wp.com/www.americanbeautybordercollies.com/sitebuildercontent/sitebuilderpictures/animation26.gif

Pendekar-pendekar Besi Nusanta

Filed under: ann dunham,katakami,teguh santosa,world news — katakamikatakami @ 4:02 pm
May 14, 2009 in 2007 HAWAI’I, CATATAN

obama ann dunham warna

Pendekar-pendekar Besi Nusantara
[Diangkat dari Disertasi Stanley Ann Dunham, Peasant Blacksmithing in Indonesia: Surviving and Thriving Against all Odds, diterbikan Mizan, 2008]

Kata Pengantar oleh: Teguh Santosa

Mahasiswa University of Hawaii at Manoa (UHM),
Student Affiliate East West Center (EWC)

“Baik pada masa Perang Dingin, masa détente (peredaan ketegangan) sampai sekarang, intisari dari seluruh politik luar negeri Amerika di bawah para presiden dari Partai Republik maupun dari Partai Demokrat sama saja, yakni berusaha memegang hegemoni dan supremasi dunia. Hegemoni dan supremasi itu dimaksudkan berlaku di bidang ekonomi, politik, teknologi dan militer. Bila dilihat dari kelahirannya, lembaga-lembaga internasional seperti Perserikatan Bangsa Bangsa (United Nations), Bank Dunia, IMF dan WTO sejak semula dirancang untuk melindungi kepentingan ekonomi jangka panjang Amerika dan sekutu-sekutunya.”
Selamatkan Indonesia, Mohammad Amien Rais (2008)

Amerika Serikat yang dibangun di atas nilai-nilai kemanusiaan kini telah menjadi imperium yang, seperti Imperium Roma di masa lalu, menggunakan mesin perang dan kekuatan militer untuk memperluas wilayah kekuasaan, menaklukkan dan mengeksploitasi dunia.

Ketika Senator Illinois kelahiran Hawaii Barack Hussein Obama menyampaikan tekadnya mengubah watak imperialis Amerika —kecenderungan negara itu memperluas daerah kekuasaan dengan jalan menaklukkan bangsa dan negara lain untuk kepentingan ekonomi, industri dan modal— banyak pihak yang bertanya: apakah dia sudah gila? Setelah Obama secara resmi dicalonkan Partai Demokrat untuk menduduki kursi presiden Amerika Serikat, banyak orang yang bertanya, kali ini dengan harap-harap cemas: mampukah Obama?

Buku yang sedang berada di genggaman pembaca ini bukanlah buku tentang janji manis yang disampaikan Obama menjelang pemilihan presiden Amerika yang bila tak ada aral melintang akan digelar sebulan setelah buku ini dirilis. Bahkan buku ini sama sekali tidak berkaitan langsung dengan proses pemilihan itu.

Buku ini diangkat dari sebuah disertasi pada jurusan antropologi University of Hawaii at Manoa (UHM) yang berjudul Peasant Blacksmithing in Indonesia: Surviving and Thriving Against all Odds, yang membahas dengan sangat bernas kehidupan sosial dan ekonomi perajin besi di sebuah desa di selatan Jogjakarta, Indonesia.

Karya akademik ini dinilai semakin penting karena penulisnya adalah Ann Dunham, ibunda Barack Obama. Stanley Ann Dunham menghabiskan sebagian besar karier profesional dan akademiknya untuk kehidupan masyarakat miskin, terutama perempuan, di pedesaan Indonesia.

Ia bukan sekadar perempuan yang melahirkan dan membesarkan Obama. Lebih dari itu, Ann Dunham adalah teman diskusi yang turut membentuk pemahaman Obama mengenai realita dunia di luar Amerika Serikat. Membuat Obama mengerti dan menyadari bahwa berbagai perbedaan yang ada di muka bumi ini, sesuatu yang fitrah dan given, mestilah dijembatani dengan dialog, bukan dengan mesin perang.

“Ia adalah orang yang paling baik hati dan pemurah, yang pernah saya kenal. Ini merupakan hal terbaik yang saya miliki, dan saya berutang padanya,” tulis Obama dalam pengantar memoirnya, Dream from My Father, edisi 2004.

Untuk mempersiapkan buku ini, penulis berdiskusi secara intens dengan adik tiri Obama, Maya Soetoro-Ng, dan Profesor Alice Dewey dari jurusan antropologi UHM yang menjadi ketua komite disertasi Ann Dunham. Penulis sependapat dengan Maya dan Prof. Dewey, bahwa buku ini juga dapat memberikan gambaran mengenai hubungan segitiga antara Obama, Ann Dunham, dan pemahaman akan multikulturalisme yang sangat dibutuhkan pemimpin Amerika.

“Banyak hal yang diwarisi Obama dari ibu,” kata Maya. “Ibu kami idealistis sekaligus praktis, senang cerita dan bercerita. Obama mampu merangkul banyak orang karena ia, seperti ibu, menyukai cerita. Ia merangkai cerita demi cerita dan menemukan bahwa satu cerita mewarnai cerita lain. Ia mengangkat pengalaman hidup individu menjadi pengalaman hidup bersama rakyat Amerika dan dunia. Cerita-cerita itulah yang menginspirasi Obama.”

***

Tetapi sekali lagi, apakah Obama sungguh mampu mengubah watak dan tradisi politik Amerika? Sanggupkah ia melakukan perlawanan dari dalam, melawan kaum Hawkish dan korporatokrat yang mengumpulkan kekayaan lewat jalan perang?

Setelah peristiwa 9/11 tahun 2001, tulis Prof. Chalmers Johnson dari University of California dalam buku The Sorrow of Empires (2004), elit politik Amerika mulai membayangkan negara itu sebagai Roma baru yang tidak terikat pada hukum internasional, sehingga dapat melakukan apa saja yang mereka inginkan, termasuk menghancurkan kelompok atau siapapun yang mereka identifikasi dan kreasi sebagai musuh.

Namun sesungguhnya watak imperialisme Amerika itu sudah mulai tampak sejak, setidaknya, Perang Dunia Kedua berakhir. Dan pendekatan militeristik adalah satu dari tiga pendekatan utama yang digunakan Amerika untuk memperkuat cengkeramannya di sebuah negara.

Pendekatan kedua relatif lebih halus seperti yang dibeberkan John Perkins dalam buku Confession of the Economic Hit Man (2004). Perkins adalah salah seorang “mesin perusak ekonomi” yang disusupkan pemerintah Amerika untuk merusak pondasi ekonomi negara berkembang, termasuk Indonesia, dan menciptakan ketergantungan pada ekonomi pasar yang dikontrol Amerika. Tugas utama Perkins adalah meyakinkan otoritas politik dan keuangan negara berkembang untuk menerima utang (yang disamarkan dengan istilah bantuan) dalam jumlah yang begitu besar dari lembaga-lembaga keuangan internasional rekaan Amerika seperti Bank Dunia dan International Monetary Fund (IMF).

Setelah jumlah utang berbulu bantuan berikut bunganya semakin membesar —dimana sebagian darinya lenyap ditelan praktik korupsi— dan tak dapat dibayar kembali, otoritas politik negara berkembang itu pun dipaksa tunduk, menyerah dan menerima begitu saja semua keinginan Amerika yang disusupkan lewat produk hukum yang dihasilkan lembaga legislatif dan/atau eksekutif serta diamini oleh lembaga yudisial.

Bagaimana bila otoritas politik di negara berkembang yang sudah terperangkap ini tetap berani menolak tekanan Amerika?

Mereka akan dihabisi, kata Perkins sambil mencontohkan nasib Presiden Ecuador Jaime Roldos Aguilera dan Presiden Panama Omar Torrijos Herrera. Kedua mantan presiden dari dua negara yang walau telah terperangkap namun masih berani menentang keinginan Amerika itu tewas dalam kecelakaan pesawat yang begitu mengerikan. Kecelakan itu, kata Perkins, direkayasa oleh jagal Central Intelligent America (CIA), dinas rahasia Amerika. Roldos tewas di bulan Mei 1981. Adapun Torrijos tewas tak lama kemudian, Agustus 1981. Perkins mendedikasikan Confession of the Economic Hit Man untuk kedua korban yang pernah jadi kliennya itu.

Pembangunan negara berkembang yang didesain oleh para economic hit men ini pada akhirnya menghasilkan struktur ekonomi yang rapuh dan rentan, yang kalaupun tampak berkilauan dari luar namun sesungguhnya kosong melompong ibarat gelembung yang dapat meletus setiap saat.

Seperti gelas anggur, mengutip istilah yang digunakan ekonom senior Indonesia, Dr. Rizal Ramli, pembangunan di negara berkembang hanya menguntungkan dan memakmurkan kelompok elit, kaum konglomerat yang mendapat privilege karena memiliki relasi politik yang kuat dengan pusat kekuasaan. Mereka adalah mesin uang yang bekerja di belakang dan mendorong keberlangsungan hidup elit politik. Jumlah kelompok ini tidak banyak. Di Indonesia, menurut Dr. Rizal Ramli, walau hanya terdiri dari ratusan keluarga konglomerat namun kelompok ini menguasai 80 persen “kue pembangunan”.

Kelompok kedua yang dihasilkan proses pembangunan model ini adalah kelas menengah yang rapuh dan kelompok profesional yang tidak mandiri secara ekonomi dan politik. Sementara kelompok terakhir adalah masyarakat kelas bawah yang jumlahnya begitu banyak, hasil dari proses peminggiran dan pengabaian yang dilakukan rezim secara terus menerus. Kebijakan ekonomi, politik, juga hukum jelas tidak berpihak kepada kelompok ini.

Nah, pendekatan ketiga yang digunakan Amerika untuk menaklukkan sebuah negara dan menguasai sumber daya alamnya adalah dengan mendukung pemerintahan boneka yang otoriter.

Walhasil, seperti ditulis Johnson dalam bukunya yang lain, Blowback (2000), diktator boneka yang didukung Amerika tersebar di banyak negara di banyak kawasan, mulai dari Syngman Rhee yang berkuasa di Korea Selatan dari tahun 1948 hingga 1960 diikuti oleh jenderal-jenderal boneka Korea Selatan setelahnya, hingga Shah Mohammed Riza Pahlevi di Iran (1953-1979), Soeharto di Indonesia (1965-1998), Ferdinand Marcos di Filipina (1965-1986), termasuk Saddam Hussein di Irak (1979-2003) yang di awal 1980-an merupakan skondan terbaik Amerika Serikat untuk menghadang revolusi Iran 1979.

Setelah Uni Soviet dan blok komunis bangkrut di awal 1990-an, Amerika menjadi satu-satunya polisi dunia yang secara de facto memiliki kekuasaan penuh untuk menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh negara lain. Amerika dengan leluasa menentukan siapa yang menjadi kawan atau lawan mereka. Setiap kawan akan dianugerahi wortel, dan sebaliknya, setiap lawan akan dipentung.

Namun, siapa yang menabur angin akan menuai badai. Inilah blowback, konsekuensi yang tak terbayangkan sebelumnya, tulis Johnson. Ia meminjam istilah yang dipergunakan pertama kali dalam laporan rahasia CIA setelah menggulingkan pemerintahan Mohammad Mossadegh di Iran tahun 1953.

“Operasi yang menghasilkan blowback biasanya dirahasiakan dari publik Amerika dan wakil mereka di Kongres. Maka, ketika rakyat sipil (Amerika) yang tak bersalah menjadi korban dari serangan balasan yang dilancarkan pihak lain, awalnya mereka tidak mampu meletakkan serangan itu dalam konteksnya atau tidak memahami kejadian-kejadian sebelumnya yang mendorong aksi pembalasan itu,” tulis Johnson.

Dari sudut pandang ini, Johnson menilai bahwa peristiwa 9/11 sebetulnya merupakan blowback dari operasi rahasia (covert operations) CIA mempersenjatai kelompok mujahiddin Afghanistan dan Muslim militan dari banyak negara untuk menghadapi Uni Soviet dan komunis yang tengah melebarkan sayap di Asia Tengah di era 1980-an.

Sayangnya, kelompok Hawkish dan korporatokrat yang berkuasa di Gedung Putih menggunakan peristiwa 9/11 sebagai alat untuk menjustifikasi aksi polisional mereka ke Afghanistan (2001), lalu Irak (2003). Perang, bagi mereka, telah menjadi industri yang memberikan keuntungan ekonomi luar biasa, sehingga mereka tidak peduli dengan akibat dan kerugiaan yang ditanggung oleh korban di medan perang, orang-orang yang tidak berdosa, dan pemuda-pemuda Amerika yang mendukung patriotisme Amerika secara buta.

Malam itu, ketika Obama menyampaikan pidato politiknya di Konvensi Nasional Demokrat di Colorado, Just Foreign Policy (www.justforeignpolicy.org) mencatat, setidaknya 1.255.026 orang Irak tewas sejak Amerika menginvasi negara itu. Adapun Anti War (www.antiwar.com) memprediksikan tak kurang dari 4.150 tentara Amerika tewas dan sekitar 100 ribu lainnya terluka di medan perang Irak. Selain itu, menurut National Priority Project (www.nationalpriority.org), Amerika telah menghabiskan sekurang-kurangnya 550 miliar dolar AS untuk operasi militer di Irak.

***

Stanley Ann Dunham lahir di Forth Leavenworth, Kansas, 29 November 1942. Ia adalah anak tunggal pasangan Stanley Amour Dunham dan Madelyn Lee Payne. Nama Stanley diberikan ayahnya yang begitu menginginkan anak laki-laki. Sepanjang Perang Dunia Kedua, ayahnya bergabung dengan Angkatan Darat, sementara ibunya bekerja di pabrik pesawat Boeing di Wichita, Kansas. Usai Perang Dunia, keluarga Dunhams pindah ke California, Texas lalu Seattle, Washington. Tahun 1959, keluarga Dunhams memutuskan pindah Hawaii, yang di tahun itu resmi menjadi negara bagian ke-50 Amerika Serikat.

Di Republik Aloha, Stanley Amour bekerja sebagai staf pemasaran di sebuah toko furniture. Adapun Madelyn Lee menapaki kariernya di Bank of Hawaii, hingga tahun 1970 ia menjadi salah seorang wanita yang duduk di kursi wakil direktur. Stanley Amour yang oleh Obama dipanggil Gramps, meninggal tahun 1992 dan dikuburkan di Makam Nasional Punchbowl, di Honolulu. Sementara Madelyn Lee Dunham yang dipanggil Toots hingga kini masih menetap di Honolulu.

Ann Dunham menyusul kedua orangtuanya setalah ia lulus dari Mercer Islands High School di Washington tahun 1960. Begitu tiba di Hawaii dia melanjutkan pendidikan di jurusan antropologi UHM, dimana dia kemudian bertemu dan jatuh cinta dengan Barack Hussein Obama Sr, mahasiswa jurusan ekonomi asal Kenya dari suku Luo yang juga merupakan mahasiswa Afrika pertama yang kuliah di Hawaii ketika itu.

Keinginan Ann Dunham dan Obama Sr. membangun mahligai rumah tangga sempat ditentang kedua keluarga, terutama keluarga Obama Sr. di Kenya. Dalam sepucuk surat, ayah Obama Sr., Onyango Hussein Obama, mengatakan tak rela bila darah keturunannya bercampur dengan darah wanita kulit putih. Tetapi Obama Sr. bersikeras. Pernikahan mereka berlangsung di Pulau Maui tanggal 2 Februari 1961. Tak lama kemudian, 4 Agustus 1961, Obama Jr. lahir di Honolulu.

Tahun 1963 Obama Sr. melanjutkan studi ke Harvard University, di Massachusetts. Ia meninggalkan Ann Dunham dan anak semata wayang mereka yang baru berusia dua tahun. Setelah mendapatkan gelar master bidang ekonomi di tahun 1965, Obama Sr. kembali ke Kenya. Di awal 1970-an, ia sempat menemui Obama Jr. di Honolulu. Itu adalah pertemuan terakhir mereka. Tahun 1982 Obama Sr. tewas dalam sebuah kecelakaan di Kenya.

Tahun 1967, Ann Dunham menikah dengan Lolo Soetoro, mahasiswa jurusan geografi UHM asal Indonesia yang ditemuinya di East West Center (EWC). Di tahun yang sama Ann Dunham dan Obama mengikuti Lolo ke Indonesia. Maya Soetoro-Ng, buah pernikahan Ann Dunham dan Lolo lahir di Jakarta tanggal 15 Agustus 1970. Setahun kemudian, setelah empat tahun menetap di Jakarta, Obama memilih kembali ke Hawaii, melanjutkan sekolahnya di Punahou School di Honolulu.

Pernikahan kedua Ann Dunham juga tidak berlangsung lama. Di tahun 1980 dia dan Lolo sepakat berpisah. Mereka tetap berhubungan baik sampai Lolo meninggal dunia pada Januari 1987.

Jakarta dan Indonesia adalah tempat Ann Dunham memulai karier profesional. Antara Januari 1968 hingga Desember 1969 dia bekerja sebagai asisten direktur Lembaga Indonesia Amerika di Jakarta. Lalu antara Januari 1970 hingga Agustus 1972 dia menjadi salah seorang direktur Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Manajemen (LPPM). Salah satu tugasnya adalah mensupervisi penerbitan buku-buku pendidikan dan manajemen.

Tahun 1973 Ann Dunham pulang ke Hawaii bersama Maya untuk menyelesaikan pendidikan master di jurusan antropologi UHM. Tahun 1977 dia kembali ke Jakarta dan bekerja sebagai instruktur di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), dan setahun kemudian menjadi konsultan di kantor International Labor Organization (ILO) di Jakarta. Antara Oktober 1978 hingga Desember 1980, Ann Dunham menjadi konsultan pembangunan pedesaan USAID di Departemen Perindustrian. Di masa ini, Ann Dunham sering mengunjungi desa-desa terpencil di pedalaman Jawa Tengah untuk membantu kelompok perempuan miskin yang ditemuinya disana.

Selesai dengan USAID, antara Januari 1981 hingga November 1984 Ann Dunham menjadi supervisor program pemberdayaan perempuan dalam pembangunan di kantor Ford Foundation Asia Tenggara di Jakarta. Bersama, antara lain, Dr. Pujiwati Sayogyo dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Ann Dunham mengembangkan proyek penelitian mengenai perempuan di sektor pertanian.

Antara 1986 hingga 1987 Ann Dunham bekerja sebagai konsultan pembangunan pedesaan di Pakistan. Dalam program yang dibiayai Asian Development Bank (ADB) itu dia ikut mendesain skema mikrokredit untuk perempuan dan perajin di provinsi Gujranwala.

Tahun 1988 Ann Dunham kembali ke Indonesia. Kali ini ia menjadi koordinator riset dan konsultan di Bank Rakyat Indonesia (BRI). Sebagai konsultan, Ann Dunham ikut melatih karyawan BRI di tujuh provinsi, membantu menyiapkan skema mikrokredit bagi masyarakat miskin, menganalisa data, hingga memberikan rekomendasi kepada pimpinan BRI. Dia menyelesaikan tuganya di BRI tahun 1992. Di tahun yang sama dia kembali ke Hawaii untuk mempertahankan disertasinya.

Setelah menggondol gelar PhD bidang antropologi, tahun 1993 Ann Dunham menjadi koordinator riset dan kebijakan Women’s World Bank (WWB) di New York. Ia ikut menyiapkan program pengembangan kebijakan dengan 52 lembaga internasional di 40 negara Asia, Afrika dan Amerika Latin yang berafiliasi dengan WWB. Ann Dunham juga berperan dalam Konferensi Wanita yang diselenggarakan PBB di Beijing bulan September 1995.

Menjelang ulang tahunnya yang ke-53, tanggal 7 November 1995 Ann Dunham meninggal dunia karena kanker ovarian. Ketika Ann Dunham menghembuskan nafas terakhir, Obama tak berada di sampingnya. Ia sedang berada di Chicago, berkampanye untuk mendapatkan posisi publik di kota itu. Obama tiba di Honolulu setelah tubuh ibunya dikremasi.

Dalam memoirnya, Obama mengenang ibunya sebagai wanita yang tangguh, pekerja keras yang memiliki kepedulian kepada sesama manusia, bersahabat, dan family-woman.

“Sepuluh tahun terakhir dalam hidupnya dihabiskan untuk mengerjakan hal-hal yang disenanginya, berkeliling dunia, bekerja di pedalaman Asia dan Afrika, membantu wanita membeli mesin jahit, atau susu sapi, atau membantu pendidikan yang dapat jadi pegangan hidup mereka. Dia mengumpulkan teman, baik yang berasal dari kelas sosial tinggi maupun rendah, berjalan jauh, memandang bulan, menyusuri pasar tradisional di Delhi atau Marrakesh. Dia menulis laporan, membaca novel, mendorong anak-anaknya, dan memimpikan kehadiran cucu,” tulis Obama.

Pada suatu pagi tak lama setelah tubuh Ann Dunham diperabukan, bersama kerabat dan teman-teman dekat keluarga Dunhams, Obama dan Maya menyebarkan abu ibu mereka di pantai selatan Pulau Oahu. Angin meniup abu itu ke tengah Samudera Pasifik, ke arah Indonesia.

Honolulu,

2 September 2008

Juni 16, 2009

Membanggakan Pidato Obama Yang Tekankan Pentingnya Harmonisasi Hubungan Baru AS & Dunia Islam

Filed under: barack obama,cairo university,katakami,n,world news — katakamikatakami @ 5:08 pm

Meminjam Sebuah Judul Lagu Untuk Berkata Kepada Benjamin Netanyahu Dan Israel, “SUARA, DENGARKANLAH AKU !”

Filed under: benjamin netanyahu,israel,katakami,palestine,simon peres,world news — katakamikatakami @ 5:07 pm

Simon Peres & Benjamin Netanyahu

Dimuat selengkapnya di di http://www.katakaminews.wordpress.com dan http://www.katakamikatakami.blog.fr

Jakarta 15/6/2009 (KATAKAMI) Pekan lalu, saat kami memuat tulisan “Menanti Sang Prajurit Komando Bernama BENJAMIN NETANYAHU Menepati Janjinya Mewujudkan Perdamaian & Keamanan” yang merespon janji Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa dirinya akan berkomitmen tinggi mewujudkan perdamaian dan keamanan, kami mendapatkan begitu banyak respon yang positif dan semua bermuara pada satu hal yaitu agar Benjamin Netanyahu dan Israel sungguh membuka hati dalam merealisasikan “janji atau komitmen” mewujudkan perdamaian dan keamanan itu, dalam konteks dengan Palestina.

Salah respon yang kami terima adalah dari anggota Komisi I DPR-RI Jeffrey Massey dari Fraksi Partai Damai Sejahtera, yang sunggu berkeyakinan bahwa Benjamin Netanyahu akan menepati janji itu. Namun, seraya berharap juga agar HAMAS tidak terus menerus melakukan provokasi yang bisa membuyarkan upaya dan kesungguhan hati semua pihak untuk merealisasikan perdamaian dan keamanan tersebut.

Berhari-hari menunggu seperti apa sebenarnya visi dan misi Benjamin Netanyahu tentang “potret perdamaian dan keamanan” yang akan dengan kesungguhan hati diwujudkannya disaat ia memangku sebuah jabatan yang sangat prestisius di Israel, akhirnya rasa penasaran itu terjawab.

Minggu 14 Juni 2009 (waktu setempat). Benjamin Netanyahu menyampaikan pidatonya di “Begin-Sadat (BESA) Center for Strategic Studies, Bar-Ilan University, Israel”.

Salah satu bagian dari pidato itu berbunyi sebagai berikut, :In my vision of peace, two peoples live freely, side-by-side, in amity and mutual respect. Each will have its own flag, its own national anthem, its own government”.

Kemudian di bagian penutup pidato itu berbunyi, “I call on the leaders of the Arab world and on the Palestinian leadership, let us continue together on the path of Menahem Begin and Anwar Sadat, Yitzhak Rabin and King Hussein. Let us realize the vision of the prophet Isaiah, who in Jerusalem 2700 years ago said: “nations shall not lift up sword against nation, and they shall learn war no more. With God’s help, we will know no more war. We will know peace”.

Bendera Israel & Palestina

Ya betul, dengan pertolongan Tuhan — tanpa membedakan suku, agama, ras dan golongan — seharusnya memang tak perlu lagi ada PEPERANGAN !

Bahkan Tuhan sendiripun, dengan segala keagungan dan kemuliaan-Nya, pastilah sudah sangat lama menunggu agar umat kesayangan-Nya sungguh mau terdorong, tergerak dan bertindak secara nyata untuk mewujudkan PERDAMAIAN & KEAMANAN itu.

Indahnya kata-kata dalam pidato Benjamin Netanyahu di pertengahan bulan Juni ini, semakin menguatkan secercah harapan yang ada di hati rakyat Palestina dan Israel. Dan sulit untuk tidak mempercayai figur Benjamin Netanyahu, sebab pastilah ia bukan tipikal yang asal ngecap, asal bunyi, asal ngember, dan asal “TEBAR PESONA” untuk mempertontonkan retorika-retorika yang mendunia.

Benjamin Netanyahu tentu tahu konsenkuensi dari sebuah JANJI yang disampaikan dari mulut seorang pemimpin yaitu janji itu haruslah ditepati secepatnya secara baik dan benar. Mengikis semua permusuhan dan peperangan yang gendang kebenciannya sudah menelan begitu banyak korban nyawa, harta, benda dan nilai-nilai kemanusiaan yang paling mendasar.

Sekali lagi, kami mengulangi bahwa korban terbesar dari peperangan yang penuh “keabadian” ini adalah anak-anak dan perempuan.

Sekali lagi, kami mengulangi bahwa kepedihan dari peperangan yang penuh “keabadian” ini adalah berterbangannya nyawa secara sia-sia tanpa ada yang bisa menyatakan dirinya sebagai pemenang yang berhak meraih dan mengangkat piala arogansi yang berkilauan.

Sebab, piala dari peperangan itu tak akan pernah mengeluarkan kilauan yang indah dan memukau semua mata yang memandang. Sebab, piala dalam medan pertempuan adalah piala yang berlumuran darah dan airmata.

Setiap pemimpin dunia di muka bumi ini, terutama yang terkait dalam upaya mendamaikan Israel dan Palestina — termasuk yang secara gigih mendorong berdirinya negara PALESTINA yang merdeka — pasti dengan mudah menyuarakan pidato-pidato yang indah, yaitu pidato yang penuh dengan kata-kata yang berbumbu, bersayap dan berasesori sangat padat.

Sehingga kadang-kadang, orang yang mendengarkan saja sudah kebingungan. Apakah harus mengagumi dan mempercayai pidato itu, atau malah mengutuk dan tidak mempercayai semua rangkaian kata yang seakan-akan sungguh tak bermakna karena terkesn OMDO alias OMONG DOANG.

Photo by GPO

Tapi semoga, apa yang dipidatokan oleh Benjamin Netanyahu, bukanlah bagian dari pidato yang penuh retorika dan omong kosong berkepanjangan.

Atmosfir kekerasan yang menyelimuti langit di atas Israel dan Palestina, sudah tak bisa menunggu terlalu lama. Sudah tak mungkin dipaksa untuk diam tak bergeming untuk mendengarkan lebih banyak lagi pidato demi pidato dari seluruh pemimpin dunia yang hobi atau kemampuannya cuma berpidato saja dari kejauhan untuk mendorong Israel dan Palestina berdamai.

Apa arti dari seruan-seruan jarak jauh, jika ternyata pada prakteknya di lapangan dentuman bom dan rentetan tembakan masih merajalela di garis terdepan peperangan itu sendiri ?

Itulah sebabnya, meminjam sebuah judul lagu yang sedang “naik daun” di Indonesia ini, ingin rasanya menyampaikan sebuah harapan yang lebih kuat kepada Benjamin Netanyahu & Israel :

“SUARA, DENGARKANLAH AKU … !”

Dengarkanlah aku, dan semua warga dunia yang ingin agar peperangan itu benar-benar dihentikan. Kasihani kami dan semua rakyat disana (di Israel dan Palestina) yang mendambakan agar mubazirnya nyawa yang berterbangan selama ini dalam nafas peperangan yang brutal, segera dihentikan !

Dengarkanlah aku dan semua warga dunia yang ingin agar kehidupan di Israel dan Palestina sungguh berjalan dengan sangat apa adanya yaitu kehidupan yang aman, nyaman, tenteram dan tidak dengan mudah membunuhi siapa saja yang dianggap sebagai lawan atau musuh bebuyutan !

Dengarkanlah aku dan semua warga dunia yang sangat tersayat hatinya bila mendengar atau melihat tayangan-tayangan gambar pada pemberitaan media massa, begitu banyak anak-anak, perempuan, kaum lansia dan rakyat kecil yang tak berdaya menjadi korban keganasan amunisi-amunisi arogansi antar pihak yang bertikai dalam semua lini peperangan di muka bumi ini — khususnya di Israel dan Palestina –.

“Suara, DENGARKANLAH AKU !”

Memang hanya bagian judul yang kami pinjam untuk mewakili kuatnya harapan tentang mendesaknya perdamaian dan keamanan di kawasan Israel dan Palestina.

Tapi bila peperangan itu sungguh diakhiri, tak mustahil lagu yang sangat indah berjudul “SUARA, DENGARKANLAH AKU !” ini bisa dinyanyikan dengan hati yang sangat hidup dan penuh damai oleh siapapun yang ingin saling mencintai dan menjalin tali kasih antar 2 anak manusia yang ada di Israel dan Palestina bila nanti peperangan itu benar-benar diakhiri.

Saling mencintai dalam alam perdamaian yang sesungguhnya dan kesejatian.

Benjamin Netanyahu, DENGARKANLAH AKU, tepati janjimu hai kesatria sejati ! Dan lakukan segala sesuatu yang baik (demi kemanusiaan), untuk KEMULIAAN ALLAH.

Ad Majorem Dei Gloriam.

(ms)

L A M P I R A N :

Pidato Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu Yang Terfokus Pada Komitmen Untuk Mewujudkan Perdamaian Dan Keamanan
Address by Prime Minister Benjamin Netanyahu at the Begin-Sadat (BESA) Center for Strategic Studies, Bar-Ilan University (June 14, 2009)

Honored guests, citizens of Israel.

Peace has always been our peoples most ardent desire. Our prophets gave the world the vision of peace, we greet one another with wishes of peace, and our prayers conclude with the word peace.

We are gathered this evening in an institution named for two pioneers of peace, Menachem Begin and Anwar Sadat, and we share in their vision.

Two and half months ago, I took the oath of office as the Prime Minister of Israel. I pledged to establish a national unity government – and I did. I believed and I still believe that unity was essential for us now more than ever as we face three immense challenges – the Iranian threat, the economic crisis, and the advancement of peace.

The Iranian threat looms large before us, as was further demonstrated yesterday. The greatest danger confronting Israel, the Middle East, the entire world and human race, is the nexus between radical Islam and nuclear weapons. I discussed this issue with President Obama during my recent visit to Washington, and I will raise it again in my meetings next week with European leaders. For years, I have been working tirelessly to forge an international alliance to prevent Iran from acquiring nuclear weapons.

Confronting a global economic crisis, the government acted swiftly to stabilize Israels economy. We passed a two year budget in the government – and the Knesset will soon approve it.

And the third challenge, so exceedingly important, is the advancement of peace. I also spoke about this with President Obama, and I fully support the idea of a regional peace that he is leading.

I share the Presidents desire to bring about a new era of reconciliation in our region. To this end, I met with President Mubarak in Egypt, and King Abdullah in Jordan, to elicit the support of these leaders in expanding the circle of peace in our region. I turn to all Arab leaders tonight and I say: “Let us meet. Let us speak of peace and let us make peace.” I am ready to meet with you at any time. I am willing to go to Damascus, to Riyadh, to Beirut, to any place- including Jerusalem.

I call on the Arab countries to cooperate with the Palestinians and with us to advance an economic peace. An economic peace is not a substitute for a political peace, but an important element to achieving it. Together, we can undertake projects to overcome the scarcities of our region, like water desalination or to maximize its advantages, like developing solar energy, or laying gas and petroleum lines, and transportation links between Asia, Africa and Europe.

The economic success of the Gulf States has impressed us all and it has impressed me. I call on the talented entrepreneurs of the Arab world to come and invest here and to assist the Palestinians – and us – in spurring the economy. Together, we can develop industrial areas that will generate thousands of jobs and create tourist sites that will attract millions of visitors eager to walk in the footsteps of history – in Nazareth and in Bethlehem, around the walls of Jericho and the walls of Jerusalem, on the banks of the Sea of Galilee and the baptismal site of the Jordan. There is an enormous potential for archeological tourism, if we can only learn to cooperate and to develop it.

I turn to you, our Palestinian neighbors, led by the Palestinian Authority, and I say: Lets begin negotiations immediately without preconditions.

Israel is obligated by its international commitments and expects all parties to keep their commitments. We want to live with you in peace, as good neighbors. We want our children and your children to never again experience war: that parents, brothers and sisters will never again know the agony of losing loved ones in battle; that our children will be able to dream of a better future and realize that dream; and that together we will invest our energies in plowshares and pruning hooks, not swords and spears.

I know the face of war. I have experienced battle. I lost close friends, I lost a brother. I have seen the pain of bereaved families. I do not want war. No one in Israel wants war.

If we join hands and work together for peace, there is no limit to the development and prosperity we can achieve for our two peoples – in the economy, agriculture, trade, tourism and education – most importantly, in providing our youth a better world in which to live, a life full of tranquility, creativity, opportunity and hope.

If the advantages of peace are so evident, we must ask ourselves why peace remains so remote, even as our hand remains outstretched to peace? Why has this conflict continued for more than sixty years?

In order to bring an end to the conflict, we must give an honest and forthright answer to the question: What is the root of the conflict?

In his speech to the first Zionist Conference in Basel, the founder of the Zionist movement, Theodore Herzl, said about the Jewish national home “This idea is so big that we must speak of it only in the simplest terms.” Today, I will speak about the immense challenge of peace in the simplest words possible.

Even as we look toward the horizon, we must be firmly connected to reality, to the truth. And the simple truth is that the root of the conflict was, and remains, the refusal to recognize the right of the Jewish people to a state of their own, in their historic homeland.

In 1947, when the United Nations proposed the partition plan of a Jewish state and an Arab state, the entire Arab world rejected the resolution. The Jewish community, by contrast, welcomed it by dancing and rejoicing. The Arabs rejected any Jewish state, in any borders.

Those who think that the continued enmity toward Israel is a product of our presence in Judea, Samaria and Gaza, is confusing cause and consequence. The attacks against us began in the 1920s, escalated into a comprehensive attack in 1948 with the declaration of Israels independence, continued with the fedayeen attacks in the 1950s, and climaxed in 1967, on the eve of the Six-Day War, in an attempt to tighten a noose around the neck of the State of Israel. All this occurred during the fifty years before a single Israeli soldier ever set foot in Judea and Samaria.

Fortunately, Egypt and Jordan left this circle of enmity. The signing of peace treaties have brought about an end to their claims against Israel, an end to the conflict. But to our regret, this is not the case with the Palestinians. The closer we get to an agreement with them, the further they retreat and raise demands that are inconsistent with a true desire to end the conflict.

Many good people have told us that withdrawal from territories is the key to peace with the Palestinians. Well, we withdrew. But the fact is that every withdrawal was met with massive waves of terror, by suicide bombers and thousands of missiles.

We tried to withdraw with an agreement and without an agreement. We tried a partial withdrawal and a full withdrawal. In 2000 and again last year, Israel proposed an almost total withdrawal in exchange for an end to the conflict, and twice our offers were rejected. We evacuated every last inch of the Gaza strip, we uprooted tens of settlements and evicted of Israelis from their homes, and in response, we received a hail of missiles on our cities, towns and children.

The claim that territorial withdrawals will bring peace with the Palestinians, or at least advance peace, has up till now not stood the test of reality. In addition to this, Hamas in the south, like Hizbullah in the north, repeatedly proclaims their commitment to “liberate” the Israeli cities of Ashkelon, Beersheba, Acre and Haifa.

Territorial withdrawals have not lessened the hatred, and to our regret, Palestinian moderates are not yet ready to say the simple words: Israel is the nation-state of the Jewish people, and it will stay that way.

Achieving peace will require courage and candor from both sides, and not only from the Israeli side. The Palestinian leadership must arise and say: “Enough of this conflict. We recognize the right of the Jewish people to a state of their own in this land, and we are prepared to live beside you in true peace.”

I am yearning for that moment, for when Palestinian leaders say those words to our people and to their people, then a path will be opened to resolving all the problems between our peoples, no matter how complex they may be. Therefore, a fundamental prerequisite for ending the conflict is a public, binding and unequivocal Palestinian recognition of Israel as the nation state of the Jewish people. To vest this declaration with practical meaning, there must also be a clear understanding that the Palestinian refugee problem will be resolved outside Israels borders. For it is clear that any demand for resettling Palestinian refugees within Israel undermines Israels continued existence as the state of the Jewish people.

The Palestinian refugee problem must be solved, and it can be solved, as we ourselves proved in a similar situation. Tiny Israel successfully absorbed tens of thousands of Jewish refugees who left their homes and belongings in Arab countries. Therefore, justice and logic demand that the Palestinian refugee problem be solved outside Israels borders. On this point, there is a broad national consensus. I believe that with goodwill and international investment, this humanitarian problem can be permanently resolved.

So far I have spoken about the need for Palestinians to recognize our rights. In am moment, I will speak openly about our need to recognize their rights. But let me first say that the connection between the Jewish people and the Land of Israel has lasted for more than 3500 years. Judea and Samaria, the places where Abraham, Isaac, and Jacob, David and Solomon, and Isaiah and Jeremiah lived, are not alien to us. This is the land of our forefathers.

The right of the Jewish people to a state in the land of Israel does not derive from the catastrophes that have plagued our people. True, for 2000 years the Jewish people suffered expulsions, pogroms, blood libels, and massacres which culminated in a Holocaust – a suffering which has no parallel in human history. There are those who say that if the Holocaust had not occurred, the state of Israel would never have been established. But I say that if the state of Israel would have been established earlier, the Holocaust would not have occured.

This tragic history of powerlessness explains why the Jewish people need a sovereign power of self-defense. But our right to build our sovereign state here, in the land of Israel, arises from one simple fact: this is the homeland of the Jewish people, this is where our identity was forged.

As Israels first Prime Minister David Ben-Gurion proclaimed in Israels Declaration of Independence: “The Jewish people arose in the land of Israel and it was here that its spiritual, religious and political character was shaped. Here they attained their sovereignty, and here they bequeathed to the world their national and cultural treasures, and the most eternal of books.”

But we must also tell the truth in its entirety: within this homeland lives a large Palestinian community. We do not want to rule over them, we do not want to govern their lives, we do not want to impose either our flag or our culture on them.

In my vision of peace, in this small land of ours, two peoples live freely, side-by-side, in amity and mutual respect. Each will have its own flag, its own national anthem, its own government. Neither will threaten the security or survival of the other. These two realities – our connection to the land of Israel, and the Palestinian population living within it – have created deep divisions in Israeli society. But the truth is that we have much more that unites us than divides us.

I have come tonight to give expression to that unity, and to the principles of peace and security on which there is broad agreement within Israeli society. These are the principles that guide our policy. This policy must take into account the international situation that has recently developed. We must recognize this reality and at the same time stand firmly on those principles essential for Israel.

I have already stressed the first principle – recognition. Palestinians must clearly and unambiguously recognize Israel as the state of the Jewish people.

The second principle is: demilitarization. The territory under Palestinian control must be demilitarized with ironclad security provisions for Israel. Without these two conditions, there is a real danger that an armed Palestinian state would emerge that would become another terrorist base against the Jewish state, such as the one in Gaza. We don want Kassam rockets on Petach Tikva, Grad rockets on Tel Aviv, or missiles on Ben-Gurion airport. We want peace.

In order to achieve peace, we must ensure that Palestinians will not be able to import missiles into their territory, to field an army, to close their airspace to us, or to make pacts with the likes of Hizbullah and Iran. On this point as well, there is wide consensus within Israel. It is impossible to expect us to agree in advance to the principle of a Palestinian state without assurances that this state will be demilitarized. On a matter so critical to the existence of Israel, we must first have our security needs addressed.

Therefore, today we ask our friends in the international community, led by the United States, for what is critical to the security of Israel: Clear commitments that in a future peace agreement, the territory controlled by the Palestinians will be demilitarized: namely, without an army, without control of its airspace, and with effective security measures to prevent weapons smuggling into the territory – real monitoring, and not what occurs in Gaza today. And obviously, the Palestinians will not be able to forge military pacts. Without this, sooner or later, these territories will become another Hamastan. And that we cannot accept.

I told President Obama when I was in Washington that if we could agree on the substance, then the terminology would not pose a problem. And here is the substance that I now state clearly:

If we receive this guarantee regarding demilitirization and Israels security needs, and if the Palestinians recognize Israel as the State of the Jewish people, then we will be ready in a future peace agreement to reach a solution where a demilitarized Palestinian state exists alongside the Jewish state.

Regarding the remaining important issues that will be discussed as part of the final settlement, my positions are known: Israel needs defensible borders, and Jerusalem must remain the united capital of Israel with continued religious freedom for all faiths. The territorial question will be discussed as part of the final peace agreement. In the meantime, we have no intention of building new settlements or of expropriating additional land for existing settlements.

But there is a need to enable the residents to live normal lives, to allow mothers and fathers to raise their children like families elsewhere. The settlers are neither the enemies of the people nor the enemies of peace. Rather, they are an integral part of our people, a principled, pioneering and Zionist public.

Unity among us is essential and will help us achieve reconciliation with our neighbors. That reconciliation must already begin by altering existing realities. I believe that a strong Palestinian economy will strengthen peace.

If the Palestinians turn toward peace – in fighting terror, in strengthening governance and the rule of law, in educating their children for peace and in stopping incitement against Israel – we will do our part in making every effort to facilitate freedom of movement and access, and to enable them to develop their economy. All of this will help us advance a peace treaty between us.

Above all else, the Palestinians must decide between the path of peace and the path of Hamas. The Palestinian Authority will have to establish the rule of law in Gaza and overcome Hamas. Israel will not sit at the negotiating table with terrorists who seek their destruction. Hamas will not even allow the Red Cross to visit our kidnapped soldier Gilad Shalit, who has spent three years in captivity, cut off from his parents, his family and his people. We are committed to bringing him home, healthy and safe.

With a Palestinian leadership committed to peace, with the active participation of the Arab world, and the support of the United States and the international community, there is no reason why we cannot achieve a breakthrough to peace.

Our people have already proven that we can do the impossible. Over the past 61 years, while constantly defending our existence, we have performed wonders.

Our microchips are powering the worlds computers. Our medicines are treating diseases once considered incurable. Our drip irrigation is bringing arid lands back to life across the globe. And Israeli scientists are expanding the boundaries of human knowledge. If only our neighbors would respond to our call – peace too will be in our reach.

I call on the leaders of the Arab world and on the Palestinian leadership, let us continue together on the path of Menahem Begin and Anwar Sadat, Yitzhak Rabin and King Hussein. Let us realize the vision of the prophet Isaiah, who in Jerusalem 2700 years ago said: “nations shall not lift up sword against nation, and they shall learn war no more.”

With Gods help, we will know no more war. We will know peace.

BENJAMIN_NETANYAHU

L A M P I R A N :

Menanti Sang Prajurit Komando Bernama BENJAMIN NETANYAHU Menepati Janjinya Mewujudkan Perdamaian & Keamanan

Jakarta 8/6/2009 (KATAKAMI) Pekan ini, rencananya Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu akan menyampaikan pidato kebijakannya yang akan mencakup masalah perdamaian dan keamanan. Hal itu disampaikannya dalam rapat kabinet di negaranya hari Minggu (7/6/2009) kemarin. Netanyahu menegaskan misi penting kabinetnya untuk meraih perdamaian dengan Palestina dan Negara-Negara Arab.

Atau, tepatnya yang diucapkan oleh Perdana Menteri Netanyahu adalah :

“We want to achieve peace with the Palestinians and with the countries of the Arab world, while attempting to reach maximum understanding with the US and our friends around the world. My aspiration is to achieve a stable peace that rests on a solid foundation of security for the State of Israel and its citizens. Next week, I will make a major diplomatic speech in which I will present the citizens of Israel with our principles for achieving peace and security. Ahead of the speech, I intend to listen to the opinions of the coalition partners and other elements among the Israeli public.”

Sinyalemen dari bapak 3 anak ini, cukup positif dan tentu dinantikan oleh semua pihak. Tentu saja ini dinantikan karena kebijakan yang akan dijabarkan oleh kabinet baru yang dipimpim Netanyahu ini akan sangat menentukan bagaimana masa depan rekonsiliasi antara Israel dan Palestina.

Kabinet yang dilantik pada 31 Maret 2009 ini, diharapkan oleh semua pihak untuk bisa menjadi motor penggerak yang akan membawa Israel dan Palestina bisa secara nyata bertetangga dengan baik. Walaupun sebenarnya, praktek di lapangan akan sangat sulit.

Berbicara mengenai mengenai Palestina, maka semua pihak harus mengakui bahwa ada “unsur” HAMAS yang sangat radikal didalamnya.

Dan sepanjang tingkat radikalisme HAMAS tak bisa dikendalikan atau mengendalikan diri maka kebijakan-kebijakan yang dibuat sangat positif oleh Israel dan Palestina, akan menjadi sia-sia. Jangan ada lagi provokasi yang disengaja untuk memancing kemarahan atau memicu peperangan. Jangan ada lagi provokasi tak bersahabat lewat dentuman ratusan mortir HAMAS yang menari-nari dalam menggempur ISRAEL di malam Natal, malam sakral yang sangat dihormati oleh Umat Kristiani diseluruh dunia. Akibatnya, pecahlah peperangan sengit yang sangat memedihkan hati semua bangsa didunia ini periode akhir tahun 2008 sampai memasuki minggu-minggu pertama di awal tahun 2009 lalu.

Dan kini, pernyataan dan pengakuan dari Netanyahu bahwa pihaknya siap untuk mewujudkan perdamaian dengan Palestina dan Negara-Negara Arab, adalah poin penting yang harus digaris-bawahi oleh semua pihak. Artinya, dengan menggaris-bawahi itikat baik dari Israel menjalin dan mewujudkan perdamaian tadi, perlu didukung.

Dukungan internasional terhadap “ROAD MAP” atau “PETA JALAN” menuju perdamaian tadi, jangan diimplementasikan lewat tutur kata, perbuatan atau kebijakan yang terkesan menggurui dan memaksa Israel agar sepenuhnya berada dibawah kendali pihak lain diluar kedua belah pihak yang “head to head” berhadap-hadapan di lapangan yaitu Israel dan Palestina.

Bayangkan jika sebuah negara, terlukai martabatnya hanya karena terkesan digurui atau dikendalikan.

Percayakanlah saja bahwa sepenuhnya pernyataan dan pengakuan Kabinet Netanyahu memang akan diwujudkan sebagaimana mestinya.

Click to enlargeNetanyahu, berlatar-belakang militer.

Netanyahu, berlatar-belakang militer.

Jika membaca rekam jejak perjalanan kariernya, tahun 1967-1972 Netanyahu bergabung menjadi PASUKAN KOMANDO KHUSUS / PASUKAN ELITE ISRAEL (semacam Pasukan Kopassus kalau di Indonesia). Bahkan ia ikut dalam operasi khusus yang membanggakan seperti operasi penyelamatan terhadap pembajakan pesawat Sabena tahun 1972.

Jiwa “Komando” yaitu prajurit sejati yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah misi khusus yang sangat penting, akan tetap terpatri sampai kapanpun dalam diri Netanyahu.

Jiwa “Komando” yaitu prajurit yang dilatih dengan kemampuan khusus yang sangat tinggi dan hebat, tetap diharuskan menghormati dan mengedepankan keselamatan perempuan dan anak-anak.

Disini, Netanyahu tentu menyadari di kedalaman hatinya bahwa jika pertempuran dan perseteruan yang berkepanjangan, berlarut-larut dan tak pernah berkesudahan sepanjang masa, sudah dapat dipastikan hanya akan memperbanyak jumlah korban di pihak sipil yang didalamnya terdapat begitu banyak anak-anak dan perempuan dari kedua belah pihak (Israel dan Palestina).

Tolong, jangan lagi ada peperangan yang sangat berkepanjangan. Dengarkan jerit tangis anak-anak dan perempuan yang menjadi sangat tersiksa dan tercekam dalam api peperangan yang sangat mengerikan. Jangankan untuk mendapatkan mimpi indah dalam tidur di siang atau malam hari, bahkan untuk tidur pun sudah tak ada yang berani jika api peperangan itu berkobar tanpa henti.

Sara and Binyamin NetanyahuNetanyahu honors his late brotherPhoto(china)photo (school)

Dalam kehidupan di muka bumi ini, semua orang pasti sudah pernah mendengar kalimat indah yang mengatakan bahwa “Surga Berada Di Telapak Kaki Ibu”.

Itu menandakan bahwa kaum perempuan, adalah sentral dari misi perdamaian yang perlu dicapai oleh negara manapun yang berlomba memuntahkan amunisi-amunisi peperangan yang mematikan.

Tetapi, didalam injil juga disebutkan hal lain yang berkaitan dengan surga yaitu anak-anak kecil adalah pihak yang paling diutamakan oleh Surga.

Ini bukan dimaksudkan bahwa setiap pertempuran atau peperangan di belahan manapun didunia ini, sangat sah dan dapat ditolerir jika menembaki pihak musuhnya tetapi ribuan anumisi atau ledakan-ledakan mortir mematikan itu justru menewaskan anak-anak kecil (bahkan bayi).

Pemahamannya justru harus dibalik bahwa dalam kehidupan secara universal, keselamatan anak-anak harus diutamakan dan dikedepankan.

Tanpa bermaksud untuk menyalahkan pihak manapun juga di Israel dan Palestina, cobalah hitung berapa perempuan dan anak-anak yang sudah bertumbangan dan berterbangan nyawanya karena gempuran sengit kalangan bersenjata.

Pidato kebijakan yang akan disampaikan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjadi secercah harapan baru tentang akan terwujudnya perdamaian dan keamanan di Timur Tengah, terutama antara Israel dan Palestina.

Kesatria sejati tidak akan pernah menarik ucapannya, jika ucapan itu telah dikumandangkan secara resmi dan terbuka.

Kesatria sejati tidak akan pernah mengingkari janjinya, jika nafas utama dari janji itu adalah untuk ikut berpartisipasi dalam mewujudkan perdamaian dan keamanan dunia.

Kesatria sejati tidak akan pernah “lagi” menutup mata hati dan mata imannya terhadap perlunya melindungi dan tetap membiarkan anak-anak dan perempuan pada umumnya di kawasan Israel dan Palestina dapat hidup dengan tenteram dan damai (bukan justru hidup dalam belenggu peperangan yang jika salah melangkah sedikit saja, bisa berakibat fatal yaitu tewas tertembus peluru dari dua kubu yang tak henti berperang).

Dan kami sungguh mempercayai bahwa seorang Benjamin Netanyahu adalah kesatria sejati dan prajurit “Komando” yang akan bersungguh-sungguh melaksanakan ucapannya.

Semua pihak tentu menunggu dengan penuh harapan bahwa perdamaian dan keamanan yang sejati itu, bukan sekedar isapan jempol atau angan-angan yang mustahil menjadi kenyataan.

Sepanjang Israel memang satu suara dan satu antara perkataan serta perbuatannya, maka dalam mewujudkan perdamaian dan keamanan itu tak diperlukan banyak campur tangan dari pihak manapun.

Didalam injilpun disebutkan, apa sebenarnya dan bagaimana sesungguhnya yang Tuhan inginkan dari setiap negara atau setiap bangsa di muka bumi ini,

“Sungguh, Alangkah Baiknya & Indahnya, Apabila Saudara-Saudara Diam (Hidup) Bersama Dengan Rukun (Damai)” (Mazmur 133).

Sehingga, dengan segala daya nalar dan logika dari akal sehat yang tetap dimiliki oleh semua anak manusia di muka bumi ini, “janji” untuk mewujudkan perdamaian dan keamanan yang sejati itu dinantikan dari Benjamin Netanyahu.

Just do it and please go for it, Sir !

Prajurit dari PASUKAN ELITE yang sejati, tak akan pernah mengingkari nilai paling hakiki yang ditanamkan dalam jiwa dan raganya bahwa apa yang terbaik baik “rakyat” secara keseluruhan, maka itulah yang terbaik untuk dilakukan.

KOMANDO !!!

(MS)

Laman Berikutnya »

Blog di WordPress.com.