KATAKAMI KATAKAMI

Juni 16, 2009

Requiescat In Pace, Semoga Beristirahat Dalam Damai Bagi Politisi Senior Almarhum DR. SUTRADARA GINTINGS

Filed under: katakami,pdi perjuangan,sutradara gintings,world news — katakamikatakami @ 4:12 pm


Sutradara Gintings

Sutradara Gintings

Oleh : MEGA SIMARMATA, Pemred

JAKARTA (KATAKAMI) Sungguh sangat tersentak hati kami begitu mengetahui wafatnya Sutradara Gintings, Anggota Komisi I DPR-RI dari Fraksi PDI Perjuangan.

Sutradara Gintings meninggal dunia di Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) Jakarta, Minggu dinihari sekitar pukul 00.25 WIB akibat penyakit jantung. Sebelum meninggal, ia sempat dilarikan ke rumah sakit itu pukul 20.00 WIB.

Sutradara Gintings lahir di Karo, Sumatra Utara, 4 Juni 1952. Di dunia politik, Sutradara Gintings semula dikenal sebagai anggota Fraksi Karya Pembangunan (FKP) semasa Orde Baru. Ia juga pernah menjadi pengurus DPP Golkar.

Izinkan kami menyampaikan belasungkawa dan ungkapan duka yang sedalam-dalamnya atas wafatnya SUTRADARA GINTINGS, politisi senior yang sangat pintar, kritis dan begitu peka pada setiap permasalahan bangsa.

1-gintings

Pemimpin Redaksi KATAKAMI Mega Simarmata cukup dekat dengan SUTRADARA GINTINGS semasa hidupnya. Artinya, banyak persoalan di bidang politik, hukum dan keamanan ditanyakan kepada SUTRADARA GINTINGS untuk kami muat menjadi berita.

Satu hal yang sangat berkesan dari SUTRADARA GINTINGS adalah komitmennya yang tinggi untuk upaya penegakan hukum yang konsisten dan penghormatan terhadap hak azasi manusia.

“ONE SHOOT DIE” atau sekali tembak harus mati.

Inilah pandangan Almarhum yang tak akan pernah bisa dilupakan oleh KATAKAMI.

SUTRADARA GINTINGS menyampaikan pendapatnya tentang “ONE SHOOT DIE” tadi, dalam kaitan pelaksanaan eksekusi mati di Indonesia.

Sutradara Gintings & Jeffrey Massie (Rekan Sesama Anggota Komisi I DPR)

Sutradara Gintings & Jeffrey Massie (Rekan Sesama Anggota Komisi I DPR)

Beliau yang mengajari kami untuk terus “mengejar” hal ini kepada aparat penegak hukum dalam pelaksanaan eksekusi mati.

Kami ingin menyampaikan hormat yang tinggi kepada SUTRADARA GINTINGS. Semoga saja ia mengetahui bahwa sebenarnya “tekanan” agar aparat penegak hukum menghormati dan melaksanakan pelaksanaan hukuman mati yang sangat prosedural itu sudah terlaksana. Walaupun nasibnya harus berujung di lokasi penembakan, SUTRADARA GINTINGS concern agar terpidana mati tetap “dihormati” dan tidak “dibantai” dengan begitu banyak peluru tajam.

Atas kritikan dan gencarnya kami menuliskan tentang perlunya pelaksanaan eksekusi mati yang sangat prosedural sesuai ketentuan hukum, didengar dan diakomodir oleh KEJAKSAAN AGUNG sebagai Pihak Eksekutor.

Sejak UU Nomor 2/1964/PNPS Tentang Tata Cara Pelaksanaan Hukuman Mati dikeluarkan, tidak ada satu pasalpun didalam UU itu yang mengatur berapa jumlah peluru yang bisa digunakan dalam pelaksanaan hukuman mati di Indonesia.

Sketsa Amrozi

Sketsa Amrozi

Kami konsisten menyoroti hal tersebut semata-mata karena mendapat masukan dan “ilmu” dari SUTRADARA GINTINGS.

Perjuangkan penegakan hukum dalam pelaksanaan hukuman mati itu harus mengikuti standar hukum yang berlaku di dunia.

ONE SHOOT DIE maksudnya adalah dari sekian banyak polisi yang tergabung dalam regu tembak, tidak semua yang senapannya berisi peluru tajam sebab hanya 1 peluru tajam yang diperbolehkan STANDAR INTERNASIONAL untuk melaksanakan hukuman mati.

Dan dengan satu peluru tajam itu, terpidana harus MATI.

SUTRADARA GINTINGS concern terhadap hal ini agar jangan ada brutalisme dalam pelaksanaan hukuman mati. Sehingga POLRI harus memilih regu tembak yang sangat cakap dan tinggi kemampuannya dalam hal menembak.

SUTRADARA GINTINGS mengecam jika seandainya dalam pelaksanaan hukuman mati yang menggunakan begitu banyak peluru tajam.

Dan pengaturan tentang jumlah peluru yang secara hukum dibenarkan untuk melaksanakan hukuman mati, harus diatur dalam UU. Atau paling tidak, ada produk hukum setingkat dibawah UU yang mengatur hal itu.

Seandainya masyarakat menyimak sejak setahun terakhir ini tentang pelaksanaan hukuman mati maka kami harus memberitahukan bahwa ada peran atau jasa dari SUTRADARA GINTINGS dalam mendorong penegakan hukum yang sesuai dengan standar hukum internasional dan nilai-nilai kemanusiaan.

Jaksa Agung

Jaksa Agung

Kami berterimakasih secara khusus kepada JAKSA AGUNG HENDARMAN SUPANDJI yang sangat terbuka pada semua saran, kritikan dan masukan. Berbagai analisa, masukan, wawancara, kritikan dan semua informasi terkait pelaksanaan hukuman mati yang kami sampaikan selama ini, ditampung dan dijadikan masukan yang sangat berarti.

Salah satunya adalah masukan tentang ONE SHOOT DIE. Sebagai EKSEKUTOR, Kejaksaan Agung akhirnya memegang teguh prinsip ONE SHOOT DIE ini.

Tak cuma pada pelaksanaan eksekusi mati AMROZI CS (Oktober 2008), dalam beberapa pelaksanaan hukuman mati sebelum Amrozi CS ketetapan tentang ONE SHOOT DIE tadi sudah dilaksanakan secara benar di lapangan.

Hati kami sangat sedih atas kabar duka tentang meninggalnya SUTRADARA GINTINGS. Almarhum adalah narasumber yang sangat membanggakan. Almarhum juga sahabat dan kakak yang sangat peduli serta penuh perhatian.

Sutradara Gintings (Kompas, 2001)

Sutradara Gintings (Kompas, 2001)

Beberapa hari lalu kami masih melakukan kontak lewat SMS.

“Jadi sampai saat ini, KATAKAMI masih diganggu, Meg ?” tanya Almarhum SUTRADARA GINTINGS kepada Pemimpin Redaksi Mega Simarmata baru-baru ini, terkait aksi pengrusakan KATAKAMI bila menyajikan topik tertentu untuk dimuat di KATAKAMI.

“Sampai saat ini masih Bang, tapi hanya untuk tulisan tertentu saja,” terutama tulisan tentang BANDAR NARKOBA LIEM PIEK KIONG alias SI MONAS itu. Biasalah Bang, orang yang patut dapat diduga sebagai BEKING si bandar ini ketakutan dan panik kesetanan,” jawab Mega Simarmata.

Almarhum SUTRADARA GINTINGS termasuk yang sangat rutin dan sangat setia membaca tulisan-tulisan KATAKAMI. Semuanya itu dijadikan bahan masukan bagi tugas-tugasnya sebagai anggota DPR. Kini ia telah berpulang ke pangkuan ILAHI.

Sutradara Gintings

“Selamat Jalan Bang Gintings ! Kami sungguh sangat hormat dan berterimakasih untuk semua pemikiran terbaik dan dukungan selama ini. Ketetapan tentang ONE SHOOT DIE tadi, sudah dilaksanakan Bang. Kami akan sangat kehilangan Bang. Requiescat In Pace, Rest In Peace. Beristirahatlah dalam damai, Bang”.

Dan untuk menghormati serta mengenang Almarhum SUTRADARA GINTINGS, kami muat sebuah tulisan karya MEGA SIMARMATA mengenai pelaksanaan eksekusi mati, yaitu sebuah tulisan yang pernah dimuat di INILAH.COM, media tempat kami bekerja sebelum bergabung di KATAKAMI.COM.

Buah pikiran dari Almarhum SUTRADARA GINTINGS termuat didalamnya.

(MS)

LAMPIRAN :

Nusa Kambangan

ONE SHOOT DIE, SEKALI TEMBAK HARUS MATI !

Dimuat Di INILAH.COM tgl 22 Juli 2008

Mega Simarmata


INILAH.COM, Jakarta – Hukuman mati di Indonesia mengacu ke Belanda. Berlaku sejak 1918. Di Belanda sendiri, hukuman itu sudah ‘mati’ sejak 1870. Nah, lho! Soal lain, selama masih berlaku, eksekusinya harus pas. Sekali tembak harus mati!

Sebagian besar hukum yang berlaku di Indonesia memang peninggalan Belanda. Pengaruhnya begitu kuat. Maklum, Negeri Kincir Angin itu menjajah negeri ini 3,5 abad. Jadi, sangat berurat dan berakar, khususnya di bidang hukum.

Masalahnya, dinamika kehidupan di dunia ini terus berkembang. Perubahan terus terjadi. Itu, tentu, menuntut berbagai penyesuaian. Tak terkecuali di bidang hukum. Lebih khusus lagi, dalam konteks ini, ihwal hukuman mati.

Betulkah hukuman mati memberikan efek jera? Dan, kalaupun hendak terus diberlakukan seperti di sejumlah negara lain, tingkat pelanggaran seperti apa yang layak diganjar dengan hukuman mati? Lalu, teknis hukuman mati yang bagaimana yang dianggap terbaik?

Pertanyaan lain masih berderet. Intinya, pelaksanaan hukuman mati di Indonesia tak henti diperdebatkan. Kental dengan pro kontra. Di tengah situasi itu, dalam dua bulan terakhir, empat WNI (kasus pembunuhan) dan dua warga Nigeria (kasus narkoba) didor aparat.

Abdul Hakim Ritonga, Jaksa Agung Muda Pidana Umum (Jampidum) selaku pemutus final hukuman mati di Indonesia, bahkan mengibaratkan dirinya sebagai ‘pembunuh berdarah dingin’.

Jampidum Abdul Hakim Ritonga

Jampidum Abdul Hakim Ritonga

“Sejak Indonesia merdeka,” kata Ritonga kepada INILAH.COM, “sudah 112 orang mendapat vonis mati. Mereka terdiri atas 57 terpidana kasus narkoba, 52 kasus kejahatan umum, dan tiga kasus terorisme.”

Terkait metode hukuman mati, pernah mencuat keinginan mengubah, dari tembak mati ke suntik mati. Keinginan itu terlontar Jaksa Agung masih dijabat Abdul Rahman Saleh.

Keinginan itu, menurut Ritonga, belum diperdalam lagi. “Mungkin nanti, dalam perubahan UU, kemungkinan itu dimasukkan. Atas inisiatif Kejaksaan Agung, kami menyiapkan draf perubahan UU Grasi dan UU Nomor 2/1964/PNPS yang mengatur tata laksana hukuman mati,” jelasnya.

Pendapat berbeda disampaikan Sutradara Gintings, anggota Komisi I DPR-RI dari Fraksi PDI-P.

Sutradara Gintings

Ia bilang, “Dalam standar internasional, dikenal istilah one shoot die. Satu tembakan harus bisa mematikan. Jadi, Polri harus mampu memilih personel yang benar-benar terlatih dan berkemampuan tinggi untuk melaksanakan hukuman tembak mati. Ingat saja one shoot die.”

Gintings menambahkan, pemerintah juga harus mencermati payung hukum menyangkut jumlah peluru yang boleh digunakan Polri setiap kali melaksanakan hukuman tembak mati.

“Jika pegangannya hanya berdasarkan petunjuk tertulis Bareskrim, ya jelas sangat tidak cukup. Apa-apan ini? Tidak bisa dibiarkan polisi bikin sendiri petunjuknya. Ini negara hukum. Buat apa dihadirkan saksi jika pelaksanaan eksekusi mati belum didasarkan pada aturan yang jelas, mendetail, dan menjamin one shoot die itu,” kata Gintings.

Solahudin Wahid, mantan anggota Komnas HAM, pun terkejut begitu tahu bahwa sampai saat ini belum ada ketentuan hukum yang mengatur berapa jumlah peluru yang boleh ditembakkan ke tubuh terpidana mati.

“Jika tata laksana eksekusi mati itu diatur dalam UU Nomor 2/1964/ PNPS, otomatis aturan tentang jumlah peluru yang boleh digunakan regu tembak juga harus diatur dalam payung hukum yang levelnya setingkat di bawah UU, yaitu Peraturan Pemerintah. Jangan hanya petunjuk tertulis Bareskrim dong,” tegas Solahudin kepada INILAH.COM.

Seiring waktu, sambil terus mematangkan wacana tentang perlu tidaknya hukuman mati di Indonesia, satu hal yang sepatutnya diingat oleh Kejaksaan sebagai eksekutor dalam vonis mati adalah nilai-nilai kemanusiaan yang harus tetap diberikan kepada terpidana mati.

One shoot die! Satu tembakan saja sudah harus membuat terpidana betul-betul mati. Tidak sampai kelojotan menahan sakit dan menyambung nyawa dulu. Juga jangan sampai si terpidana dihajar dengan berondongan timah panas sebelum menemui ajalnya.

Iklan

Indonesia Kehilangan Seorang Putra Terbaik, In Memoriam DR. SUTRADARA GINTINGS

Sutradara Gintings

Jakarta 22 MARET 2009 (KATAKAMI) Kabar tentang wafatnya SUTRADARA GINTINGS, Anggota Komisi I DPR-RI dari Fraksi PDI Perjuangan, membuat airmata kami terus keluar setiap kali mengingat bagaimana keteladanan Almarhum semasa hidupnya sebagai seorang WAKIL RAKYAT.

Sepanjang 5 tahun terakhir, Komisi I DPR-RI adalah area peliputan kami dan gudangnya narasumber yang sangat berkompeten untuk bicara tentang masalah PERTAHANAN & KEAMANAN. Dan rata-rata dengan Anggota Komisi I DPR-RI ini, kami cukup dekat dan sangat bersahabat secara baik sekali. Perasaan kami sangat terpukul atas wafatnya SUTRADARA GINTINGS.

Dan selama hampir 5 tahun ini juga, SUTRADARA GINTINGS tidak pernah tidak menjawab semua telepon atau pesan singkat SMS. Almarhum juga sangat setia membaca tulisan-tulisan di KATAKAMI.COM sejak awal didirikan pada bulan Oktober 2008.

Hampir rata-rata, Anggota Komisi I DPR-RI sangat bersahaja dan memiliki tindak-tanduk yang sangat membumi. Mereka memahami tingginya tuntutan kerja para wartawan. Termasuk Almarhum SUTRADARA GINTINGS, beliau sosok yang sangat tegas tetapi kecerdasannya diatas rata-rata.

Setiap kali mengadakan Rapat Dengar Pendapat dengan JAJARAN POLHUKKAM, atau mengikuti rapat FIT AND PROPER TEST untuk posisi PANGLIMA TNI misalnya, SUTRADARA GINTINGS pasti datang lebih awal dan punya banyak referensi untuk menjadi rujukan informasi.

Jadwal rapat di Komisi I DPR-RI (setali tiga uang dengan jadwal rapat di Komisi III DPR-RI) biasanya marathon dari pagi sampai malam. Kalau sudah begitu, wartawan mesti “pintar-pintar” membagi waktu untuk mengisi perut pada jam makan siang misalnya.

Repotnya, kantin di sana relatif jauh jaraknya dari ruang rapat.

Saya biasanya mengakali situasi dan kondisi yang penuh “kendala” ini dengan menghampiri para Anggota Komisi I yang sangat dekat dengan saya.

Apalagi kalau bukan untuk meminta “jatah makan siang” mereka. Dan biasanya, kalau sudah diminta ransum makan siang pembagian untuk makan siang misalnya, tidak ada yang mengatakan “tidak boleh”.

Semua pasti membolehkan. Entah itu SUTRADARA GINTINGS, Ali Muchtar Ngabalin, Jeffrey Massie, Yorrys Raweyai dan yang lainnya. Mereka semua baik-baik. Bahkan yang lebih seru kalau misalnya harus liputan ke Komisi III dan bertemu dengan Panda Nababan. Sebab, ayah dari sahabat kami Putra Nababan (RCTI) ini lebih baik lagi.

Dan ada kenangan yang tak akan bisa terlupakan dari ALMARHUM SUTRADARA GINTINGS.

Yaitu saat Marsekal Djoko Suyanto akan mengikuti FIT AND PROPER TEST pada tahun 2006 lalu.

Jenderal Ryamizard Ryacudu

Jenderal Ryamizard Ryacudu

Setelah hampir selama 1,5 tahun dibuat “mengambang” terkait peluang Jenderal Ryamizard Ryacudu menjadi PANGLIMA TNI menggantikan Jenderal Endriartono Sutarto, akhirnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memilih Marsekal Djoko Suyanto sebagai CALON PANGLIMA TNI.

PDI Perjuangan tetap konsisten pada keputusan KETUA UMUM PDIP Megawati Soekarnoputri untuk “menjagokan” Jenderal Ryamizard Ryacudu. Sehingga, saat mendekati hari FIT AND PROPER itu timbul semacam kekuatiran bahwa PDIP akan “boikot” pada saat Marsekal Djoko Suyanto menjalani Uji Kepatutan Dan Kelayakan.

Hanya beberapa hari sebelum pelaksanaan FIT AND PROPER TEST, saya bersedia untuk menjadi MEDIATOR yang bertugas menjembatani antara Marsekal Djoko Suyanto dengan Ibu Megawati Soekarnoputri & Jenderal Ryamizard Ryacudu. Kebetulan, saya mengenal dengan sangat baik kedua tokoh ini yaitu Ibu Megawati & Jenderal Ryamizard Ryacudu.

Saya ingat betul, pada suatu hari di awal tahun 2006 itu ada sebuah acara. Dan dalam acara itu tampil sebagai pembicara adalah Jenderal Ryamizard Ryacudu. Lalu Mas Taufiq Kiemas dan Ibu Megawati ikut menghadiri acara ini guna mendengarkan isi dari pemaparan Jenderal Ryamizard Ryacudu.

Marsekal Djoko Suyanto yang sudah saya anggap sebagai abang saya ini, meminta untuk dijembatani kepada Ibu Megawati dan Jenderal Ryamizard. Artinya, sekedar untuk “permisi”.

Sepanjang seminar itu berlangsung, otak saya berputar untuk mencari “kalimat pembuka” bila nanti berbicara soal Marsekal Djoko Suyanto.

Megawati Soekarnoputri

Megawati Soekarnoputri

Ketika itu, yang pertama kali saya lobi adalah Ibu Megawati. Saat beliau duduk sendiri, saya “merapat” ke arah beliau.

“Kamu kemana saja ” tanya Megawati kepada Pemimpin Redaksi KATAKAMI Mega Simarmata.

“Ada Bu. Bu … saya mohon izin menyampaikan sesuatu. Saya mendapat amanat untuk menyampaikan salam hormat kepada Ibu” kata Mega Simarmata kepada Ibu Megawati.

“Salam dari sopo ?” tanya beliau.

“Mohon izin Bu, saya mau menyampaikan salam dari Marsekal Djoko Suyanto, calon Panglima TNI yang diajukan Pemerintah” jawab Mega Simarmata.

“Kenapa kirim salam ?” tanya Ibu Megawati.

“Ya … Gak kenapa-kenapa Bu. Beliau hanya menitipkan pesan demikian, salam hormat untuk Ibu Mega. Sebab Bu, Ibu tetap Keluarga Besar TNI Angkatan Udara. Beliau bilang, ada ikatan kekeluargaan sesama anggota Keluarga TNI AU. Sehingga, atas dasar itu beliau menitipkan salam hormat” kata Mega Simarmata dengan suara yang sangat sopan dan berhati-hati.

Mantan suami pertama Ibu Megawati, Lettu Surendro Supriarso adalah Penerbang TNI AU yang gugur dalam tugas penerbangannya ke Biak tahun 1971. Dari pernikahan ini, Megawati dikaruniai 2 orang anak lelaki yaitu Muhammad Rizki Pratama dan Muhammad Prananda.

Ibu Megawati terdiam cukup lama mendengarkan penjelasan tadi.

Presiden Megawati didampingi Panglima TNI & Semua Ka-Staf Angkatan (KSAD Jend. Ryamizard duduk paling kanan)

Presiden Megawati didampingi Panglima TNI & Semua Ka-Staf Angkatan (KSAD Jend. Ryamizard duduk paling kanan)

Lalu tiba-tiba, Ibu Megawati mengatakan seperti ini,”Mega, kamu tahu bahwa saya ini Ketua Umum Partai PDI Perjuangan. Saya harus konsisten untuk tetap berpegang pada keputusan sebelumnya yaitu mendukung Jenderal Ryamizard Ryacudu. Kalau Pemerintah mengajukan nama lain ya silahkan. PDI Perjuangan tetap konsisten” kata Ibu Megawati.

“Saya mengerti Bu. Marsekal Djoko Suyanto tidak punya maksud lain kecuali hanya menyampaikan salam hormat. Dan yang ini bukan pesan dari Marsekal Djoko Suyanto tetapi dari saya pribadi, mohon perhatiannya Bu untuk nanti FIT AND PROPER TEST Calon Panglima TNI. Maksud saya, mohon restunya Bu. Seperti yang Marsekal Djoko Suyanto bilang, toh Ibu adalah Keluarga Besar TNI AU” lanjut Mega Simarmata.

Ketika itu, tugas saya belum selesai. Sebab masih harus berbicara dengan Jenderal Ryamizard Ryacudu. Tetapi kalau dengan Jenderal Ryamizard Ryacudu, saya tidak terlalu “nervous” atau gugup. Sebab, kedekatan saya dengan Jenderal Ryamizard Ryacudu & Ibu Nora (isterinya) sudah seperti keluarga.

Setelah acara selesai, saya menghampiri Jenderal Ryamizard.

“Ada apa Ga ?” tanya Jenderal Ryamizard.

“Gak papa Pak. Baik aja semua. Tapi ada yang titip salam Pak” kata Mega Simarmata kepada Jenderal Ryamizard.

“Siapa ?” tanya Jenderal Ryamizard.

Marsekal Djoko Suyanto

Marsekal Djoko Suyanto

“Marsekal Djoko Suyanto, calon Panglima TNI. Beliau titip salam hormat, untuk Ibu Megawati dan untuk Pak Mizard. Saya datang kesini untuk menyampaikan amanat beliau. Beliau tahu, kita dekat. Sehingga dari ketulusan hatinya, Marsekal Djoko Suyanto sungguh-sungguh mohon dukungan Pak Mizard. Begitu pesan beliau” kata Mega Simarmata kepada Jenderal Ryamizard.

“Gue gak ada masalah dengan Djoko. Baik aja. Sampaikan, saya mendukung seratus persen. Saya tidak sakit hati. Kamu hubungi dia, katakan bahwa saya mendukung dia naik sebagai Panglima TNI” jawab Jenderal Ryamizard.

“Nanti saya sampaikan Pak, pasti saya sampaikan. Dan beliau pasti senang” sahut Mega Simarmata.

Setelah selesai berbicara dengan Jenderal Ryamizard Ryacudu, saya menghubungi Marsekal Djoko Suyanto melalui telepon. Kami berbicara selama beberapa menit. Intinya, saya sampaikan bahwa salam beliau sudah diterima oleh Ibu Megawati dan Jenderal Ryamizard Ryacudu.

Peristiwa itu berkaitan dengan dengan ALMARHUM SUTRADARA GINTINGS.

Sebab, SUTRADARA GINTINGS adalah Ketua Fraksi PDIP di Komisi I DPR-RI. Sementara pelaksanaan FIT AND PROPER TEST Calon Panglima TNI, dilaksanakan di Komisi I DPR-RI.

Saya ingat betul, sebelum FIT AND PROPER TEST dimulai, saya mendekati SUTRADARA GINTINGS ke kursi tempat ia duduk di Ruang Rapat Komisi I. SUTRADARA GINTINGS biasanya duduk di barisan belakang.

“Bang, jangan galak-galak nanti bertanyanya ya Bang ke Marsekal Djoko” kata Mega Simarmata kepada SUTRADARA GINTINGS.

“Tenang aja kau. Bu Mega (Megawati) sudah menghubungi Abang tadi, memberi arahan mengenai sikap PDIP” jawab SUTRADARA.

“Sikapnya PDIP nanti apa, Bang ?” tanya Mega Simarmata.

“Tunggu aja, nanti Abang kau ini akan bertanya dulu kepada Calon Panglima TNI” jawab SUTRADARA GINTINGS.

Dan setahu saya, anggota Komisi I DPR-RI kalau bertanya sangat tajam dan “vokal” sekali, terutama SUTRADARA GINTINGS. Saat itu saya ikut memantau jalannya FIT AND PROPER TEST CALON PANGLIMA TNI dengan kandidat tunggal yaitu Marsekal Djoko Suyanto.

Sutradara Gintings

Sutradara Gintings

Saat SUTRADARA GINTINGS bertanya, sapaan atau cara SUTRADARA GINTINGS memanggil Calon Panglima TNI adalah seperti ini, “SAUDARA MARSEKAL ….”. Jadi setiap kali SUTRADARA GINTINGS bertanya, pasti menggunakan kalimat “SAUDARA MARSEKAL ….”.

Yang membuat saya terharu adalah semuja pertanyaan memang sangat “tajam” tetapi tidak ada yang sengaja dibuat-buat untuk menghambat atau menjatuhkan Marsekal Djoko Suyanto. Ketika itu, seluruh FRAKSI memberikan persetujuan kepada pencalonan Marsekal Djoko Suyanto sebagai PANGLIMA TNI.

Kecuali PDI Perjuangan ! Sikap PDI Perjuangan itu disampaikan oleh SUTRADARA GINTINGS.

Dan, simaklah bagaimana gaya politik yang sangat “elegan” dari PDI Perjuangan. Mereka tidak memboikot, tidak memberikan persetujuan tetapi sekaligus juga TIDAK MENOLAK.

Ini keputusan politik yang sangat bijaksana dari seorang Megawati Soekarnoputri. Ia tidak menjatuhkan Marsekal Djoko Suyanto.

PDIP

PDIP

Bayangkan kalau ketika itu seorang CALON PANGLIMA TNI mendapatkan suara penolakan dari sebuah Fraksi yang datang dari partai politik besar. Walaupun Jenderal Ryamizard Ryacudu diperlakukan sangat tidak “adil” karena digantung nasibnya selama kurang lebih 1,5 tahun, naiknya Marsekal Djoko Suyanto diberi jalan dan kemudahan.

Artinya, persetujuan kepada Marsekal Djoko Suyanto dari Komisi I DPR-RI tidak bercacat cela. Kalau saja misalkan pada waktu itu, Fraksi PDI Perjuangan memboikot atau menolak maka naiknya Marsekal Djoko Suyanto menjadi “tidak sempurna”.

Saya ingat, setelah usai FIT AND PROPER TEST terhadap Calon Panglima TNI, saya menghampiri lagi SUTRADARA GINTINGS.

“Mantap kali pertanyaan itu Bang … SAUDARA MARSEKAL, bisakah SAUDARA MARSEKAL jelaskan kepada saya ….” kata Mega Simarmata meniru gaya SUTRADARA GINTINGS bertanya kepada Marsekal Djoko Suyanto.

SUTRADARA GINTINGS tertawa terbahak-bahak mendengar guyonan saya.

Inilah kenangan yang begitu melekat di pikiran saya sampai saat ini. Setahu saya, SUTRADARA GINTINGS memang termasuk yang sangat dipercayai oleh Ibu Megawati Soekarnoputri.

Dan ada 2 Anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan yang juga “sangat sering” diomelin oleh Ibu Megawati karena kebiasaan merokok mereka yang berlebihan. Keduanya adalah SUTRADARA GINTINGS dan TRIMEDYA PANJAITAN.

Sehingga tidak heran, Trimedya Panjaitan tidak akan pernah berani merokok seharian jika sedang melakukan RDP dengan Pejabat Pemerintah yang terkait dengan Komisi III.

“Aku takut dimarahi sama Bu Mega, sebab cuma dengan mendengar suaraku saja kalau bicara di MIC, Ibu bisa tahu apakah aku merokok atau tidak. Kan kedengaran di televisi pas beritanya ditayangkan,” kata Trimedya Panjaitan dalam sebuah kesempatan kepada Mega Simarmata.

Kabar tentang wafatnya SUTRADARA GINTINGS sangat memukul perasaan kami. Beliau adalah “guru” yang ikut membentuk sikap kritis dan keberanian dalam mempertahankan prinsip kebenaran.

Setiap kali bertemu di sela-sela kegiatan rapat di DPR-RI, terutama sejak berdirinya KATAKAMI.COM, SUTRADARA GINTINGS terus memberikan dukungan moril yang besar.

“Meg, mantap kali tulisan-tulisan kalian itu. Teruskan Meg. Abang dukung” begitu biasanya SUTRADARA GINTINGS memberikan motivasi. Bahkan ia juga ikut prihatin saat KATAKAMI terus mendapatkan aksi pengrusakan terkait pemberitaan seputar BANDAR NARKOBA LIEM PIEK KIONG alias MONAS yang patut dapat diduga sudah 3 kali dilloloskan dari JERAT HUKUM oleh bekingnya oknum dari kalangan internal POLRI.

Indonesia kehilangan seorang putra terbaiknya. Kehilangan seorang politisi yang tak sepanjang hidupnya tak pernah “kehilangan” hati nurani yang sangat gigih memperjuangkan kepentingan rakyat.

Indonesia kehilangan seorang putra terbaiknya, yang bernama SUTRADARA GINTINGS. Ia politisi yang berwibawa, berkharisma dan memiliki tingkat kecerdasan yang sangat membanggakan. Ia guru kehidupan yang mengajarkan jiwa pemberani untuk teguh mempertahankan prinsip kebenaran.

Ada rasa “missing”. Ada rasa kehilangan seorang abang dan seorang guru yang sangat membanggakan.

SUTRADARA GINTINGS mengakhiri perjalanan panjangnya didalam kehidupan ini, persis di akhir masa tugas anggota DPR-RI periode 2004-2009. Ia begitu menghargai sosok Megawati Soekarnoputri dan ia sudah membuktikan kepada seorang Megawati selama kurun waktu hampir 5 tahun ini bahwa sebagai seorang KADER, SUTRADARA GINTINGS adalah kader yang sangat membanggakan. Membanggakan Ketua Umumnya. Membanggakan Partai Politiknya. Membanggakan keluarganya.

Sutradara Gintings

Dan, yang terutama adalah, SUTRADARA GINTINGS juga membuat INDONESIA berbangga hati karena pernah memiliki putra terbaik yang totalitas hidupnya adalah melakukan apapun juga dengan hasil yang terbaik juga.

“Terimalah seluruh hormat dan penghargaan kami, BANG GINTINGS !

Terimakasih telah menjadi guru dan abang yang baik”.

(MS)


Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.