KATAKAMI KATAKAMI

Juni 17, 2009

Antiklimaks Peringatan Hari Anti Narkoba Internasional (HANI) Karena Patut Dapat Diduga Kalakhar BNN Justru Jadi Beking Sindikat Narkoba Internasional

https://i0.wp.com/data5.blog.de/media/151/3391151_fcc4ca4e04_s.jpg

Jakarta 17/6/2009 (KATAKAMI) Pekan depan, atau tepatnya tanggal 26 Juni 2009 akan diperingati sebagai Hari Anti Narkoba Internasional atau HANI. Sebuah peringatan yang biasanya akan ditandai dengan upacara seremonial di Istana Negara Jakarta dan dipenuhi dengan berbagai “pdatio-pidato standar.

Secara teori, kalau melihat dari situs Badan Narkotika Nasional (BNN) dengan alamat URL di http://www.bnn.go.id maka bolehlah diberi nilai yang lumayan-lumayan saja. Sebab, dalam pembuatan situs, semakin besar dana atau anggaran yang dialokasikan untuk membuat sebuah desain situs yang “wah” maka kesan yang ditimbulkan juga akan ikut “wah”.

Tapi secara praktek di lapangan, sudahkah Indonesia sungguh-sungguh dalam memerangi dan memberantas narkoba itu sampai ke akar-akarnya ?

Sudahkah POLRI, sungguh-sungguh dalam memutuskan mata rantai sindikat-sindikat narkoba yang ada di republik ini agar seluruh gerak “buru sergap” POLRI dan jajarannya di seluruh Indonesia tidak cuma sekedar “setor muka” saja kepada Pemerintah bahwa POLRI tidak tidur dalam upaya penanggulangan narkoba ?

Satu contoh kecil saja yang patut dipertanyakan kepada POLRI, khususnya Badan Narkotika Nasional berkaitan dengan peringatan Hari Anti Narkoba Internasional (HANI) tanggal 26 Juni 2009 mendatang, bagaimanakah kelanjutan penanganan kasus bandar narkoba LIEM PIEK KIONG alias Monas ?

Bukankah patut dapat diduga mafia kotor ini sudah 3 kali berturut-turut diloloskan dari jerat hukum sehingga ia bolak-balik “selamat” dari proses peradilan yang sesungguhnya di negara hukum yang bernama Indonesia ini ?

Bukankah patut dapat diduga mafia kotor Liem Piek Kiong alias MONAS dibekingi oleh Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BNN Gories Mere, yang sampai detik ini tidak pernah tersentuh oleh proses hukum itu sendiri ?

Dimana letak kewibawaan POLRI dalam upaya penanggulangan narkoba sebagai pejabat yang sangat memiliki jabatan sangat strategis dalam upaya penanggulangan narkoba justru dikaitkan dengan sindikat mafia narkoba yang bertaraf internasional ?

Kalau saja POLRI mau jujur dalam kasus narkoba yang melibatkan Liem Piek Kiong (Monas) maka tak perlu ada peringatan yang seremonial semegah apapun di Istana Negara pada tanggal 26 Juni mendatang.

POLRI harus malu karena di tahun 2009 ini saja, hanya 3 penyidik kelas “bawahan” yang dicopot dari jabatannya karena ketahuan atau terbukti bersalah merekayasa Berita Acara Pemeriksaan (BAP) kasus narkoba Taman Anggrek — yaitu saat Monas dan sindikatnya ditangkap di Apartemen Taman Anggrek bulan November 2007.

Akibat rekayasa BAP itulah maka Monas tidak diikut-sertakan dalam pelimpahan berkasnya dari Pihak Kepolisian kepada Pihak Kejaksaan. Dari hampir 9 orang yang ditangkap, masak hanya 3 orang yang dilimpahkan berkasnya oleh Polisi kepada Kejaksaan.

Ketiga orang itu sudah mendapatkan vonis MATI, dan salah seorang diantaranya adalah CECE — isteri dari Monas — yang ditangkap di Apartemen Taman Anggrek (November 2007).

Monas sendiri, melenggang kangkung alias ongkang-ongkang kaki sekarang karena berhasil lolos untuk yang ketiga kalinya dari jerat hukum.

Dan karena kegigihan KATAKAMI menyuarakan pentingnya upaya penegakan hukum dalam kasus bandar narkoba MONAS ini, maka patut dapat diduga serentetan teror, intimidasi, penindasan, pengrusakan dan sabotase SITUS telah kami alami selama 6 bulan berturut-turut.

Patut dapat diduga, semua itu dilakukan oleh KOMISARIS JENDERAL GORIES MERE dan kubunya — dimana patut dapat diduga didalamnya terdapat nama KOMISARIS BESAR PETRUS GOLOSE –.

Patut dapat diduga, kubu liar pimpinan KOMJEN GORIES MERE ini tak pernah kehabisan akal untuk mencari cara dan jalan membungkam KATAKAMI.

Sampai detik ini, patut dapat diduga KOMISARIS JENDERAL GORIES MERE & KOMISARIS BESAR PETRUS GOLOSE merasa paling jagoan di bidang Informasi dan Teknologi (IT) sehingga enteng-eteng saja alias seenak jidat mereka saja merusak Situs KATAKAMI.

Kasihan, untuk apa diberikan jabatan bagi manusia-manusia yang sangat tidak bermoral, pongah, liar dan layak disingkirkan dari struktur organisasi POLRI sebab jika dipertahankan hanya akan membuat POLRI menjadi terkena “tulah” yang sangat memalukan.

Begitu banyak tulisan yang sudah kami hadirkan melalui Situs KATAKAMI seputar kasus bandar narkoba LIEM PIEK KIONG (MONAS). Begitu juga, tulisan mengenai kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen, dimana patut dapat diduga KOMISARIS JENDERAL GORIES MERE terlibat didalamnya sebagai mafia di bidang “bisnis penghabisan nyawa” lewat tangan-tangan preman yang dikoordinir dengan sangat sadis.

Kami tidak habis pikir, apakah INTERPOL (organisasi kepolisian dunia) tidak mencium indikasi yang sangat memalukan dalam struktur organisasi POLRI ?

INTERPOL harus membuka diri yaitu memasang mata dan telinga mereka — bahwa patut dapat diduga ada anggota mereka di sebuah negara telah mengingkari jatidiri sebagai seorang aparat penegak hukum (keamanan) !

INTERPOL harus tanggap dan tidak kehilangan integritas diri, sebab jika ada segelintir POLISI di sebuah negara — yang notabene adalah anggota dari INTERPOL itu sendiri — melakukan kriminalitas dan serentetan perbuatan melawan hukum sangat memalukan, maka INTERPOL tidak bisa berdiam diri.

https://i2.wp.com/www.barackphoto.com/img/obama01.jpg

Lalu, Presiden Barack Hussein Obama dan seluruh perangkat bawahannya yang terkait — CIA, FBI dan DEA — juga harus membuka diri yaitu memasang mata dan telinga mereka, bahwa ada segelintir POLISI di Indonesia ini yang patut dapat diduga menyalah-gunakan kemampuan mereka di bidang IT — dimana kemampuan di bidang IT itu sendiri, sejak beberapa tahun terakhir ini justru semakin diperluas dan diperkuat atas kebaikan hati AMERIKA SERIKAT dalam memberikan berbagai pengetahuan, pelatihan dan bantuan lainnya seputar penanganan terorisme.

Sialnya, oknum-oknum yang dilatih AMERIKA SERIKAT itulah, yang patut dapat diduga terlibat sebagai BEKING MAFIA BANDAR NARKOBA TINGKAT DUNIA dan melakukan berbagai perbuatan melawan hukum terhadap warga sipil tak bersenjata.

Kami mempertanyakan komitmen yang tinggi dari seorang BARACK HUSSEIN OBAMA seputar perang melawan narkoba — termasuk yang dicetuskannya saat berkunjung ke Meksiko beberapa bulan lalu — apakah akan diam saja jika patut dapat diduga terjadi kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran HAM berat dari oknum POLISI karena pelanggaran hukum mereka dibeberkan di media massa ?

https://i2.wp.com/www.usdoj.gov/dea/pubs/history/30th_bw_logo.jpg

AMERIKA SERIKAT juga harus ikut bertanggung-jawab dalam situasi dan kondisi ini sebab oknum POLISI INDONESIA yang terkait dalam kusutnya mata rantai kemafiaan ini adalah POLISI-POLISI yang selama bertahun-tahun menikmati kebaikan hati dan bantuan dari negara adidaya AS.

Dimana realisasi dari komitmen yang tinggi dari Barack Hussein Obama dan jajarannya dalam penegakan hukum ?

Ilmu pengetahuan, kemampuan atau keahlian yang diberikan kepada oknum POLRI selama masa jabatan Presiden George Walter Bush, patut dapat diduga telah disalah-gunakan dan mengorbankan banyak pihak di Indonesia.

Termasuk, mengorbankan jurnalis yang secara gigih menyuarakan pentingnya perang terhadap narkoba — termasuk memerangi beking dari mafia-mafia narkoba yang gentayangan di negara ini –.

Itu sebabnya, persis pada peringatan HARI ANTI NARKOBA INTERNASIONAL (HANI) tanggal 26 Juni mendatang, sebaiknya kami menutup sejenak “mata dan telinga” agar tidak melihat atau mendengar kabar terkait peringatan itu.

Buat apa berbasa-basi membuat upacara seremonial yang tak bermakna apa-apa sebab patut dapat diduga penuh kemunafikan dan kamuflase yang busuk.

Realisasi dari penanggulangan narkoba itu, sebaiknya melakukan tindakan nyata yang konkrit sekonkrit-konkritnya.

https://i0.wp.com/data5.blog.de/media/101/3391101_349984e108_m.gif

Copot, tangkap, penjarakan dan adili KOMISARIS JENDERAL GORIES MERE agar tidak mempermalukan Indonesia dalam upaya penanggulangan narkoba.

Adili, sebab Indonesia memang sebuah negara hukum !

Adili, dan berikan VONIS MATI kepada siapapun yang patut dapat diduga menjadi beking bandar narkoba internasional.
https://i0.wp.com/data5.blog.de/media/937/3412937_b4a021649e_s.jpg

Dan siapapun kacung-kacung dari beking bandar narkoba ini — termasuk yang sangat arogan dan pamer keahlian di bidang IT untuk merusak atau melakukan sabotase pada situs KATAKAMI — berikan juga VONIS MATI !

Lalu, sebelum keparat-keparat yang membekingi bandar narkoba ini ditangkap, sebaiknya uang kotor alias uang haram yang diberikan sindikat narkoba itu kepada mereka, digunakan untuk membeli cermin.

NGACA DULU DONG !

Jangan pakai seragam atau atribut sebagai POLISI INDONESIA karena patut dapat diduga semua itu hanya sebagai kedok atau topeng-topeng yang menjerat.

Masak tidak malu, rakus terhadap uang dan kekuasaan, namun ketika ada jurnalis yang gigih menyuarakan kebenaran dan keadilan, ada oknum POLISI yang kesetanan pamer keahlian tapi direkayasa agar atasan-atasan dan pihak lain yang kena tudingan.

GORIES MERE, janganlah ada serigala yang berbulu domba !

(MS)

LAMPIRAN :

Kebanggaan Dunia Pada Obama Menguat, Dari Meksiko Obama Tegaskan Kelanjutan Perang Terhadap NARKOBA (Heal The World, Make It Better Place, Mr Obama !)

JAKARTA 17 APRIL 2009 (KATAKAMI) Persis tanggal 20 April mendatang, Presiden Barack Obama memasuki bulan ke-3 memerintah di Amerika Serikat. Pemimpin muda yang tak cuma membuat rakyat AS saja yang terkesima atas kecerdasannya.

Tahun 2007 silam, saat dimana INDONESIA belum begitu “welcome” terhadap figur Obama yang sudah mengumumkan bahwa dirinya akan melangkah maju pada Pilpres AS 2008, Pemimpin Redaksi KATAKAMI telah meyakini bahwa Obama akan memenangkan pertarungan itu.

Sehingga, sejumlah petinggi di negara ini (yang tak usah kami sebutkan namanya), mendapat pemberian sederhana dari Pemimpin Redaksi KATAKAMI yaitu buku biografi Barack Obama yang sudah mulai dijual di Toko Buku Gramedia. Kami memberikan buku itu sebagai alternatif bacaan tentang akan munculnya seorang pemimpin baru yang relatif berusia muda di blantika perpolitikan AS.

Barangkali saat memasuki tahun 2007, banyak orang yang belum yakin bahwa Obama punya kans yang besar untuk menang. Tapi kami mempunyai firasat yang baik bahwa pemimpin muda yang satu ini memang akan memenangkan pertarungan politik di AS. Ia bukan cuma seorang orator yang ulung. Tetapi dari setiap kalimat yang diucapkannya, ada daya tarik yang bagaikan magnet akan menarik perhatian dan kepercayaan dari siapa saja yang mendengarnya.

Bahkan, dalam hitungan waktu yang mundur ke belakang, saat Pemimpin Redaksi KATAKAMI masih bekerja sebagai wartawati di Radio Voice Of America (VOA) – untuk periode 2003-2008 – pada masa awal Obama memulai debutnya sebagai kandidat Capres di AS yaitu tahun 2006 kami sudah membuka situs dari Obama dan mendaftarkan alamat EMAIL kami untuk terus dikirimi kabar terbaru tentang Obama. Padahal, beberapa rekan senior kami di Radio Voice Of America (VOA) sendiri yaitu mereka yang sudah puluhan tahun tinggal di AS, belum mengetahui bahwa Obama membuka situs pribadi dan rutin mengirimi kabar terbaru tentang debut politiknya.

Saat ini, Presiden Obama berada di Meksiko dan telah mengadakan pembicaraan Tete A Tete atau pembicaraan empat mata dengan Presiden Meksiko

Dari laporan Radio Voice Of America (VOA) disebutkan bahwa Presiden Obama dan Presiden Meksiko Felipe Calderon telah menyepakati kerjasama untuk melawan perdagangan narkoba, Kamis (16/4/2009).

Obama memuji usaha Meksiko untuk menumpas kartel narkoba dan mengatakan Amerika Serikat akan melakukan bagiannya untuk menanggulangi permintaan Amerika akan narkoba dan arus senjata dan uang tunai di perbatasan. Ia mengatakan demikian setelah bertemu dengan Presiden Calderon di Kota Meksiko.

Obama mengatakan ia menghendaki Kongres Amerika menyetujui perjanjian yang membatasi ekspor senjata Amerika ke negara-negara Amerika Latin dan terus mendanai program yang akan memberi kepada Meksiko helikopter militer untuk membantu perang narkoba.

Barangkali kami salah dan mohon maaf jika kami memang salah, rasanya pernyataan terbuka Presiden Obama di Meksiko tentang PERANG MELAWAN NARKOBA ini adalah pernyataan terbuka pertama sejak ayah dari 2 anak ini resmi menjabat sebagai PRESIDEN AS yang ke-44.

Tapi, entah itu memang pernyataan terbuka yang pertama atau yang ke berapapun juga, satu hal yang disayangkan dari Presiden Obama.

Apakah kerjasama dan konsistensi AS dalam memerangi NARKOBA itu hanya ditujukan kepada Meksiko ?

Tidakkah Obama mengetahui atau menyadari bahwa negara-negara lain di dunia ini, sungguh juga ingin agar AS dengan sangat sungguh-sungguh memberikan bantuan yang serius dan kuat sekali dalam memerangi NARKOBA ?

Termasuk Indonesia, cq MABES POLRI, tentu memerlukan dukungan yang lebih kuat dari AS dalam memerangi NARKOBA.

Dari Situs Resmi MABES POLRI (WWW.POLRI.GO.ID) diperoleh data resmi hasil kerja Jajaran Direktorat IV (Narcotics And Organized Crimes) Bareskrim POLRI pada pertengahan April 2009 ini bahwa kasus tindak pidana narkoba periode 2009 yang berhasil ditangani sampai bulan Februari 2009 adalah 803 kasus narkoba dengan penetapan status tersangka kepada 1068 orang, kasus psikotropika sebagai 973 dengan jumlah tersangka 1299 orang.

Tentu kinerja yang sebaik ini memang pantas dihargai.

Dan yang perlu ditekankan juga kepada MABES POLRI adalah kesungguhan dalam pemberantasan narkoba itu sendiri. Artinya, tidak dibiarkan jika patut dapat diduga ada oknum-oknum didalam internal MABES POLRI yang justru terlibat dalam perdagangan gelap narkoba di tingkat nasional dan internasional.

Jangan dibiarkan juga, jika patut dapat diduga ada oknum POLRI yang “main mata” dengan oknum KEJAKSAAN dalam melakukan kongkalikong untuk meraup uang panas dari kasus-kasus narkoba dengan seribu satu macam akal busuk yang dirancang dan disepakati bersama.

Jangan dibiarkan juga, jika patut dapat diduga ada permainan pada pasal-pasal yang bisa ditetapkan dalam kasus narkoba dan dari pemilihan pasal-pasal hukum itu dapat diraup keuntungan yang tak ternilai harganya.

Jangan dibiarkan juga, jika patut dapat diduga bergelimpangannya barang bukti narkoba menjadi sasaran empuk oknum polisi dan jaksa untuk menjualnya kembali ke “pasaran” atau mengkonsumsinya sendiri.

Jangan dibiarkan juga, jika patut dapat diduga ada bandar dan mafia narkoba kelas KAKAP (bahkan kelas IKAN HIU dan IKAN PAUS) yang diloloskan dari jerat hukum oleh oknum PERWIRA TINGGI POLRI.

Dalam hal ini contoh yang sangat nyata adalah kasus bandar dan mafia narkoba LIEM PIEK KIONG alias MONAS, yang patut dapat diduga sudah 3 kali berturut-turut diloloskan dari jerat hukum yang memungkinkan diri si bandar keparat ini mendapatkan VONIS MATI dari majelis hakim.

Bayangkan, bandar dan mafia narkoba MONAS ini terakhir kali ditangkap JAJARAN POLRI pada bulan Agustus 2007 di Apartemen Taman Anggrek Jakarta Barat dengan barang bukti 1 JUTA PIL EKSTASI.

Dari 9 orang yang ditangkap, hanya 3 orang saja yang diajukan oleh PENYIDIK POLRI kepada pihak KEJAKSAAN dan ketiga telah mendapatkan VONIS MATI dari majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Salah seorang diantara yang mendapatkan VONIS MATI itu adalah CECE (isteri dari bandar dan mafia narkoba MONAS) yang saat ini ditahan di Rutan Pondok Bambu Jakarta Timur dan dari balik jeruji besi tetap mengendalikan perdagangan gelap narkoba.

Sedangkan yang 6 orang (salah seorang diantaranya adalah MONAS, sang bandar dan mafia pemilik1 JUTA PIL EKSKTASI itu) justru dibebaskan dari jerat hukum pada kasus narkoba Taman Anggrek. Lalu yang 5 orang lainnya itu adalah sekelas MONAS juga alias rekan sesama bandar dan mafia narkoba, dimana sampai detik ini MONAS dan kelima bandar keparat itu tak pernah lagi kelihatan batang hidungnya pasca penangkapan di Apartemen Taman Anggrek (November 2007).

Sebenarnya, betapa malunya kita sebagai sebuah bangsa bahwa ada fakta seperti ini di Indonesia.

Sebenarnya, betapa malunya kita sebagai sebuah bangsa bahwa patut dapat diduga seorang PERWIRA TINGGI POLRI yang ditugasi memberantas narkoba di negeri ini malah menjadi BEKING UTAMA dari sindikat para bandar dan mafia narkoba internasional.

Sedihnya lagi, oknum PERWIRA TINGGI POLRI yang patut dapat diduga menjadi beking utama tersebut justru merupakan KOLEGA dari Aparat Penegak Hukum AS (terutama FBI dan DEA). Sehingga, pada era pemerintahan Presiden Barack Obama, FBI dan DEA harus membuka matanya secara lebar-lebar (Please open your eyes, man !) agar mulai detik ini mereka memasukkan nama oknum PERWIRA TINGGI yang patut dapat diduga sebagai beking dari sindikat bandar dan mafia narkoba internasional itu ke dalam daftar hitam AS atau di-black list.

Jika patut dapat diduga ada segelintir orang dalam internal POLRI dan KEJAKSAAN yang melakukan penyimpangan dan pelanggaran hukum maka perbuatan mereka tidak bisa digenelarisir sebagai kelemahan kesalahan atau kekurang-seriusan MABES POLRI dan KEJAKSAAN sebagai institusi dalam menangani kasus-kasus narkoba.

MABES POLRI sebagai institusi adalah sebuah lembaga hukum yang sepenuhnya harus didukung oleh semua pihak dalam menangani kasus-kasus tindak pidana narkoba di negeri ini. Begitu juga halnya dengan KEJAKSAAN.

MABES POLRI sebagai institusi adalah sebuah lembaga hukum yang sepenuhnya juga perlu tetap didukung secara kuat oleh AS, dalam hal ini sepanjang masa pemerintahan Presiden Barack Obama.

Walau ada beberapa kelemahan disana-sini, semua itu sangat wajar dalam perjalanan hidup sebuah bangsa seperti INDONESIA. Artinya, Presiden Obama tak perlu ragu untuk juga mengarahkan pandangannya dalam bekerjasama dengan INDONESIA untuk memerangi NARKOBA.

Selain tetap membangun kerjasama dan dukungan penuh untuk kelanjutan penanganan terorisme yang sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku (sudah bukan saatnya lagi isu terorisme dijadikan komoditi “bombastis”), AS tetap dapat meningkatkan kerjasama di bidang penanganan narkoba.

Seruan Obama dari Meksiko tentang konsistensi AS dalam memerangi narkoba, patut dihargai.

Dan ini membuat harapan dunia kepada figur Obama menjadi lebih besar untuk membuat kehidupan ini menjadi baik.

Obama dengan kedigdayaan AS, diharapkan akan menjadi motor untuk membuat PERUBAHAN (CHANGE) juga ke arah yang jauh lebih mensejahterakan kehidupan manusia.

Walau di Indonesia ini, pemerintahnya patut dapat diduga melindungi beking dari sindikat para bandar dan mafia narkoba internasional (semacam Liem Piek Kiong alias MONAS), tetapi Obama tak perlu ragu untuk tetap membantu Indonesia dengan segala potret realita yang tak begitu menyenangkan ini.

Saat mendengar kabar bahwa Presiden Obama menyatakan AS melanjutkan PERANG MELAWAN NARKOBA dengan memberikan dukungan kepada Meksiko, hati ini rasanya menjadi lebih bangga dan ikut senang.

Sebab, Presiden Obama pasti akan mewujudkan janji dukungan itu secara nyata.

Dalam hal pemberantasan NARKOBA ini, keseriusan Obama yang saat ini menjadi orang nomor satu di AS, membuat kami teringat pada sebuah lagu yang diciptakan dan dinyanyikan oleh Michael Jackson. Obama dan AS diharapkan melanjutkan terus dukungan dan bantuan mereka yang seluas-luasnya kepada negara mana saja (termasuk INDONESIA) dalam melakukan PERANG TERHADAP NARKOBA.

Yes, you can also CHANGE the world, Mr President.

Make it better place … for you and for me !

Dan sambil menyendiri, entah dimanapun juga, barangkali baik untuk Obama untuk mendengarkan lagu Michael Jackson tadi (HEAL THE WORLD) :

There’s A Place In
Your Heart
And I Know That It Is Love
And This Place Could
Be Much
Brighter Than Tomorrow
And If You Really Try
You’ll Find There’s No Need
To Cry
In This Place You’ll Feel
There’s No Hurt Or Sorrow

There Are Ways
To Get There
If You Care Enough
For The Living
Make A Little Space
Make A Better Place

Reff :
Heal The World
Make It A Better Place
For You And For Me
And The Entire Human Race
There Are People Dying
If You Care Enough
For The Living
Make A Better Place
For You And For Me

If You Want To Know Why
There’s A Love That
Cannot Lie
Love Is Strong
It Only Cares For
Joyful Giving
If We Try
We Shall See
In This Bliss
We Cannot Feel
Fear Or Dread
We Stop Existing And
Start Living

Then It Feels That Always
Love’s Enough For
Us Growing
So Make A Better World
Make A Better World…

(MS)

LAMPIRAN :

PATUTKAH DAPAT DIDUGA ADA FILOSOFI “KURA-KURA DALAM PERAHU” Di BALIK PEMERIKSAAN SKANDAL HUKUM PALING MEMALUKAN BANDAR NARKOBA MONAS ?

Semua orang sama kedudukannya di muka hukum, siapapun yang patut dapat diduga terlibat (walaupun berpangkat Komisaris Jenderal), copot, tangkap, penjarakan & proses sesuai ketentuan hukum !

Semua orang sama kedudukannya di muka hukum, siapapun yang patut dapat diduga terlibat (walaupun berpangkat Komisaris Jenderal), copot, tangkap, penjarakan & proses sesuai ketentuan hukum !

Jakarta (KATAKAMI) Inikah yang namanya reformasi birokrasi POLRI ? Skandal hukum yang paling memalukan di negeri ini adalah diloloskannya sebanyak 3 kali bandar narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS dari jerat hukum, ternyata hanya memecat 5 penyidik kelas-kelas bawah.

Padahal, MABES POLRI telah menurunkan Tim Pemeriksa dari IRWASUM POLRI guna memeriksa kasus rekayasa Berita Acara Pemerikasan (BAP) bandar narkoba Liem Piek Kiong, ternyata Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri cuma mencopot 4 penyidik kelas bawahan doang.

Ya ampun, lalu bagaimana dengan beking utamanya yang patut dapat diduga berpangkat Komisaris Jenderal ? Pemeriksaan itu sangat kredibel atau patut dapat diduga sekedar basa-basi saja karena terlanjur bocor ke wartawan ?

Apartemen Taman Anggrek yang menjadi "markas" bandar narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS yang digrebek polisi Nov 2007

Apartemen Taman Anggrek yang menjadi “markas” bandar narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS yang digrebek polisi Nov 2007

Menjelang akhir bulan Februari lalu, yaitu 25 Februari 2009 lalu MABES POLRI mengumumkan bahwa 5 penyidik yang dicopot dari jabatannya ialah para penyidik dari Direktorat IV Narkoba Bareskrim Polri dengan pangkat mulai dari Bintara sampai perwira menengah yaitu Brigadir, AKP, AKBP dan Kombes.

Dalam berita acara pemeriksaaan (BAP), Monas disebutkan bukan sebagai bandar narkoba 1 juta ekstasi di Apartemen Taman Anggrek. Monas hanya disebut sebagai pecandu dan kepemilikan sabu sebanyak 1,5 gram sehingga hanya divonis satu tahun. Sedangkan istrinya, Cece, dikenai hukuman mati.

Sementara dalam jawabannya kepada Komisi III DPR-RI tanggal 9 Februari lalu, Kapolri Jenderal BHD menegaskan bahwa guna mengoptimalkan kerja penyidik Polri dalam penanganan narkoba, maka Inspektorat Pengawasan Umum (Itwasum) Polri dan jajarannya harus mengawasi penanganan perkara narkoba agar profesional dan benar.

Saat ditanya soal kasus MONAS, Kapolri BHD menjawab bahwa sudah ada lima polisi, yang diperiksa secara intensif dalam kasus Monas.

“Kelimanya, diduga terkait atas penyimpangan penyidikan dan pemberkasan kasus Monas,” kata Kapolri.

Lim Piek Kiong alias Monas, 48, adalah bandar narkoba yang ditangkap di Apartemen Mal Taman Anggrek, Jakarta Barat, pada 21 November 2007. Saat penangkapan, disita barang bukti 490.802 butir pil ekstasi bernilai Rp49,08 miliar. Sebenarnya ia memiliki satu juta pil ekstasi, tapi 509.198 butir telah terjual.

Namun, berita acara pemeriksaan (BAP) Monas tidak pernah ada. BAP yang diserahkan kepada kejaksaan adalah pemakaian sabu di Apartemen Mal Taman Anggrek dengan barang bukti 1,5 gram. Monas kemudian divonis 1 tahun pada 5 Juni 2008 dan telah bebas.

*****

Kelima orang penyidik itu akhirnya memang telah diberhentikan terkait BAP yang dinilai meringankan hukuman Monas. Lalu bagaimana dengan para perwira tinggi yang patut dapat diduga terlibat sebagai beking dari bandar narkoba Monas ?

Bayangkan, bandar kelas kakap yang lebih patut disebut sebagai MAFIA ini, sudah untuk yang ketiga kalinya diloloskan dari jerat hukum. Patutkah dapat diduga, Kapolri BHD takut menangani kasus ini karena melibatkan sejumlah perwira tinggi.

Bahkan, patut dapat diduga, beking tertinggi dari bandar narkoba MONAS ini berpangkat KOMISARIS JENDERAL.

Patut dapat diduga juga, biaya renovasi gedung Direktorat Narkoba sebuah Polda berasal dari sumbangan pasangan Liem Piek Kiong alias MONAS dan isterinya Cece beberapa tahun silam yaitu saat keduanya diloloskan dari jerat hukum untuk yang kedua kalinya.

Inilah sebagian barang bukti kasus bandar narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS. Dimana semua ujud dari barang bukti ini dan aslikah barang bukti itu sekarang ? Jangan sampai barang bukti itu DIJUAL oleh oknum POLRI

Inilah sebagian barang bukti kasus bandar narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS. Dimana semua ujud dari barang bukti ini dan aslikah barang bukti itu sekarang ? Jangan sampai barang bukti itu DIJUAL oleh oknum POLRI

Ini bukan kasus narkoba biasa. Ini sebuah kasus yang sangat memalukan. Kami lebih cenderung menggunakan istilah skandal hukum yang paling memalukan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, boleh merenungkan dalam-dalam bagaimana nasib dan masa depan Indonesia jika POLRI bersikap mendua dalam menangani kejahatan narkoba.

Patut dapat diduga, Kalakhar BNN Komjen GM terlibat dalam kasus bandar narkoba Monas ini. Mengapa yang bersangkutan masih bisa tetap menjabat ? Sudah sepantasnya, yang bersangkut di non-aktifkan agar pemeriksaan dapat dilakukan secara menyeluruh.

Tidak gampang untuk memeriksa seorang perwira tinggi berpangkat Komisaris Jenderal. Tim Pemeriksa sudah harus lebih tinggi pangkatnya. Sementara, di dalam struktur organisasi POLRI pangkat tertinggi diatas Komisaris Jenderal adalah Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri.

Sehingga, yang dapat memeriksa oknum perwira tinggi berpangkat Komisaris Jenderal ini adalah Kapolri BHD atau langsung ditangani oleh Menko Polhukkam Widodo AS yang berpangkat bintang 4 juga atau Laksamana TNI Purnawirawan.

Penanganan kasus narkoba, khususnya kasus bandar narkoba Liem Piek Kiong ini akan menjadi bola api yang menggelinding kesana kemari. Dan pergerakan bola api dari kasus bandar narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS ini bisa “membakar dan menghanguskan” jika tidak ditangani secara tepat.

Namanya juga bola api, jadi cara penanganannya harus dipadamkan sampai sumbu utama dari api itu padam. kalau cuma mencopot penyidik kelas-kelasan bawahan, apa gunanya ?

Untuk apa memeriksa sekian banyak orang dari mulai penyidik di jajaran Polda Metro Jaya sampai ke Direktorat IV Bareskrim, kalau hanya berujung pada pencopotan 5 penyidik kelas-kelas bawahan saja ?

Pepatah lama mengatakan : "Janganlah Kura-Kura Dalam Perahu, Jangan Ada Yang Pura-Pura Tidak Tahu"

Pepatah lama mengatakan : “Janganlah Kura-Kura Dalam Perahu, Jangan Ada Yang Pura-Pura Tidak Tahu”

Tepuk tangan dan bersorak-sorai beking dari bandar narkoba Liem Piek Kiong alias Monas ini, mendengar keputusan Kapolri BHD yang sangat murah hati dan “bijaksana”.

Di akhir pekan ini, ada pepatah lama yang layak untuk direnungkan yaitu “Janganlah Seperti Kura-Kura Dalam Perahu, Janganlah Pura-Pura Tidak Tahu !”.

Katakan tidak pada narkoba, artinya katakan juga tidak pada segala bentuk toleransi pada beking utama kasus bandar narkoba Liem Piek Kiong ini. Copot, tangkap, penjarakan, dan adili sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku bagi BEKING UTAMA BANDAR NARKOBA LIEM PIEK KIONG ALIAS MONAS.

Siapapun perwira tinggi POLRI yang patut dapat diduga terlibat, tangkap dan adili !

Dan dimana, barang bukti berupa uang rupiah dan beragam dolar dari kasus bandar narkoba MONAS ini ? Patut dapat diduga, barang bukti berupa uang ini diserahkan Pihak Kejaksaan kepada Kepolisian.

Presiden SBY dan Wapres JK perlu bertanya kepada Kapolri BHD, “Mana laporan dan dimana wujud barang bukti uang dari kasus bandar narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS ?”.

Kami menyarankan agar Presiden SBY dan Wapres JK bertanya kepada Kapolri BHD tentang barang bukti berupa uang itu. Patut dapat diduga barang bukti uang dari kasus bandar narkoba MONAS itu ada di internal Polri.

*****

Presiden & Wapres perlu menanyakan kepada KAPOLRI BHD, dimana semua barang bukti uang rupiah dan seluruh uang DOLAR dari kasus bandar narkoba MONAS ini ?

Presiden & Wapres perlu menanyakan kepada KAPOLRI BHD, dimana semua barang bukti uang rupiah dan seluruh uang DOLAR dari kasus bandar narkoba MONAS ini ?

Dan inilah kronologi kasus bandar narkoba MONAS yang kami kutip sepenuhnya dari harian SUARA MERDEKA tangga 24 November 2007 :

Mabes Polri, Jumat (23/11/2007), membongkar jaringan internasional bisnis haram. Tidak tanggung-tanggung, sekitar setengah juta tablet ekstasi berhasil diamankan. Selain itu, polisi mengamankan barang bukti uang tunai total sebesar Rp 3,45 miliar, 25 ribu dolar Singapura, 60 ribu dolar AS, dan 168 ribu dolar Hong Kong.

Polisi mengamankan tersangka, tiga orang WNI yaitu Abdulrohim (50), Lim Piek Kiong alias Monas (47), dan Thio Bok An alias Johan (60), serta dua warga negara Malaysia atas nama Lim Jit Wee (41) dan Chua Lik Chang alias Asok (52).

Empat tersangka lainnya buron, yaitu Cheong Mun Yau, Diong Chee Meng, Steven Law alias Albert, dan Jet Lie Chandra (istri Monas). Selain Jet Lie, ketiga buron lainnya merupakan warga negara Malaysia yang diduga mengendalikan pengiriman ekstasi ke Indonesia.

Menurut Kepala Polri (Kapolri) Jend Sutanto, dari informasi yang diperoleh dari anggotanya, jaringan itu total berencana memasukkan dua juta pil ekstasi ke Indonesia. Dari jumlah tersebut, setengah juta pil berhasil diamankan, dan 481 ribu pil sudah beredar di pasaran, serta sekitar 1 juta lagi masih dalam penyelidikan.

Direktur IV Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Indradi Tanos mengatakan bahwa kasus itu berawal informasi dari masyarakat yaitu ada sindikat narkoba yang mengimpor ekstasi dari Belanda dalam jumlah jutaan tablet. Atas informasi tersebut, diterjunkan tim yang diketuai oleh AKBP Samsu Rijal Mokoagow untuk melakukan pendalaman. Benar saja, tanggal 10 November tepat pukul 18.00, polisi menemukan barang bukti ekstasi sebanyak 9.802 butir, dan menangkap Abdurohim di kamar 2319 Hotel Peninsula Jakarta Barat.

Dalam pengembangan penyidikan, Rabu (21/11/2007), pukul 13.30 di kamar 30 KH Tower Dahlia Apartemen Mediterania Jakarta Barat, polisi menangkap Lim Jit Wee, dan menyita uang tunai Rp 950 juta, 25 ribu dolar Singapura, dan ekstasi sebanyak 11 ribu tablet yang disimpan di mobil Kijang B-7870-ZO yang diparkir di lantai dasar apartemen itu.

Rabu itu juga, pukul 15.00, di kamar 26 KA apartemen yang sama, ditangkap seorang warga negara Malaysia bernama Chua Lik Chang alias Asok. Selanjutnya penyidikan dikembangkan dengan menggeledah kamar 19A Tower 5 Apartemen Taman Anggrek.

Di tempat tersebut, berhasil disita ekstasi sebanyak 470 ribu tablet, 24 kaleng phosporus yang setiap kalengnya berisi 500 gram, serta tiga botol iodium cristal yang setiap botolnya berisi 500 gram, yang diduga sebagai bahan pembuatan ekstasi.

Kamis (22/11/2007), pukul 01.00 di kamar 39E Tower 7 Apartemen Taman Anggrek, ditangkap dua orang tersangka lainnya yang merupakan WNI, yaitu Lim Piek Kiong alias Monas, dan Thio Bok An alias Johan. Di tempat itu ditemukan 1,6 gram sabu.

Penyidikan berlanjut, dengan menggeledah rumah Monas di Jalan Gria Lestari Blok J Nomor 27 Komplek Gria Inti Sentosa Tanjung Priok Jakarta Utara. Di tempat tersebut ditemukan, 0,7 gram sabu serta 45 gram serbuk putih yang diduga ketamin.

Berlanjut Jumat (23/11), pukul 02.00, polisi mendobrak kamar 19J Tower 3 Apartemen Taman Anggrek, milik Steven Law alias Albert. Polisi menemukan uang tunai Rp 2,4 miliar, 60 ribu dolar AS, dan 168 ribu dolar Hong Kong yang disimpan di dalam brankas.

Selain itu ditemukan, 4 botol iodium cristal, satu kaleng fosfor, dan kristal yang diduga sabu seberat 5 gram.

Menurut Samsu Rijal, pengungkapan kasus itu merupakan yang terbesar dalam kasus ekstasi. ”Selama penangkapan di kepolisian, barang bukti yang disita kali ini yang terbesar,” ujarnya.

Sedangkan Indradi Tanos mengatakan, diduga peredaran ekstasi tersebut melalui diskotik-diskotik di seluruh Indonesia, dengan harga Rp 100 ribu per butir. Sedangkan sekitar setengah juta tablet ekstasi yang disita aparat setara dengan lebih dari Rp 49 miliar.

*****

Barang bukti lainnya dari kasus bandar narkoba MONAS, dimana semua barang bukti yang asli dari kasus ini ?

Barang bukti lainnya dari kasus bandar narkoba MONAS, dimana semua barang bukti yang asli dari kasus ini ?

Kasus yang sangat menggemparkan ini, apakah mungkin hanya dikendalikan dan dianggap layak untuk dipertanggung-jawabkan hanya oleh 5 orang penyidik ?

Kalau hanya 5 penyidik itu yang dianggap layak dipecat, maka patut dapat diduga keputusan KAPOLRI ini adalah keputusan yang paling memalukan dalam upaya penegakan hukum di Indonesia.

Tidak bisa tidak dan jangan katakan tidak, beking utama dari kasus bandar narkoba MONAS ini harus diseret ke Pengadilan. Jangan lindungi siapapun yang terlibat dalam kasus ini.

Gambar animasi binatang KURA-KURA

Gambar animasi binatang KURA-KURA

Dan yang sangat mendesak, jangan berikan jabatan apapun sebab proses pemeriksaan dan penindakan tidak boleh berhenti hanya sampai pada pemecatan 5 orang penyidik itu.

Tangkap beking utamanya. Penjarakan. Dan bawa sang beking yang pasti sudah kaya raya tak terhingga itu ke Pengadilan. Jangan lindungi, sekali lagi, jangan lindungi.

Tangkap beking utamanya. Tangkap, siapapun itu ! Dan jangan terapkan filosofi, “KURA-KURA DALAM PERAHU”.

(MS)

LAMPIRAN :

TERPIDANA MATI CECE JUAL BELI NARKOBA DARI DALAM RUTAN ? CAPE DEH ! SBY – JK – BHD SAJA, TERKESAN TIDAK BERANI TUH “MENINDAK” BEKING BANDAR NARKOBA MONAS !

Cece Isteri Bandar Narkoba MONAS yang telah mendapatkan VONIS MATI dari majelis hakim

JAKARTA 4 APRIL 2009 (KATAKAMI) Harusnya tulisan ini akan kami muat Jumat (3/4/2009) malam tetapi patut dapat diduga ada sejumlah pihak langsung “panik” saat mengetahui dari deteksi alat penyadap atau intercept mereka terhadap nomor telepon yang menjadi koneksi saluran internet kami, sudah membaca pemberitaan di sejumlah media online bahwa CECE “sang terpidana mati” alias NYONYA MONAS tertangkap basah jual beli narkoba dan dikendalikan dari dalam penjara.

Sampai seperti itu kepanikan terhadap semua “gerak gerik” tugas jurnalistik KATAKAMI, entahlah.

Dan kami memang tak gr. Tapi justru lebih “bangga”. “Oh, media kami sangat diperhitungkan rupanya oleh begitu banyak perwira-perwira tinggi dari sejumlah INSTANSI karena KATAKAMI termasuk media yang tajam dan tak mau menjilat maka aksi pengrusakan KATAKAMI ini “diaminkan” saja sebagai riak-riak kecil dalam proses demokratisasi.

Alamak, ngeri kali kepura-puraan itu ! Terlalu munafik dan sangat pantas untuk dikecam.

Kabar tentang diperiksanya petugas Rutan Pondok Bambu Jakarta Timur oleh APARAT KEPOLISIAN merupakan kabar yang antiklimaks. Pemeriksaan itu disebabkan terbongkarnya aksi jual beli narkoba dari dalam penjara Rutan Pondok Bambu Jakarta Timur, yang melibatkan terpidana mati JET LI alias CECE alias isteri bandar narkoba Liem Piek Kiong alias Monas.

Monas, bandar pemilik 1 Juta Pil Ekstasi yang ditangkap bersama anggotanya di Apartemen Taman Anggrek Jakarta Barat (November 2007), patut dapat diduga bisa BEBAS MERDEKA karena ia diloloskan untuk yang ketiga kalinya dari jerat hukum oleh oknum perwira tinggi yang menjadi beking utamanya.

Kami bilang juga apa, sudah sepantasnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden M. Jusuf Kalla memerintahkan kepada Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri untuk mencopot Kalahkar Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Gories Mere.

Tidak ada rasa kebencian secara personal tetapi sejumlah masalah “antri” untuk diperiksakan kepada perwira tinggi asal Flores tersebut. Kami mengenalnya tetapi karena patut dapat diduga ada “keterlibatan” menyangkut kasus bandar narkoba MONAS maka perlu dilakukan pemeriksaan. Untuk menjaga independensi dan kejernihan Tim Pemeriksa karena menyangkut seorang PERWIRA TINGGI yang pangkatnya sudah sama dan setara dengan IRWASUM POLRI sebagai Ketua TIM PERIKSA, maka mau tak mau harus dibebas-tugaskan dari jabatannya saat ini.

Dan CECE adalah isteri dari bandar narkoba MONAS. Sehingga, semua itu memiliki benang merah yang tak bisa dipungkiri lagi. Situasi ini semuanya bisa diilustrasikan seperti lingkaran setan karena apapun permasalahan menjadi terkait dan patut dapat diduga serba berhubungan antara satu masalah dengan masalah yang lain.

Jadi kalau ada yang bertanya, apa hubungannya desakan pemeriksaan terhadap perwira tinggi Flores tersebut dengan kabar tentang sindikat jual beli narkoba dari dalam Rutan Pondok Bambu yang melibatkan CECE, isteri dari bandar narkoba MONAS ?

Ya ada dong hubungannya, gimana sih ?

Cermati, siapa yang terindikasi kuat sebagai bandar utama perdagangan narkoba dalam kehidupan CECE ? Jawaban MONAS. Lalu, siapa oknum perwira tinggi yang patut dapat diduga membekingi mereka ?

Mengapa CECE yang sudah mau “MAMPUS” mendekati ajal masih sangat kurang ajar melakukan perdagangan gelap narkoba dan mungkinkah isteri dari seorang bandar utama narkoba di tingkat dunia semacam MONAS bisa lolos dari pengamatan APARAT KEPOLISIAN, dalam hal ini BNN misalnya ?

Lalu, cermati apa jabatan dari KOMJEN GORIES MERE ? Jawaban adalah Kalakhar BNN. Disitu-situ juga berputar semua kesimpang-siuran permasalahan MONAS.

Ilustrasi gambar suasana Rutan Pondok Bambu (Foto : KOMPAS)

Baiklah, kami akan menceritakan kepada anda temuan di lapangan yang sudah mampir ke “telinga” para wartawan senior yang biasa meliput di bidang politik, hukum dan keamanan.

Dan mohon maaf untuk MABES POLRI, khususnya jajaran BNN karena terpaksa tabir gelap itu akan semakin kami buka.

Tanggal 30 Desember 2008 lalu, Kapolri Jenderal BHD menggelar jumpa pers di Ruang RUPATAMA Mabes Polri untuk menyampaikan evaluasi akhir tahun. Seperti biasa, Kapolri didampingi oleh sejumlah Pejabat Teras MABES POLRI. Termasuk diantaranya adalah Kalakhar BNN Komjen Gories Mere.

Saat jumpa pers itu belum dimulai, KATAKAMI “berdiskusi” secara serius dengan sejumlah jurnalis senior. Diantaranya dari sebuah televisi swasta nasional yang beberapa sebelumnya berhasil mengadakan wawancara khusus dengan Cece, isteri dari bandar narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS.

Ketika itu, kasus rekayasa Berita Acara Pemeriksaan (BAP) bandar narkoba Monas sedang hangat-hangatnya mencuat ke permukaan. Terutama karena TIM IRWASUM POLRI sudah memulai pemeriksaan terhadap sejumlah PENYIDIK POLRI. Baik di Direktorat Narkoba POLDA METRO JAYA, maupun di BARESKRIM POLRI.

Dari diskusi yang sangat “serius” dengan rekan jurnalis dari sebuah televisi swasta nasional tadi, diperoleh informasi bahwa Cece begitu terpukul atas permainan kotor yang mengorbankan dirinya. Sementara sang suami yaitu bandar narkoba MONAS lolos dari jerat hukum.

Kapolri Jenderal Sutanto saat sidak ke apartemen Taman Anggrek (Nov 2007) yang menangkap MONAS Cs

Cece memang mendapatkan vonis mati dari majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat pada bulan September 2008. Dan ia tak sendiri menerima vonis mati itu karena ada 2 anggota sindikat MONAS yang ditangkap bersama-sama di Apartemen Taman Anggrek (November 2007) yang juga mendapatkan vonis mati.

Berdasarkan perbincangan santai antara Cece dengan sebuah media yang melakukan wawancara khusus dengan terpidana mati ini di Rutan Pondok Bambu, tercetus sebuah pengakuan bahwa sepanjang berada didalam Rutan Pondok Bambu Cece bersahabat sangat baik dengan seorang artis muda belia yang juga sedang ditahan di Rutan tersebut.

Kita sebut saja si artis ini dengan julukan, “Elpe Si Pembunuh”

Ada asas praduga tidak bersalah atau presumption of innocent yang harus kami hormati. Memang, dalam kasus yang melibatkan artis muda belia itu majelis hakim telah menetapkan bahwa si artis ini terbukti bersalah melakukan pembunuhan terhadap seorang pria bersuku Tapanuli.

Nah, saat menghadiri jumpa pers KAPOLRI BHD untuk menyampaikan evaluasi akhir tahun itulah, kami sudah mendapatkan informasi sedikit demi sedikit perihal kasus bandar narkoba MONAS.

sketsa wajah artia

Dan point terpenting yang kami garis-bawahi adalah persahabatan yang erat dan rapat antara CECE dengan artis muda belia alias Elpe Si Pembunuh.

Bagaikan sedang bermain PUZZLE, potongan-potongan cerita seputar kasus bandar narkoba MONAS itu mulai dapat digabungkan satu persatu.

Tidak lama setelah kami mendapatkan informasi bahwa CECE bersahabat akrab dengan artis muda belia tadi, seorang jurnalis senior lainnya memberikan informasi yang tak kalah serunya bahwa seorang wartawan senior di media tempatnya bekerja menceritakan sebuah peristiwa yang unik bahwa ada seorang Akuntan diundang untuk bertemu di Rutan Pondok Bambu Jakarta Timur. Akuntan itu yang bercerita langsung kepada wartawan senior yang bekerja di media yang sama dengan si wartawan senior yang bercerita kepada KATAKAMI.

Anda mau tahu, siapa yang ditemui di Rutan tersebut ? Akuntan tadi diundang untuk bertemu dengan artis muda belia tadi alias “Elpe Si Pembunuh”. Oleh karena informasi ini masih bersifat mentah maka kami tak bisa menguraikan secara rinci. Tetapi patut dapat diduga, ada bisnis jual-beli narkoba yang dikendalikan dari dalam Rutan Pondok Bambu. Dan patut dapat diduga, bisnis kotor itu melibatkan CECE dan artis muda belia tadi sebagai tangan kanannya dalam mengelola keuangan.

Mengapa bisa kami sebutkan dugaan semacam ini ? Ini bukan asbun atau asal bunyi. Tetapi, akuntan yang diundang bertemu tadi memang ditawari untuk menjadi semacam Auditor terhadap rekening keuangan atas nama si artis muda belia “Elpe Si Pembunuh”.

Bayaran yang ditawarkan tidak tanggung-tanggung yaitu M-M-an atau mencapai miliaran rupiah (kami tidak akan sebut angka pastinya karena informasi ini belum terkonfirmasi).

Dari sejumlah potongan yang kami terima berturut-turut itulah muncul sebuah analisa yang mendalam bahwa memang patut dapat diduga ada sindikat narkoba yang dibangun dan dikendalikan dari balik jeruji besi.

Patut dapat diduga, kondisi ini memang dibiarkan oleh Jajaran POLRI, khususnya BNN.

Pengakuan Cece kepada seorang wartawan bahwa sepanjang berada di Rutan Pondok Bambu, ia bersahabat akrab dengan artis muda belia tadi, menjadi sangat berguna bila digabungkan dengan informasi lainnya bahwa si artis muda belia tadi mengundang seorang Akuntan untuk menjadi semacam “Manajer Keuangan” guna memeriksa uang masuk dan keluar ke dalam rekening si artis muda belia. Wah hebat sekali, si Elpe mendapat vonis pidana kurungan kurang dari 15 tahun (vonis yang pasti untuk si artis tidak akan kami cantumkan karena kami meman harus mengaburkan informasi untuk menjaga identitasnya).

Tak berhenti sampai disitu, serba serbi berita dari sejumlah tayangan infotaiment bila mengisahkan kegiatan artis dari balik jeruji besi maka dapat diketahui gambaran bahwa belakangan memang si artis muda belia yang tega menewaskan kekasihnya hanya untuk “NYOLONG” uang milik kekasihnya itu, bisa tiba-tiba berpenampilan “jet set”. Dia masuk ke dalam penjara saja karena menewaskan kekasihnya sendiri untuk bisa NYOLONG uang si kekasih tapi mengapa begitu masuk ke dalam penjara patut dapat diduga jadi milyuner. Jelas saja dia bisa disebut milyuner kalau untuk bayaran terhadap seorang Akuntan saja bayarannya M-M an alias miliaran. Tas yang digunakan bermerek dan kawat gigi (behel) yang digunakan artis ini juga bukan behel biasa.

Kejelian wartawan dalam menembus dan memperoleh informasi, tidak jauh beda dengan apa yang ditugaskan kepada Para Reserse POLRI. Sama-sama mencari informasi.

Hanya bedanya, wartawan lebih kuat lingkaran tugasnya dan atas nama penugasan sebagai jurnalis maka sumber informasi yang manapun akan mudah diterobos atau diminta buka suara.

Beda dengan POLISI karena masyarakat awam akan langsung ngeri duluan untuk mau buka suara.

Kami tidak sembarangan dalam menjalankan tugas sebagai bagian dari PERS NASIONAL.

Kepada BIN Sjamsir SiregarKapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri

Informasi seputar CECE tadi, sudah sejak AKHIR DESEMBER 2008 lalu kami sampaikan secara langsung kepada KAPOLRI Jenderal Bambang Hendarso Danuri dan KEPALA BIN Sjamsir Siregar. Bahkan, kami komunikasikan juga kepada Pihak KEJAKSAAN AGUNG, dalam hal ini Jaksa Agung Muda Pidana Umum (JAMPIDUM) Abdul Hakim Ritonga.

Khusus kepada KEPALA BIN Sjamsir Siregar, pada akhir DESEMBER 2008 lalu KATAKAMI menelepon beliau untuk menyampaikan kabar seputar CECE ini. Dan ada yang lucu dari perbincangan dengan KEPALA BIN.

“Opung (Sjamsir biasa dipanggil Opung, red), kenal gak dengan nama LP … ?” tanya KATAKAMI.

Saat berbicara dengan Sjamsir Siregar, nama artis muda belia itu kami sebutkan secara lengkap.

“Siapa itu, tak kenal aku” jawab Sjamsir.

“Artis Pung, tapi aku pun tak tahu artis apa kawan ini karena tak jelas main di sinetron apa. Tapi kasus yang menyebabkan dia masuk ke penjara itu karena membunuh pacarnya, orang Batak pacarnya itu” lanjut KATAKAMI.

“Terus kenapa ?” tanya Sjamsir Siregar.

“Jadi Pung ….” KATAKAMI menyampaikan informasi yang diperoleh dari berbagai sumber, disertai analisa-analisa sebagai seorang jurnalis yang memang mengkhususkan sebuah media analisa. Untuk apa itu disampaikan, agar ada pengawasan yang tajam menyoroti sindikat narkoba bertaraf internasional dibawah kendali MONAS, CECE dan oknum Perwira Tinggi yang menjadi BEKING UTAMA mereka.

Dan untuk apa disampaikan kepada PIHAK KEJAKSAAN AGUNG ? Agar KEJAKSAAN tidak tinggal diam tetapi PRO AKTIF mendesak POLRI untuk menangkap MONAS agar diajukan ke Pengadilan dalam kasus TAMAN ANGGREK, yang sudah lebih dulu menjatuhkan vonis mati kepada CECE (isteri MONAS) dan 2 orang rekannya.

Barang bukti kasus bandar narkoba LIEM PIEK KIONG alias MONAS, siapa beking utamanya ?

Lalu selanjutnya kepada KAPOLRI BHD, pada akhir bulan DESEMBER 2008 lalu pun kami juga sudah menyampaikan secara langsung secara “rahasia” mengenai informasi yang sama. Dengan harapan agar Jajaran POLRI menindak tegas dan memotong mata rantai sindikat narkoba yang dikendalikan dari dalam Rutan Pondok Bambu.

Sehingga, kontribusi kami sebagai bagian dari PERS NASIONAL tidak cuma sekedar basa basi. Jaringan, lobi dan pengaruh yang kuat dibalik sepak terjang sebagai seorang jurnalis, akan sangat sia-sia jika tidak dimanfaatkan untuk kepentingan bangsa, negara dan rakyat Indonesia.

Dalam hal ini, pernyataan dari Direktur IV Bareskrim POLRI Brigjen harry Montolalu yang disampaikannya lewat jumpa pers pada hari Jumat (3/4/2009) kemarin di Gedung BNN Jalan MT Haryono, Cawang, Jakarta Timur, menjadi seperti … maaf saja, dagelan !

Kepada para wartawan, Harry Montolalu mengatakan seperti ini seputar pemeriksaan kepada para Petugas Rutan pasca terbongkarnya jual beli narkoba yang dikendalikan dari dalam Rutan Pondok Bambu.

“Ya nanti kita akan mengarah ke sana. Apakah itu kelalaian internal, atau seperti apa, itu nanti,” ujar Direktur IV Bareskrim Mabes Polri Brigjen Harry Montolalu.

Niat Polri itu dipicu Cece, seorang anggota sindikat pengedar narkoba Apartemen Taman Anggrek dari jaringan internasional Malaysia, yang menjual narkoba dari balik jeruji menggunakan handphone. Di sel Cece ditemukan 4 unit handphone yang digunakan untuk memesan narkoba ke Verawati alias Vera, napi di rutan yang sama. Di sel Vera sendiri ditemukan 3 unit handphone yang digunakan Vera untuk memesan narkoba dengan orang di luar rutan.

“Menjadi keprihatinan kita mengapa di sejumlah LP masih beredar handphone dan beredar begitu banyak. Termasuk juga di Nusakambangan. Ini yang menjadi pokok persoalan,” imbuh Harry.

Seberapa jauh Direktorat Narkoba mengontrol peredaran narkoba di balik penjara?

“Kita sudah ada MoU dengan pihak LP. Dan setiap kali kita melakukan penggeledahan, pihak LP selalu welcome,” pungkas Harry.

Kita menjadi sangat prihatin terhadap kinerja BARESKRIM POLRI, dalam hal ini Direktorat Narkoba.

Tidak usah banyak omong yang patut dapat diduga hanya merupakan dalih untuk sekedar mencari pembenaran diri.

Dari hasil pemeriksaan TIM IRWASUM POLRI terhadap kasus rekayasa Berita Acara Pemeriksaan (BAP) bandar narkoba MONAS, 5 orang Penyidik kelas bawah dan menengah sudah dinyatakan terbukti bersalah dan dicopot dari posisi.

Konglikong busuk yang membuat kelima orang Penyidik itu “disikat” habis karena mereka sengaja membuat MONAS tidak ikut diproses secara hukum dalam kasus Taman Anggrek. MONAS sengaja dibuatkan BAP yang tuduhannya sangat ringan yaitu kepemilikan sekitar 1 gram sabu saja.

Sedangkan CECE dan 2 orang lainnya yang ditangkap dalam kasus Taman Anggrek, dilimpahkan berkasnya kepada PIHAK KEJAKSAAN.

Dan yang sampai saat ini masih “gelap gulita”, patut dapat diduga ada sekitar 4 atau 5 orang lagi BANDAR NARKOBA yang ditangkap bersama-sama dengan Monas dan Cece di Taman Anggrek, juga diloloskan oleh oknum APARAT KEPOLISIAN.

Sebab, dalam kasus Taman Anggrek itu yang ditangkap bukan 4 orang. Tapi lebih dari itu !

Namun mengapa, yang dilimpahkan berkasnya ke Pihak Kejaksaan untuk kasus Taman Anggrek hanyalah Cece dan 2 rekannya. Lalu untuk MONAS, dibuatkan berkas berbeda sehingga dalam persidangan yang dijalani MONAS tahun lalu, ia tidak didakwa untuk kasus Taman Anggrek.

MONAS, hanya menjadi saksi untuk persidangan Cece dan 2 rekannya.

Sehingga, jangan heran kalau vonis untuk Monas hanya 1 tahun penjara. Sementara vonis untuk Cece dan 2 orang rekannya tadi adalah VONIS MATI.

Jampidum Abdul Hakim Ritonga

Yang perlu diketahui publik disini adalah KATAKAMI melakukan wawancara eksklusif dengan Jaksa Agung Muda Pidana Umum (JAMPIDUM) Abdul Hakim Ritonga seputar kasus bandar narkoba MONAS ini.

Jadi, maaf-maaf saja untuk Jajaran BNN dan Direktorat Narkoba BARESKRIM POLRI karena informasi yang kami terima bukan kelas abal-abal.

Saat KATAKAMI berada di ruang kerja JAMPIDUM pada bulan Desember 2008, Ritonga memerintahkan agar dicari dan dipanggil secepatnya pada saat itu juga Jaksa yang menangani kasus Taman Anggrek. Semua dipanggil. Baik yang menangani kasus Cece dan kedua rekannya. Maupun yang menangani kasus MONAS, dimana bandar narkoba kelas kakap ini dibuatkan kasus berbeda oleh PENYIDIK BARESKRIM POLRI.

Semua jaksa yang dipanggil itu, akhirnya bisa dikumpulkan di ruang kerja JAMPIDUM Ritonga.

Dari sanalah terkuak, bahwa setelah Pihak Kejaksaan terlihat semakin mencurigai ada rekayasa dibalik kasus Taman Anggrek yaitu bandar utamanya yang menjadi pemilik dari 1 juta PIL EKSTASI dalam kasus Taman Anggrek (MONAS), justru tidak diajukan ke muka hukum untuk kasus yang sebenarnya menimpa Monas.

Rekayasa dari Pihak BARESKRIM POLRI sudah terlihat dari awal.

Dan dari keterangan Jaksa yang menangani kasus Cece dan kedua rekannya, Jaksa mendapatkan sebuah “janji” dari salah seorang utusan BNN.

Apa janji itu ?

Mereka akan mengajukan kembali Monas ke muka hukum untuk kasus Taman Anggrek.

Sebab, sangat lucu tetapi sebenarnya menjadi tidak lucu, jika PENYIDIK POLRI tidak mengajukan MONAS sebagai tersangka dalam kasus Taman Anggrek.

Pada penangkapan di Apartemen Taman Anggrek itu, bandar utama yang disinyalir menjadi pimpinan sindikat dan pemilik atas 1 juta PIL EKSTASI itu adalah MONAS.

Lalu bagaimana mungkin, MONAS bias diloloskan dari jerat hukum untuk kasus Taman Anggrek ?

Sudahlah, jangan terlalu banyak rekayasa dan aksi apapun yang seolah-olah mau menutupi aib dan kebusukan dari aparat penegak hukum. Buka dong, jangan ditutupi untuk kepentingan menjaga nama baik KOPRS.

Nama baik apa, sebab kinerja BNN dan Bareskrim POLRI (khususnya Direktorat Narkoba) memang tidak baik. Apa yang ditutup-tutupi ? Ada apa dengan KAPOLRI BHD ? Apakah patut dapat diduga, KAPOLRI BHD terlibat ? Sebab, ketika Sindikat Monas ditangkap pada bulan November 2007, pejabat yang menjadi Kabareskrim adalah BHD.

Kalakhar BNN Komjen Gories Mere saat menghadiri acara jumpa pers akhir tahun KAPOLRI tahun 2008Presenter TV One yang muda belia GRACE NATALIE LOUISA saat memberitakan CECE mendapat vonis MATI

Atau, patutkah dapat diduga bahwa KAPOLRI BHD tidak berani dan tidak punya nyali samasekali untuk menindak secara tegas Kalakhar BNN Komjen Gories Mere ?

Sejak awal, sudah beredar informasi bahwa patut dapat diduga BEKING UTAMA bandar narkoba MONAS ini adalah oknum perwira tinggi POLRI sendiri. Sehingga, sudah 3 kali berturut-turut MONAS diloloskan dari jerat hukum yang memungkinkan dirinya mendapat VONIS MATI.

Direktur IV Bareskrim POLRI, Brigjen Harry Montolalu sebaiknya hati-hati kalau berbicara kepada pers.

“Jangankan anda yang masih bintang 1, kepada Jenderal bintang 4 yang ada di MABES POLRI itupun sudah diberitahukan sejak akhir Desember 2008 bahwa patut dapat diduga ada sindikat bisnis jual beli narkoba yang dikendalikan CECE dan kelompoknya dari dalam jeruji besi”.

Jangan main-main kepada bangsa, negara dan rakyat Indonesia bila mendapatkan amanah jabatan !

Apa yang mau dikatakan oleh KAPOLRI BHD sekarang ?

Jangan katakan bahwa KAPOLRI BHD tidak tahu menahu soal indikasi jual beli narkoba dari dalam penjara terkait CECE.

Maaf Jenderal BHD, Jenderal ditempatkan dalam posisi jabatan sebagai KAPOLRI bukan untuk melindungi oknum anak buah yang patut dapat diduga memang berperilaku sangat kotor dan liar.

Lalu, kalau Brigjen Harry Montolalu seolah-olah terkejut karena didalam Rutan Pondok Bambu bisa masuk alat komunikasi HANDPHONE, kami sarankan sekali lagi agar hati-hati kalau berbicara kepada PERS.

Jangan asbun deh !

Coba, Brigjen Harry Montolalu pergi ke Rutan Brimob Kelapa Dua karena patut dapat diduga didalam Rutan itu semua TAHANAN memang “dibiarkan” mempunyai, membawa, memiliki dan menggunakan alat komunikasi HANDPHONE.

Jangan coba-coba mengatakan bahwa kami memfitnah atau mencemarkan nama baik POLRI.

Maaf Jenderal, siapapun Jenderalnya di POLRI, KATAKAMI mengetahui secara langsung bahwa patut dapat diduga kepemilikan dan penggunaan yang sangat bebas terhadap alat komunikasi HANDPHONE bagi para tahanan didalam Rutan tersebut.

Jangan pernah berpikir bahwa MEDIA MASSA adalah sarana untuk menyampaikan informasi blunder untuk mencari pembenaran diri. Tugas dari PERS NASIONAL adalah menyampaikan serta menyuarakan kebenaran dan keadilan.

Dalam kasus jual beli narkoba yang melibatkan CECE dari dalam Rutan Pondok Bambu, patut dapat diduga sudah diketahui KAPOLRI BHD sejak beberapa bulan lalu. Mengapa didiamkan ? Mengapa diendapkan ? Ada apa dibalik semua itu ?

Ilustrasi : SAY NO TO DRUGSilustrasi gambar

Tolong, jangan seperti inilah kinerja POLRI dalam menangani masalah narkoba. Jika patut dapat diduga, KOMJEN GM merupakan beking utama dari bandar narkoba MONAS, maka jangan dilindungi atau sengaja didiamkan saja karena selama ini tidak ada yang berani kepada perwira tinggi NTT tersebut.

Lalu, mau jadi apa INDONESIA, kalau patut dapat diduga PIMPINAN POLRI saja merasa takut dan sungkan kepada seorang bawahannya yang terindikasi menjadi beking utama bandar narkoba kelas kakap ?

CECE, mendapatkan vonis mati pada bulan September 2008. Dan pada bulan Desember 2008, sejumlah jurnalis senior sudah mendapatkan informasi bahwa patut dapat diduga CECE terlibat dalam bisnis jual beli narkoba.

Dan mustahil, BNN tidak memantau sepak terjang CECE pasca dijatuhkannya VONIS MATI.

Komisaris Jenderal Gories Mere, sejak masih aktif menangani masalah penanganan terorisme, patut dapat diduga sudah menggunakan alat penyadap atau INTERCEPT.

Jangankan Komjen Gories Mere secara pribadi, BNN secara INSTITUSI juga patut dapat diduga memang memiliki perangkat penyadapan yang sangat canggih.

Mustahillah, kalau disebut tidak tahu menahu bahwa CECE dan sindikatnya menggunakan HP untuk bisnis jual beli narkoba dari dalam penjara sebab patut dapat diduga semuanya itu sudah termonitor dari alat penyadap.

Presiden SBY

Sekarang tinggal bagaimana Presiden SBY dan Wapres JK, menyikapi masalah ini. Siapa yang mau ditindak terlebih dahulu oleh SBY- JK ?

Kapolri BHD, Komjen Gories Mere, Komjen Susno Duadji selaku KABARESKRIM atau Direktur IV Bareskrim POLRI Brigjen Harry Montolalu ?

Semakin aneh dan akan sangat mencurigakan bagi rakyat Indonesia, jika Presiden SBY pura-pura tidak tahu dan tidak mau tahu terhadap permasalahan ini.

Ada apa dibalik semua sikap tidah tahu dan tidak mau tahu itu ?

Apakah patut dapat diduga, ada rahasia menyangkut Presiden SBY yang ada di tangan KOMJEN GORIES MERE sehingga seorang Kepala Negara tidak berkutik menangani perwira tinggi NTT ini ?

Kami sudah kehilangan kata-kata lebih panjang lebar untuk menyoroti masalah ini karena kata-kata tampaknya sudah tidak berarti apa-apa. Alangkah sedihnya INDONESIA, ketika PEMERINTAHAN SBY-JK mengumbar keberhasilan yang gemilang selama hampir 5 tahun berkuasa di negeri ini.

Padahal pada kenyataan, untuk menindak secara tegas seorang oknum perwira tinggi yang patut dapat diduga menjadi BEKING UTAMA sindikat bandar narkoba kelas kakap semacam Liem Piek Kiong atau MONAS, ternyata tidak bisa berbuat apa-apa.

iklan katakan tidak pada narkoba

Jadilah, kasus narkoba menyangkut pasutri MONAS –CECE terlempar kesana-kemari bagaikan BOLA LIAR !

Ya, sudahlah. Apa boleh buat !

Pihak yang harusnya bertindak secara tegas saja terkesan tutup mata dan tutup telinga karena patut dapat diduga ada CINCAI-CINCAI atau gaya kepemimpinan TST alias tahu sama tahu.

Kalau orang Betawi bilang, apa kata elu deh ! Suka-suka elu deh. Tapi jangan coba-coba mengkhianati rakyat Indonesia. Satu saat, roda zaman akan menggilas siapapun yang buas dalam meraup keuntungan dari bisnis kotor seputar narkoba !

Perlukah kita katakan TIDAK kepada narkoba ?

Malas ah menjawabnya. Biarlah, pertanyaan itu dijawab oleh SBY, JK, BHD dan GORIES MERE !

Dan tidak ada kata lain yang harus disampaikan jika memang patut dapat diduga terlibat dan terbukti bersalah menjadi “beking utama” dari pasutri BANDAR NARKOBA LIEM PIEK KIONG ALIAS MONAS DAN CECE, yaitu :

COPOT GORIES MERE, TANGKAP, PENJARAKAN DAN ADILI SESUAI PROSES HUKUM YANG BERLAKU.

(MS)

Iklan

Juni 16, 2009

Jika Patut Dapat Diduga Terlibat & Terbukti Bersalah Sebagai Beking Bandar Narkoba Liem Piek Kiong, Copot, Adili & Berikan VONIS MATI Pada Gories Mere

Filed under: GORIES MERE,liek — katakamikatakami @ 4:22 pm


121-gm4

Jakarta (KATAKAMI) Hampir 3 bulan kontroversi kasus rekayasa Berita Acara Pemeriksaan (BAP) bandar narkoba Liem Piek Kiong alias Monas menguak ke permukaan. Sejak pertengahan bulan Desember lalu, Tim Irwasum Polri menangani kasus ini.

Sejak awal, sudah tercium kabar tak sedap yaitu patut dapat diduga Komisaris Jenderal GM adalah beking utama dari bandar narkoba Monas. Herannya perwira tinggi ini tidak tersentuh samasekali oleh pemeriksaan internal POLRI.

Patut dapat diduga, kabar tentang keterlibatan dalam kasus seputar bandar narkoba Monas ini bukan kasus pelanggaran hukum pertama yang melibatkan Komjen GM.

Jauh sebelumnya, yaitu saat era kepemimpinan Jenderal Sutanto pun sudah ada kasus lain yang sama kotornya yaitu patut dapat diduga Komjen GM adalah otak pelaku dari pencurian barang bukti 13 kg sabu-sabu.

Kasus bandar narkoba Liem Piek Kiong Alias MONAS

Kasus bandar narkoba Liem Piek Kiong Alias MONAS

Walau banyak yang menyebutkan bahwa Komjen GM dekat dengan Sutanto, tetapi ketika itu kemarahan Sutanto tak bisa dihindari lagi. Setelah mendapat teguran keras dan ancaman dari Sutanto agar secepatnya barang bukti yang hilang itu dikembalikan ke gudang penyimpanan, akhirnya barang bukti yang hilang itu memang bisa kembali secara “ajaib” ke gudang penyimpanan.

Bukan apa-apa, kasus hilangnya barang bukti 13 kg sabu-sabu tersebut menjadi sorotan publik yang sangat memalukan Polri.

Dari segi nominal angka memang termasuk kecil angka 13 kg. Tetapi kalau dijual ke pasaran, dari barang seberat 13 kg sabu-sabu ini maka penjualnya akan meraup keuntungan sebesar Rp.13 miliar !

Bayangkan, betapa kaya raya oknum pelaku PENCURIAN barang bukti narkoba di negara ini kalau dibiarkan terus menerus menggerogoti gudang penyimpanan.

Kapolri Sutanto saat sidak kasus bandar narkoba Liem Piek Kiong Alias MONAS

Tim Irwasum Polri saat mulai memeriksa kasus bandar narkoba Monas, terlebih dahulu memeriksa para Penyidik di Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya.

Yang sulit untuk dipahami adalah Tim Irwasum melewatkan satu celah yang sangat penting dalam kasus bandar narkoba Monas. Patut dapat diduga, biaya renovasi dari Gedung Direktorat Polda Metro Jaya berasal dari sumbangan pasangan Liem Piek Kiong dan Jet Li isterinya.

Pemeriksaan Tim Irwasum harus diperluas dan diperdalam. Tidak cuma memeriksa seputar kasus rekayasa BAP saja, tetapi keseluruhan dari sepak terjang Monas.

Bandar dan mafia yang kotor ini sudah untuk yang tiga kalinya lolos dari jerat hukum. Hal ini tidak akan pernah bisa terjadi kalau tidak ada beking utamanya didalam internel Polri sendiri.

Janganlah ada yang kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu. Jika memang ada dugaan keterlibatan dari perwira tinggi sekalipun, tangkap, penjarakan dan seret ke muka hukum.

Lepas dari semua jasa atau prestasi Komjen GM dalam bidang penanganan terorisme sejak 8 tahun terakhir, ia pantas untuk dibawa ke muka hukum jika memang terindikasi melakukan perbuatan melawan hukum.

Jasa atau prestasi apapun, tidak akan ada gunanya jika seseorang menjadikan semua itu sebagai pembenaran untuk melakukan apa saja yang melanggar hukum di negara ini.

Semua warga negara sama kedudukannya di muka hukum sehingga siapapun yang melanggar hukum harus diadili & dihukum

Semua warga negara sama kedudukannya di muka hukum sehingga siapapun yang melanggar hukum harus diadili & dihukum

Jasa atau prestasi dari Komjen GM dalam penanganan terorisme juga akhirnya akan terkuak bahwa semuanya itu tidak sempurna dan tidak harum secara semerbak.

Patut dapat diduga, didalam penanganan terorisme itu sendiri ada begitu banyak dugaan pelanggaran yang bermuara pada penggunaan kewenangan secara berlebihan dan ada bau anyir pundi-pundi. Pemberian eksklusivitas pemberitaan kepada satu media massa televisi selama 7 tahun (dari mulai kasus peledakan bom malam natal tahun 2000 sampai periode penanganan teroris Abu Dujana – Zarkasih), patut dapat diduga dampak dari penggunaan wewenang yang berlebihan dari Komjen GM.

Patut dapat diduga, peminjaman ALI IMRON — terpidana kasus Bom Bali I — sejak tahun 2003 sampai saat ini adalah dampak dari penggunaan wewenang yang disalah-gunakan juga oleh Komjen GM.

Patut dapat diduga, pemberian segala fasilitas dan kemewahan hidup untuk ALI IMRON (termasuk didalamnya pembuatan buku memoar alias otobiografi dari ALI IMRON) adalah atas penggunaan wewenang yang berlebihan dari Komjen GM.

Terpidana Teroris ALI IMRON dipinjam dari LP Krobokan sejak tahun 2003 sampai saat ini oleh TIM ANTI TEROR POLRI. Seret teroris yang bengis ini dan kembalikan ke penjara untuk menjalani masa hukumannya PIDANA PENJARA SEUMUR HIDUP !

Terpidana Teroris ALI IMRON dipinjam dari LP Krobokan sejak tahun 2003 sampai saat ini oleh TIM ANTI TEROR POLRI. Seret teroris yang bengis ini dan kembalikan ke penjara untuk menjalani masa hukumannya PIDANA PENJARA SEUMUR HIDUP !

Jasa atas prestasi dari Komjen GM dalam penanganan terorisme, bercampur aduk antara harum semerbak yang wangi dengan bau busuk yang sangat sengit karena begitu banyak dugaan pelanggaran hukum yang terkandung di dalamnya. POLRI harus tegas menangani masalah Komjen GM.

Jika memang ada indikasi keterlibatan dalam kasus bandar narkoba Monas, Komjen GM sekalipun harus diperiksa. Dan jika terdapat bukti-bukti keterlibatan (apalagi bukti nyata sebagai beking utama dari bandar narkoba Monas), Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri tak perlu ragu untuk memerintah penangkapan terhadap Komjen GM dan menahannya di Rutan POLRI.

Reformasi Birokrasi POLRI harus tegas dan keras menyikapi oknum-oknum yang patut dapat diduga melakukan perbuatan melawan hukum secara terus menerus dan berkesinambungan. Periksa semua rekening, aset pribadi dan harta kekayaan Komjen GM. Termasuk 3 rumah yang patut dapat diduga DIBERIKAN kepada oknum polwan yang berselingkuh dengan diri oknum perwira tinggi ini.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan PPATK, dapat dikerahkan untuk bekerjasama dengan MABES POLRI memeriksa semua rekening-rekening dari Komjen GM, isterinya, kedua anaknya dan bahkan rekening dari oknum polwan yang dekat dengan oknum perwira tinggi ini.

Tak perlu ragu menindak siapapun yang mencari kekayaan abadi lewat cara-cara yang salah dan melanggar hukum ! Jangan ada upaya untuk mendiamkan atau melindungi siapapun yang patut dapat diduga melakukan pelanggaran hukum. Indonesia adalah negara hukum ! Bahkan KATAKAMI.COM juga sangat terkesima, belakangan ini patut dapat diduga oknum perwira tinggi berinisial GM menjadi tidak malu-malu untuk ikut teruus-menerus merusak SITUS BERITA WWW.KATAKAMI.COM dan semua BLOG kami di WordPress, terutama bila sudah ada berita soal Bandar Narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS, serta tulisan seputar oknum POLWAN yang patut dapat diduga berselingkuh dengan oknum berinisial GM ini sejak belasan tahun silam. Luar biasa, sudah tidak ada rasa malu samasekali.

Patut dapat diduga inilah oknum polwan yang berselingkuh dengan oknum perwira tinggi GM Sejak belasan tahun lalu, sehingga keduanya layak dicopot dari jabatannya dan diberhentikan secara tidak hormat sebagai POLISI

Patut dapat diduga inilah oknum polwan yang berselingkuh dengan oknum perwira tinggi GM Sejak belasan tahun lalu, sehingga keduanya layak dicopot dari jabatannya dan diberhentikan secara tidak hormat sebagai POLISI

Terutama jika ada tulisan yang menyinggung atau memuat tentang bandar narkoba MONAS. Bahkan ketika profil dari Irwasum Polri Komjen Polisi Jusuf Manggabarani dimuat, tulisan itupun dirusak karena didalamnya ada menyinggung masalah bandar narkoba Monas.

Juga tulisan tentang oknum polwan yang patut dapat diduga berselingkuh, termasuk yang dirusak terus menerus tanpa ada rasa malu dari oknum perwira tinggi ini.

OTAK PELAKU pengrusakan tulisan seputar bandar narkoba Monas ini sangat percaya diri bahwa dirinya tidak akan pernah bisa diperiksa atau dipersalahkan oleh PIHAK BERWAJIB. Jangan lupa, kami telah melaporkan kasus pengrusakan ini kepada Komnas HAM dan beberapa Fraksi di DPR-RI.

Dan kepada Kapolri BHD, jangan biarkan nama baik dan kehormatan POLRI menjadi tercoreng hanya karena ulah seorang oknum saja.

Terkenang Saat Antasari Nyanyi Juwita Malam Tapi Kini Dipenjara, Selamat Polda Metro Jaya , Periksa Gories Mere, Lalu SBY Didesak Copot Kapolri BHD


Jakarta 4 APRIL 2009 (KATAKAMI) Bersamaan dengan hari pemeriksaan sekaligus penahanan Antasari Azhar di Rutan Polda Metro Jaya pada hari Senin (4/5/2009) ini, Group Musik terkenal SLANK berkunjung ke Kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk tetap memberikan dukungan terhadap upaya pemberantasan korupsi.

Antasari Azhar pernah berkunjung ke MARKAS SLANK tanggal 16 April 2008 dan ketika berada di GANG POTLOT itu mantan Direktur Penuntutan Pada Jampidum Kejaksaan Agung ini menyanyikan lagu JUWITA MALAM.

Jadi kalau METRO TV memasang lagu TOO MUCH LOVE WILL KILL YOU untuk menjadi backsound berita tentang penahanan Antasari Azhar pada Senin malam ini, KATAKAMI.COM lebih memilih memuat lirik lagu JUWITA MALAM. Intinya sama, sambil menyajikan berita-berita aktual maka ada baiknya diselingi dengan senandung-senandung yang menghibur. Tak ada maksud buruk dari MEDIA MASSA jika melakukan improvisasi.

Bicara tentang lagu JUWITA MALAM, saat menyanyikan lagu itu di GANG POTLOT di tahun 2008 lalu Antasari mengenakan JAKET KULIT HITAM. Ganteng habis ! Iya dong, pejabat tinggi negara yang biasa berjas, tiba-tiba berpenampilan yang “lain dari biasanya” yaitu mengenakan jaket kulit.

Terbayang kalau misalnya suara berat Antasari menyanyikan lagu JUWITA MALAM itu, disenandungkan didepan RANI JULIANTI yang patut dapat diduga sengaja menghilangkan diri untuk lari dari kejaran hukum. Wah, bisa-bisa melambung tinggi khayalan saat mendengarkan lagu JUWITA MALAM dengan penuh perasaan.

Mengapa kami membawa-bawa nama RANI JULIANTI ? Ya, karena patut dapat diduga perempuan muda berusia 22 tahun inilah yang menjadi pemicu perseteruan antara Antasari Azhar dengan Nasrudin Zulkarnaen.

Semua perkembangan memang bagaikan panggung sandiwara. Masih kental dalam ingatan kita saat Antasari menggelar jumpa pers di kediamannya hari Minggu (3/5/2009) kemarin. Sungguh sangat romantis saat bibir yang diselimuti KUMIS TEBAL itu menciumi sang isteri di hadapan wartawan yang hadir.

Dan Senin (4/5/2009) ini, panggung sandiwara itu menyajikan babak berikutnya yang lebih mencengangkan.

ANTASARI AZAHAR dijebloskan ke dalam PENJARA yaitu di RUTAN POLDA METRO JAYA.

Habis sudah semua hiruk pikuk yang berisi bantahan dan pembelaan diri dari pihak Antasari Azhar. Dampak politis yang terberat dari penahanan Antasari Azhar ini ada di pundak PRESIDEN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO.

Betul bahwa proses hukum sedang berjalan dan ada azas praduga tidak bersalah yang harus dihormati (presumption of innocent). Tetapi, secara moral penetapan status tersangka dan penahanan Antasari Azhar ini sudah mencoreng muka PEMERINTAHAN SBY.

Inilah potret PEMERINTAHAN INDONESIA dibawah kepemimpinan SUSILO BAMBANG YUDHOYONO.

Inilah yang patut dipertimbangkan oleh SBY saat dengan penuh antusias memasang poin keberhasilan pemberantasan korupsi dalam iklan-iklan politiknya.

Walau Antasari tidak terperosok dalam kasus korupsi tetapi kasus hukum yang kini menyeret nama Antasari Azhar adalah kasus yang jauh lebih memalukan yaitu patut dapat diduga Antasari adalah dalang pembunuhan terhadap Nasrudin Zulkarnaen karena CINTA SEGITIGA.

Betapa malunya kalau misalnya kita yang jadi PRESIDEN SBY.

Sudah tak bisa untuk pura-pura tenang dan berwibawa. Tragedi hukum yang menyeret nama Antasari Azhar pada kasus pembunuhan ini, sudah langsung merobohkan dan melenyapkan kepercayaan rakyat Indonesia kepada PRESIDEN SBY, demikian yang diungkapkan ADHIE MASSARDI, Jurubicara dari Kelompok Bangkit Indonesia.

“Betul bahwa ada asas praduga tidak bersalah, itu harus kita hormati. Tetapi secara moral, dengan penetapan status tersangka dan penahanan Antasari maka tanggung-jawab moral yang sepenuhnya ada pada SBY. Kasus Antasari ini sudah menghancurkan sisa-sisa kepercayaan rakyat Indonesia. Apalagi yang mau dikatakan sekarang ? Apa masih mau didiamkan ? Copot dong Antasari, tidak bisa dibiarkan mengambang begini. Proses hukum memang harus berjalan tetapi jabatan Antasari sebagai Ketua KPK harus segera dicopot. Jadi kalau sekedar non aktif saja, percuma” kata Adhie Massardi lewat wawancara khusus dengan KATAKAMI.COM di Jakarta, Senin (4/5/2009).

Dan menurut mantan jurubicara kepresidenan era Presiden Gus Dur ini, ada satu lagi pejabat yang harus dicopot oleh PRESIDEN SBY.

“Selain Antasari, SBY juga harus segera mencopot KAPOLRI Jenderal Bambang Hendarso Danuri sebagai wujud dari pertanggung-jawaban moral. Coba lihat permasalahannya, ada kasus pembunuhan yang sangat sadis di republik ini menyeret Pejabat Tinggi Negara yang lembaganya merupakan bagian tak terpisahkan dari Pemerintahan SBY. Dan hebatnya lagi, kasus pembunuhan itu dilakukan oleh POLISI ! Dimana tanggung-jawab BHD sebagai Kapolri ? Memang BHD tidak terlibat secara teknis.Tetapi seorang PANGLIMA harus secara kesatria memikul tanggung-jawab. Ini aib bagi Pemerintahan SBY, apakah Capres Partai Demokrat ini akan tetap mempertahankan 2 Pejabat Tinggi Negara yang kini dianggap bermasalah oleh rakyat Indonesia ? tanya Adhie Massardi.

Adhie Massardi menambahkan bahwa keterlibatan anggota POLRI sebagai eksekutor yang melakukan pembunuhan terhadap Nasrudin Zulkarnaen adalah contoh konkrit kegagalan BHD sebagai Kapolri.

“Memalukan sekali, ada dalam kepemimpinan BHD di dalam struktur organisasi POLRI, bisa terjadi tragedi pembunuhan yang sangat sadis, brutal dan tidak manusiawi. Sadari bahwa keterlibatan anggota POLRI dalam kasus pembunuhan ini wajin dipertanggung-jawabkan oleh KAPOLRI BHD. Dan pertanggung-jawaban itu harus dikendalikan langsung oleh SBY dengan cara mencopot Jenderal Bambang Hendarso Danuri. Sudah tidak ada alasan untuk berkelit. Kalau memang di Indonesia ini belum ada budaya bagi para pejabat untuk mundur secara kesatria kalau ada kesalahan fatal yang dilakukan dirinya atau lembaganya, maka Presiden yang harus pro aktif. Copot Kapolri !” pungkas Adhie Massardi.

Seluruh dunia tersentak atas kasus pembunuhan ini.

Era yang sangat canggih seperti ini, masih bisa terjadi tragedi pembunuhan ala mafioso yang bengis. Makelar pembunuhan yang menjadi fasilitator kebiadaban ini, patut dapat diduga sudah merancang segala sesuatunya agar PIHAK lain dalam struktur organisasi POLRI yang terkena getahnya.

Bayangkan, sampai senjata api yang mau digunakan untuk membunuhpun, sudah diatur agar dibeli saja dari anggota TNI Angkatan Laut yang sudah disersi.

POLRI yang harusnya menjadi pengayom, pelindung dan pelayan masyarakat, justru ada oknumnya yang menjadi PEMBUNUH bagi rakyatnya sendiri.

POLRI yang benar-benar sangat dicintai dan dibanggakan oleh rakyat Indonesia, ternyata ada oknumnya yang menjadi PEMBUNUH bagi rakyatnya sendiri.

Tapi lepas dari permasalahan ini, fakta riil yang harus diacungi jempol adalah KINERJA POLDA METRO JAYA dibawah kepemimpinan Irjen Polisi Wahyono.

Siap, ini kerja yang membanggakan Jenderal ! Selamat.

Tidak gampang untuk menangani situasi yang pelik seperti ini. Bayangkan, POLDA METRO JAYA harus berhadap-hadapan dengan seorang Pejabat Tinggi Negara yang sedang aktif di puncak kekuasaannya karena patut dapat diduga tersandung dalam kasus hukum berbau anyir pembunuhan.

Jempol kami acungkan untuk Jajaran Penyidik Reserse di Direktorat Kriminal Umum dibawah pimpinan Kombes Mochamad Iriawan (IWAN).

Selamat, sekali lagi Selamat.

Hampir saja, proses pemeriksaan ini terancam kacau balau karena patut dapat diduga Pihak KEJAKSAAN AGUNG sudah kebelet untuk memuntahkan dendam mereka kepada Antasari. Sehingga, keputusan pencekalan sudah diumumkan kepada masyarakat. Padahal POLDA METRO JAYA mengirimkan surat panggilan untuk Antasari sebagai SAKSI.

Ini menjadi pelajaran untuk HENDARMAN SUPANDJI sebagai Jaksa Agung.

Anda juga harus belajar lebih santun, beretika dan menghormati proses hukum yang sedang dijalankan oleh Pihak Kepolisian. Ya, kami berbicara kepada HENDARMAN SUPANDJI.

Masak tidak malu, berperilaku seperti itu di hadapan rakyat Indonesia ?

Sabar dong sedikit. Anda kan juga aparat penegak hukum. Masak anda tidak memperhitungkan bahwa pengumuman tentang pencekalan itu akan menjadi kontradiksi dengan tugas yang dijalankan Pihak Kepolisian.

Patut dapat diduga bahwa seorang jurubicara tidak akan pernah “bunyi”, kalau tidak ada perintah dari JAKSA AGUNG.

Kan bisa jadi berantakan semuanya kalau misalnya ada seseorang yang sudah pasti akan dijadikan tersangka, justru melarikan diri karena patut dapat diduga ia takut menghadapi kenyataan.

HENDARMAN SUPANDJI harus sadar dong bahwa yang dihadapi dan ditangani oleh POLDA METRO JAYA dalam kasus ini, bukan warga negara kelas dua atau barang rongsokan yang tidak ada harganya.

POLDA METRO JAYA harus memeriksa seorang Pejabat Tinggi Negara, camkan itu !

Untuk anda, yang bernama HENDARMAN SUPANDJI, sadarilah bahwa tindakan anda sangat disayangkan oleh banyak Pihak.

Hormati wilayah tugas dari INSTANSI lain yang memerlukan prinsip kehati-hatian dalam menjalani dan menanganinya. Memalukan sekali kalau belum apa-apa, sudah ada yang mau “kipas-kipas” tanda kesenangan.

HENDARMAN SUPANDJI harus sadar dong bahwa INSTANSI KEJAKSAAN AGUNG juga tidak sangat bersih kinerjanya. Jadi, kalau patut dapat diduga sama-sama bermasalah maka ikuti saja aturan main yang berlaku dalam proses hukum.

(Ki-Ka : Jaksa Ester, Urip Tri Gunawan, Ratmadi Saptondo, Kemas Yahya Rahman & M. Salim, serta barang bukti kasus bandar narkoba MONAS)

Bagaimana kabarnya kasus JAKSA ESTHER yang patut dapat diduga menjadi TUKANG TILEP narkoba ?

Bagaimana kabarnya jaksa-jaksa penuntut umum yang menangani kasus narkoba Taman Anggrek yang melibatkan sindikat Liem Piek Kiong alias Monas karena patut dapat diduga JAKSA sudah kongkalikong untuk tutup mulut ketika MONAS tidak dilimpahkan berkas perkaranya oleh Pihak BARESKRIM POLRI kepada Pihak KEJAKSAAN.

Kejaksaan Agung harus banyak introspeksi diri karena patut dapat diduga dalam kurun waktu 2 tahun kepemimpinan HENDARMAN SUPANDJI, nama baik dan citra KEJAKSAAN AGUNG justru menjadi hancur berantakan dan bau busuk akibat banyaknya kasus-kasus yang memalukan.

Dan kembali pada permasalahan penetapan status tersangka dan penahanan Antasari Azhar di Rutan Polda Metro Jaya, semua pihak menunggu hasil pemeriksaan pihak KEPOLISIAN.

Katakan yang bersalah itu memang bersalah !

Siapapun, bahkan jika patut dapat diduga ada oknum POLRI berpangkat KOMISARIS JENDERAL yang dimungkinkan menjadi MAKELAR PEMBUNUHAN ini. Mau sehebat apapun direkayasa agar pihak lain dalam internal POLRI yang terkena dampaknya, POLDA METRO JAYA jangan pernah ragu untuk menangkap yang pangkatnya sudah “diatas”.

Tidak tahu malu !

Kalau manusia semacam ini memang tidak punya malu maka BANGSA, NEGARA & RAKYAT INDONESIA yang malu, punya seorang aparat POLISI berpangkat tinggi yang patut dapat diduga cari makan lewat uang kotor dan haram. Kalau patut dapat diduga, bakat utamanya adalah sebagai PEMBUNUH, maka jangan bersandiwara dan bersembunyi dibalik seragam polisi.

Brengsek, bikin malu Indonesia saja.

Irjen Wahyono dan bawahannya yang sedang menangani kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen ini, juga harus segera mencari dan menangkap bekas caddy bernama RANI JULIANTI itu.

Tidak ada yang boleh lepas dalam situasi yang sangat blunder seperti ini.

Kita harus ingat beberapa tahun silam, seorang Menteri dibacok kepalanya dan akhirnya meninggal dunia setelah menderita sakit bertahun-tahun. Ternyata yang ada dibalik kejahatan brutal itu adalah isteri mudanya.

Tangkap Rani Julianti. Dan tangkap, oknum Perwira Tinggi POLRI yang patut dapat diduga menjadi MAKELAR PEMBUNUHAN yang sadis, brutal dan tidak manusiawi ini.

Heran, kok tidak tahu diri. Bisa-bisanya melemparkan kesalahan kepada perwira menengah dan kepada Divisi lain agar orang lain yang terkena dampaknya.

Pengecut sekali. Banci saja, tidak akan pernah sepengecut ini. Sudah membunuh orang, sekarang mau enak-enakan cari selamat.

Hoi, keluar dong. Akui kesalahan !

Patut dapat diduga dari usaha sampingan sebagai BEKING BANDAR NARKOBA, sekarang patut dapat diduga menjadi MAKELAR PEMBUNUHAN.

Sadis ! Dan karena ketakutan jika kebusukan ini tercium lewat tulisan-tulisan KATAKAMI maka patut dapat diduga PERWIRA TINGGI yang liar ini terus berusaha merusak dan melakukan sabotase pada KATAKAMI.COM. Dan untuk menutup tulisan ini, diharapkan Jajaran Polda Metro Jaya tetap mengembangkan pemeriksaan pada proses penyidikan ini. Termasuk mencermati apakah patut dapat diduga ada keterlibatan KOMISARIS JENDERAL GORIES MERE dan kelompoknya.

Mohon maaf, kami tidak bermaksud memfitnah siapapun tetapi terus terang saja didalam struktur organisasi POLRI yang mempunyai kemampuan tinggi adalah GORIES MERE karena ia dan kelompoknya sudah sangat dilatih untuk sempurna ilmu serta kemampuannya dalam menangani terorisme. Tak cuma kemampuan dalam bidang IT, tetapi dalam hal tembak-menembak.

Patut dapat diduga, rekam jejak yang bersangkutan juga tidak sempurna dalam menapaki kariernya sebagai POLISI karena tercatat berulang kali terkait dalam pelanggaran hukum menyangkut penanganan narkoba. Tapi tidak ada satupun yang diproses secara hukum.

Misalnya, patut dapat diduga terlibat dalam kasus pencurian barang bukti sabu-sabu 13 kg beberapa tahun lalu dan meloloskan sebanyak 3 kali berturut-turut atas bandar narkoba Liem Piek Kiong (MONAS).

Patut dapat diduga, GORIES MERE terlibat juga dalam pembunuhan misterius secara sadis terhadap bandar narkoba HANS PHILIP dan salah seorang beking HANS PHILIP dari unsur KEPOLISIAN yaitu Sugeng Basuki justru bisa menjadi PENYIDIK Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada bulan Februari 2008.

Padahal Sugeng Basuki sudah pernah ditahan dan diancam dipecat dari POLRI karena memang terbukti menjadi beking bandar narkoba HANS PHILIP.

Patut dapat diduga, keberadaan Sugeng Basuki menjadi Penyidik KPK bisa menjadi entry point atau jalan masuk untuk menyingkap sindikat narkoba atau perjudian yang melingkari Antasari Azhar. Bayangkan, bagaimana mungkin seorang POLISI yang sudah nyata-nyata ditemukan berbagai indikasi pelanggarannya sebagai beking (yang ditempatkan “beking utama yang sebenarnya”) untuk melindungi Hans Philip, bisa menjadi Penyidik KPK.

Ketika KAPOLRI dijabat oleh Jenderal Dai Bachtiar, Sugeng Basuki sudah dipastikan akan segera dipecat karena senjata api yang diberikan INSTITUSI POLRI kepada Sugeng Basuki justru diberikan kepada Hans Philip.

Tetapi pada akhirnya, Hans Philip mati secara sangat misterius yaitu patut dapat diduga ditembak di bagian kepala oleh Gories Mere dan kelompoknya di daerah Bogor.

Badan Intelijen Negara (BIN) mengetahui kabar bahwa patut dapat diduga Sindikat Gories Mere terkait dalam “kematian misterius” bandar narkoba Hans Philip di daerah Bogor. Jika memang ada penegakan hukum di Indonesia, mengapa patut adfa tindakan PEMBUNUHAN terhadap bandar narkoba hans Philip ?

Ada apa sehingga seorang bandar langsung dibinasakan dan dilenyapkan dari muka bumi ini dengan cara yang sangat sadis ?

Dan patut dapat diduga, Kapolri yang saat itu menjabat (Jenderal Dai Bachtiar) tak berani menindak Gories Mere sehingga yang terkena dampaknya adalah kroco-kroco tingkat bawah dalam sindikat Gories Mere.

Patut dapat diduga, ada seorang POLISI di tingkat bawah sudah lebih dari 5 tahun mengalami depresi berat dan sangat terpukul karena ia sengaja dikorbankan oleh Gories Mere dalam kasus narkoba.

Akibat kalah pangkat maka si POLISI yang satu ini yang dengan mudah dipermainkan. Dan sampai sekarang, POLISI yang sangat malang terzolimi secara tidak manusiawi ini masih tetap ada di Mabes POLRI dan tetap mendekatkan diri dalam ajaran agama (Islam).

Patut dapat diduga, Gories Mere adalah orang yang harus bertanggung-jawab ketika terbongkar dan ketahuan ada sejumlah alat penyadap yang dipasang secara liar di kediaman dinas KAPOLRI.

Patut dapat diduga, ada teror dan intimidasi yang sangat berlebihan kepada sejumlah JURNALIS yang mencoba membuka berbagai pelanggaran hukum yang dilakukan Gories Mere sejak beberapa tahun terakhir ini yaitu dari mulai pengrusakan sepeda motor, pengrusakan SITUS KATAKAMI dan rangkaian teror lainnya yang dialami sejumlah JURNALIS.

Patut dapat diduga, Gories Mere terlibat dalam sebuah kasus kematian “seseorang” yaitu saat Gories Mere dengan sengaja memerintahkan kepada seorang PENYIDIK POLRI agar mau menuliskan dalam hasil tugasnya bahwa mayat tang terbujur kaku di Anyer belasan tahun lalu adalah memang seorang Direktur Bank yang terlibat dalam kasus ekonomi.

Sementara Penyidik itu samasekali belum melakukan pemeriksaan sesuai ketentuan hukum, apakah benar mayat itu adalah mayat dari Direktur Bank yang dimaksud.

Patut dapat diduga, Penyidik POLRI itu sempat mau “diberi pelajaran” oleh Gories Mere tetapi ada pihak-pihak lain di POLRI yang tahu bahwa Penyidik itu tidak bersalah (dan justru Penyidik inilah yang benar), langsung mengamankan si Penyidik tadi dan sampai sekarang masih tetap aktif bertugas di POLRI.

Patut dapat diduga, seorang Perwira Menengah yang berada didalam lingkaran (ring satu) Gories Mere pernah melakukan penyekapan terhadap seseorang agar mengakui hal-hal tertentu dalam kasus illegal logging.

Patut dapat diduga, Perwira Menengah ini jugalah yang berada dibalik pembuatan situs rekayasa dari negara Kanada tahun lalu yaitu situs yang memuat surat wasiat Amrozi cs. Bayangkan juga, Amrozi cs yang saat itu tinggal menunggu hari kematiannya di LP Batu Nusa Kambangan difitnah memuat surat wasiatnya lewat sebuah situs.

Kabarnya, Perwira Menengah POLRI yang “sok jago” itu berbulan-bulan bolog dari pekerjaannya di BARESKRIM POLRI, tanpa ada keterangan resmi apapun.

Patut dapat diduga, Gories Mere adalah agen asing yaitu menyuplai rahasia negara dalam penanganan terorisme.

Salah satu contoh yaitu patut dapat diduga, sebelum penangkapan terhadap Zarkasih dan Abu Dujana tanggal 9 Juni 2007, Gories Mere mengundang sejumlah polisi dari negara tertentu untuk intes bertemu di sebuah hotel mewah di kawasan Kuningan Jakarta Selatan.

Dan setelah Zarkasih dan Abu Dujana tertangkap, patut dapat diduga Pemimpin Dunia yang pertama dihubungi Gories Mere untuk dilapori bahwa ada penangkapan terhadap teroris adalah Perdana Menteri Australia.

Presiden SBY dianggap angin lalu karena baru dilapori tentang penangkapan itu pada kesempatan yang berikutnya. Itu sebabnya, tahun 2007 itu Istana Kepresidenan tidak mengeluarkan pernyataan resmi sebagai tanda ucapan selamat atas penangkapan tersebut karena ada ketersinggungan yang sangat prinsip mengenai ulah Gories Mere yang patut dapat diduga memang dikenal sangat liar ini.

Kami tidak sembarang bicara tetapi patut dapat diduga kemampuan yang lihai dan licik berbahaya memang dikuasai semua tekniknya oleh GORIES MERE.

Sudahlah, kepada siapapun yang patut dapat diduga menjadi MAKELAR pembunuhan ini, anda bertanggung-jawab dong, Jagoan !

Kombes WW belum setinggi “perwira tinggi tertentu” ilmunya dalam melakukan segala sesuatu yang ujud-ujungnya adalah mencari usaha sampingan yang menghasilkan pundi-pundi.

Kombes WW, hanya perwira menengah yang pasti didalam kepalanya hanya mengikuti hierarki dan garis komando penugasan.

Apakah ia hanya sebagai alat dari oknum yang pangkat dan angkatannya jauh lebih tinggi ?

Apakah saat melakukan persiapan eksekusi ini, Kombes WW berada dalam keadaan sehat jasmani dan rohani sebab patut dapat diduga “perwira tinggi tertentu” yang sangat liar berbahaya di POLRI itu, memiliki kemampuan hipnotis yang sangat berbahaya dan ketergantungannya kepada ilmu supranatural memang sangat kuat.

Disini POLRI harus berani membuka karena tidak ada yang kebal hukum di negara ini. Buka, buka semua.

Jangan pernah takut terhadap orang per orang. Jika memang ada kendala bagi POLDA METRO JAYA untuk menangani kelompok tertentu yang dikenal sangat UNTOUCHABLE di dalam struktur organisasi POLRI maka jangan pernah ragu-ragu meminta dukungan dari JAJARAN POLHUKKAM, bahkan kepada Presiden SBY dan Wapres JK.

Tuntaskan penyelesaian kasus ini. Keterlaluan yang menjadi MAKELAR pembunuhan ini.

Tidak tahu malu karena yang dilakukan seperti binatang liar yang buas kelaparan tetapi tidak bertanggung-jawab.

(MS)

Kisah Klenik Oknum Polwan VIVICK TJANGKUNG Yang Berkelana Ke Dukun Untuk Mengurus Kekasihnya Yaitu GORIES MERE Biar Jadi Kapolri (Busyet Deh !)

Filed under: GORIES MERE,katakami,vivick tjangkung,world news — katakamikatakami @ 4:02 pm

1-vivick_tjangkung_014

Ibu Bertha Blasius Joakim Mere & Ibu Nina Campos Gories Mere, Inilah Kisah Klenik Oknum Polwan Vivick Tjangkung Mengurus Skandalnya Dengan GORIES MERE

JAKARTA DESEMBER 2008 (KATAKAMI) Bukan sulap sembarang sulap. Ini memang fakta yang terjadi sebenarnya. Kalau didepan media massa, ada Pejabat Negara yang hobi memamerkan perilaku yang “sok santun” tetapi ternyata dibelakang layar sangat klenik !

Menjelang akhir tahun 2008 lalu, seorang Pejabat Negara mengutus “sang isteri” untuk mendatangi seorang Paranormal untuk menjatuhkan sesama Pejabat Negara. Bahkan ke Paranormal yang sama, seorang Polwan dari Polda Metro Jaya datang untuk mengurus hubungannya dengan seseorang yang diduga sebagai kekasih gelapnya sesama POLISI dan sesama berasal dari NUSA TENGGARA TIMUR. Pasalnya, sang Polwan merasa sejak setahun terakhir sudah tidak dibiayai lagi.

Dibandingkan isteri sang Pejabat Negara, sebenarnya yang lebih dulu datang bertamu ke rumah sang Paranormal itu seorang Polwan. Rumah Sang Paranormal itu di daerah ujung Cinere Jakarta Selatan (lokasi tepatnya, tidak bisa kami sebutkan).

Menggunakan rok, sang Polwan ditemani seorang temannya.

Sebutlah nama Paranormal itu “Matahari” (kami mohon maaf, berdasarkan kesepakatan, inisial nama, nama lengkap, lokasi kediaman dan jenis kelamin Paranormal tidak akan kami muat disini).

Matahari menerima kedua orang tamunya awal Oktober lalu. Sang Polwan membawa foto seorang Perwira Tinggi. Yang pertama dibicarakan adalah soal macetnya pembiayaan dari Perwira Tinggi kepada Sang Polwan.

“Saya ini saudaranya, isteri Bapak ini selingkuh, jadi saya yang mengurus” begitu kata Si Paranormal meniru kata-kata si Polwan yang kuat merokoknya.

Paranormal ini tahu bahwa si Polwan itu menipu.

Sebab, Paranormal itu tahu siapa gerangan Perwira Tinggi yang ada didalam foto, yang dibawa oleh Sang Polwan. Perwira Tinggi itu dikenal sebagai oknum yang sangat tidak terkendali kecenderungannya untuk menyadap secara liar dan ilegal.

“Saya ini sudah belasan tahun dibiayai hidupnya oleh Bapak ini, tetapi sejak setahun terakhir berkurang. Apa ada perempuan lain ? Coba dilihat ! Lalu soal pekerjaan Bapak ini, baru-baru ini gagal jadi Kapolri. Ya, karena Bapak ini berani orangnya. Tapi tolong dibantu biar bisa menjadi … (menyebutkan sebuah jabatan)” lanjut si Polwan.

Foto tersebut ditinggalkan di rumah si Paranormal dengan perjanjian akan kembali lagi untuk mendapatkan hasil “jejampian” yang tokcer.

Sang Polwan tidak mengetahui bahwa foto itu langsung dibakar dan Si Paranormal tidak ingin berurusan dengan Perwira Tinggi tersebut sebab sudah santer terdengar bahwa Si Perwira Tinggi dari Indonesia Timur tersebut sangat kuat penggunaan klenik yang lebih “hitam”.

Sampai dengan hari ini, Paranormal tersebut terus berusaha menghindar dan tidak mau ditemui oleh Sang Polwan tadi. Sebab, Sang Paranormal tahu betapa buruk “bisik-bisik yang berhembus mengenai Perwira Tinggi tadi. Dan Sang Paranormal itupun sudah sangat tahu bahwa antara Sang Polwan dan perwira Tinggi tersebut konon kabarnya memang ada “hubungan gelap”.

( Paranormal itu bisa kami pertemukan dengan Ibunda dari GORIES MERE & Isteri dari GORIES MERE jika memang diperlukan untuk menyingkirkan kotoran busuk dalam keluarga besar dan rumah tangga. Apalagi patut dapat diduga, saat ini oknum POLWAN ini masih tetap diberikan FASILITAS RUMAH di kawasan Tebet oleh Gories Mere yaitu rumah bertingkat yang memiliki paviliun. Sahabat perempuan yang menemani dan menjadi saksi bahwa oknum perempuan ini mendatangi PARANORMAL adalah sahabatnya yang bernama LOLA).

Tak disangka-sangka, Si Paranormal juga mendapatkan kunjungan dari seorang isteri Pejabat Tinggi Negara. Untuk menutupi identitasnya, isteri yang “licik” ini menggunakan kursi roda.

Kedatangan pertama adalah hari Minggu 9 November 2008, bertepatan dengan hari eksekusi ketiga terpidana mati kasus Bom Bali I, Amrozi, Imam Samudera dan Ali Ghufron. Kedatangan berikutnya adalah hari Kamis 13 November 2008. Sama dengan kedatangan pertama, kedatangan kedua juga berpura-pura menjadi orang cacat.

Isteri yang mempunyai “sakit khusus” di bagian kepala ini, menyampaikan keluhan sang suami bahwa ada sejumlah Pejabat Tinggi Negara yang selalu menghalangi dan mengganggu pekerjaan sang suami tercinta. Singkat kata, tolong ditutup, diganggu dan dijatuhkan sejumlah nama Pejabat Tinggi Negara.

Pada kedatangan yang pertama, isteri pejabat tadi menggunakan nama samaran. Di salah satu tangannya penuh dengan gelang emas. Ia meminta kepada Sang Paranormal agar cincin suaminya “dibersihkan”.

Dan betapa terkejutnya Sang Paranormal, cincin itu bertahtakan 44 butir berlian !!!

Sesama Pejabat Negara yang diduga mau dijatuhkan itu adalah beberapa Pejabat di sebuah Instansi yang terletak di kawasan Blok M. Instansi ini sempat dihebohkan oleh kasus penangkapan seorang bawahan. Kami sempat terkesima, bayangkan … beberapa hari sebelumnya, kami masih bertemu dengan Pejabat-Pejabat dari Instansi ini dalam sebuah kegiatan yang mereka adakan di Kawasan Setiabudi Jakarta Selatan.

Pejabat berikutnya, diduga yang berkantor tidak jauh dari Instansi pertama yang kami sebutkan. Diseberang Instansi yang satu ini adalah lapangan sepakbola.

Inilah hidup yang serba penuh misteri.

Tidak ada satupun Pejabat Negara yang mau dijatuhkan oleh “suami isteri klenik” ini, yang mengganggu atau menghambat pekerjaan si suami klenik.

Semuanya hanya berdasarkan arogansi yang kebablasan dari si suami yang haus popularitas dan tak sanggup menguasai dirinya saat menerima jabatan yang penuh “kekuasaan”.

Jika memang ia umat yang beragama, untuk apa ke Paranormal dan bermain klenik ?

Kalau saja masyarakat Indonesia tahu, terutama media massa secara keseluruhan, Pejabat Negara yang doyan klenik ini akan malu luar biasa. Selama setahun ini, ia berusaha mendongkrak citra lewat penanganan kasus demi kasus hukum.

Kalau saja masyarakat Indonesia tahu, terutama media massa secara keseluruhan, Pejabat Negara yang sebenarnya pernah berkantor di Instansi yang terletak di kawasan Blok M tadi, pasti akan malu karena isteri yang tidak cacat disuruh pura-pura menjadi orang cacat. Sehingga, saat mendatangi Sang Paranormal digunakanlah kursi roda.

Hebatnya lagi, sebelum sang isteri yang pura-pura cacat tadi datang, sepuluh hari sebelumnya atau sekitar akhir bulan Oktober 2008, Si Pejabat Negara yang liar berklenik tadi mengirimkan seorang dukun ilmu hitam untuk mendatangi rumah Sang Paranormal. Pura-pura membutuhkan tumpangan, sesama Orang Pintar tadi bertemu secara langsung dan akhirnya si dukun ilmu hitam diizinkan menginap.

Namanya ? Mirip nama ikan belut. Yaitu, Mbah …. (kepastiannya tidak bisa kami tuliskan disini).

Kabarnya, kedatangan itu untuk “mengamankan dan membuka jalan” bagi Sang Isteri agar aman bertemu leluasa dengan Si Paranormal. Si Pejabat Negara ketakutan jika bocor ke media massa.

Si isteri klenik ini, sempat membawa buah tangan parsel buah yang masing-masing buah diberi sepasang (dua buah). Bahkan si isteri klenik tadi, menjanjikan untuk memberi hadiah kain songket Kalimantan, sepulangnya dari kunjungan keluar negeri. Ia ingin datang kembali ke rumah Paranormal.

Tapi apa daya, KATAKAMI.COM mendapatkan bocoran mengenai semua itu secara gamblang dan tuntas. Betapa menyedihkan, jika ada umat beragama yang jatuh lebih percaya kepada kekuatan sihir dan ilmu klenik.

Informasi awal mengenai hal ini kami dapatkan dari laporan masyarakat.

Kemudian, dalam beberapa hari terakhir ini kami mengadakan investigasi mendalam dan mendapatkan hasil seperti ini. Sayang, cincin bertahtakan 44 butir berlian tadi sudah terlanjur dikembalikan kepada Si Pejabat Tinggi itu. Kalau tidak, kami sudah bermaksud untuk memotret cincin itu dan memasang gambarnya di layar KATAKAMI.COM.

Sang Paranormal sangat terkejut luar biasa ketika diberitahu oleh KATAKAMI.COM bahwa beberapa nama yang disebutkan isteri Pejabat Tinggi tadi, adalah Pejabat-Pejabat penting yang samasekali tidak bersalah kepada Pejabat klenik tersebut.

Berdasarkan panggilan moral untuk ikut berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negara, kami membujuk Si Paranormal untuk mencabut dan memulihkan kembali semua “karya” dirinya selama sebulan ini kepada sejumlah Pejabat Tinggi negara.

Kebetulan, kami mengenal baik setiap nama yang dijadikan target sasaran. Terbayang wajah-wajah Para Pejabat Tinggi Negara itu, mereka sudah begitu tulus, iklas dan sangat berdedikasi untuk mengabdi kepada bangsa, negara dan rakyat Indonesia.

Semua orang tidak akan ada yang menyangka, kelakuan dari suami isteri klenik yang munafik ini. Bayangkan, beberapa orang yang mau dijatuhkan itu adalah “Orang Nomor Satu” di Jajaran mereka. Mohon maaf, untuk detailnya kami tidak bisa memuatnya disini.

Paranormal itu langsung bersedia untuk memulihkan segala sesuatu yang sempat ia buat agar menjadi “kusut dan tertutup”. Yang lebih mengejutkan, bukan cuma satu Paranormal, tetapi masih ada sederet Paranormal lain yang patut diduga dikerahkan oleh pasangan suami isteri klenik tadi untuk dijatuhkan.

Mengapa begitu sulit untuk memberikan penghargaan dan penghormatan kepada sesama Pejabat Tinggi Negara ? Mengapa sangat tak percaya kepada kekuatan Ilahi yang sangat murni dan agung nilainya ?

Dan menutup tulisan ini, pasangan suami isteri klenik tadi, mencantumkan juga dua orang wartawati yang masuk jadi target sasaran mereka. Biarlah cuma kami yang mengetahui kedua identitas wartawati tadi.

Kami pun sadar, betapa besar resiko mengungkapkan fakta dan hasil temuan investigasi kami. Seperti biasa, tindakan pengrusakan terhadap jaringan internet media kami, serta penyadapan liar berupa pencurian SMS-SMS akan semakin gencar dilakukan.

Que sera sera, What ever will be will be.

Biarlah terjadi, apa yang memang harus terjadi. Sebab kami, media yang memang menjunjung tinggi pentingnya faktor kepercayaan dari para PEMBACA. Sehingga, kebenaran akan selalu kami kemukakan.

Kami mempercayai kebenaran dari kalimat bijak ini, “Kebenaran ibarat air sungai yang mengalir, ia akan tetap mengalir walaupun dibendung sekeras apapun”.

Oh ya, kami hampir saja lupa menginformasikan berapa jumlah uang yang diberikan isteri Pejabat Negara tadi. Luar biasa … hanya Rp. 500 ribu.

Kami katakan kepada Sang Paranormal, “Uang Limaratus ribu itu terlalu kecil nilainya, untuk maksud dan tujuan yang sejahat ini. Tolong, jangan jatuhkan para Pejabat tadi. Mereka tidak bersalah. Kasihan, kalau harus diserang dan ditekan dengan beragam ilmu yang macam-macam. Tolong, tolong, tolong”.

Syukurlah, satu Paranormal bisa “kembali ke jalan benar” dan bisa diajak berpikiran waras demi kepentingan bangsa.

(MS)


Lampiran :

Kapolri & Pak Wakapolri, Ada Oknum Polwan Yang Main Ancam Mau Menembak Orang. Plis Deh, Mau Kayak Briptu Hance Ya ?


EKSKLUSIF

Oleh : MEGA SIMARMATA, Pemimpin Redaksi

Jakarta 12 MARET 2009 (KATAKAMI) Begitu banyak pembaca yang ingin tahu kelanjutan kisah tentang oknum POLWAN yang patut dapat diduga berselingkuh sana sini. Sesungguhnya kami tidak tega juga menyampaikan semua perkembangannya sebab sangat “buruk rupa” dari sisi moralitas.

Tapi baiklah, sedikit saja kami akan sampaikan beberapa hal yang pasti akan sangat mencengangkan dan mengejutkan bagi banyak pihak. Terutama kepada para petinggi di JAJARAN KEPOLISIAN. Tahukah anda, apa saja kelakuan dari si oknum polwan ini ?

Kepada kATAKAMI.COM beberapa hari lalu, seorang Ibu muda yang berprofesi sebagai PARANORMAL mengaku bahwa ia mendapat ancaman penembakan dari oknum POLWAN ini.

“Polwan itu mengatakan kepada temannya bahwa ia akan menembak saya. Teman yang diajak bicara oleh Polwan itu langsung memberitahu saya agar hati-hati. Saya sih pasrah saja Mbak. Saya juga dihubungi oleh orang yang mendampingi Polwan ini menemui seorang Perwira Tinggi berinisial GM pada tanggal 18 Desember 2008 lalu. Oknum Perwira Tinggi itu memerintahkan kepada Polwan itu untuk datang ke sebuah restoran kecil di Jalan Dr Saharjo Jakarta Selatan sekitar Pukul 14.30 WIB. Selama 2 jam mereka bicara. Tetapi tidak berdua karena Perwira Tinggi itu tidak sudi menemui Polwan ini berduaan. Dihadapan orang, Polwan ini ditampar mukanya berkali-kali oleh Perwira Tinggi itu. Dan saya langsung dihubungi dari restoran itu oleh orang yang ikut dalam pertemuan itu. Semua diceritakan kepada saya,” kata Ibu muda ini dengan suara lirih saat menemui KATAKAMI.COM baru-baru ini untuk menceritakan rangkaian teror yang diterimanya dari oknum Polwan tadi.

“Ditampar, kenapa ditampar Bu ?” tanya KATAKAMI.

“Menurut orang yang ikut dalam pertemuan itu, Perwira Tinggi ini sudah kehabisan kesabaran. Kelakuan Polwan itu sudah sangat mempermalukan, terutama perihal kabar PERSELINGKUHAN Polwan ini dengan seorang wartawan senior yang sudah berkeluarga. Sebab, Polwan khan masih terus dapat BIAYA HIDUP dari Perwira Tinggi itu. Setelah terus DIBIAYAI HIDUPNYA, malah untuk berhubungan dengan lelaki lain. Saya malah diceritakan bagaimana bahasa yang digunakan, kau minta uang tapi untuk dipakai untuk CUKI .. ! Kepala si Polwan itu di kelepak,” jawab Ibu PARANORMAL itu.

“Waduh, benar-benar ada selingkuh rupanya, buktinya terus dibiayai. Hebat betul ya, terus si Polwan SELINGKUHAN JENDERAL itu bagaimana reaksinya ?” tanya KATAKAMI lagi.

Oknum Polwan yang mengancam akan menembak paranormal ... weleh weleh, serem amat !

Oknum Polwan yang mengancam akan menembak paranormal … weleh weleh, serem amat !

“Nangislah Mbak, bisa apa dia. Mewek. Nangis meraung-raung. Bikin malu saja. Dan itu disaksikan orang. Di tempat terbuka kok. Dulu, Polwan ini dikasih RUMAH di daerah Bekasi, orangtuanya si Polwan ikut mendiami rumah itu. Tapi si Polwan ini bikin masalah, urusan moral juga. Dia dianggap SELINGKUH dengan seorang Pria Non Pribumi. Pemberian RUMAH di Bekasi itu ditarik oleh Perwira Tinggi tadi. Belakangan dikasih 2 RUMAH sekaligus, dekat rumah si Perwira Tinggi itu di Tebet. Yang satu bertingkat 2 ukuran 500 meter persegi dan ada paviliunnya sekitar 200 meter persegi. Nah waktu kejadian ditampar bulan Desember itu, rumah pemberiann yang bertingkat malah diminta lagi oleh Perwira Tinggi itu. Kasarnya, Polwan ini diusir. Tapi anehnya masih tetap dikasih RUMAH yang kecilan” ungkap si IBU PARANORMAL.

“Lucu benar ya, rumah sudah dikasih kok diminta lagi. Kalau cuma bawahan, kok sampai dikasih 3 rumah. Ada hubungan gelap apa itu. Banyak sekali rumah yang dikasih, apa isteri dan anak-anaknya tidak tahu kalau si Perwira Tinggi itu seperti juragan rumah dan memberikan 3 rumah sekaligus kepada SELINGKUHANNYA yang malah sudah berselingkuh dengan pria beristri lainnya. Ada apa ya, kok ngotot sekali mempertahankan hubungan gelap yang jelas-jelas melanggar hukum dan norma-norma agama seperti ini ! Pakai acara menampar dan memukul kepala. Harusnya perwira tinggi ini dilaporkan ke POLRI, bisa dipidana karena melakukan kekerasan kepada perempuan. Dan bisa dicopot dari jabatannya karena melakukan hubungan asusila dan bobrok moralnya” kata KATAKAMI.

Lalu, bagaimana ceritanya sampai ada ancaman penembakan itu ?

1-vivick_tjangkung_014

Sang PARANORMAL ini mengisahkan seperti ini,

“Jadi Mbak, setelah kejadian yang sangat tragis, dia ditampari berulang kali oleh Perwira Tinggi tadi – naik pitamlah si Polwan karena ia merasa bahwa saya yang menghalangi hubungannya dengan Krng (inisial nama wartawan senior asal NTT yang kini menjadi kekasih gelap si oknum Polwan, redaksi). Darimana ceritanya saya menghalangi. Justru saya tidak mau ikut campur. Gak Cuma saya yang dapat ancaman penembakan. Saya juga diberitahu oleh sahabat si Polwan itu bahwa si Polwan ini pernah mendatangi seorang reporter muda belia dari sebuah media televisi yang seumur dengan anak perempuan si Bapak itu. Kabar kedekatan dengan reporter muda itu kan sudah kemana-mana beritanya. Polwan itu janjian bertemu di satu tempat dengan si reporter. Lalu, si reporter tadi diancam agar jangan pernah lagi mendekati si Perwira Tinggi dengan mengatakan … Saya tembak kamu kalau berani-berani mendekati Pak GM ! Gitu katanya. Sahabat si Polwan itu yang langsung menghubungi dan memberitahu saya mengenai kejadian itu” ungkap si PARANORMAL.

Luar biasa.

Si PARANORMAL melanjutkan lagi ceritanya tentang hasil pertemuan yang penuh tamparan untuk si oknum Polwan yang gemar merokok CAPRI ini.

“Pertemuan sebelum NATAL itu, dipakai si Perwira Tinggi itu untuk mengatakan bahwa si Polwan jangan sok ikut campur terhadap semua urusan dan kehidupan si Perwira Tinggi. Urusan apa saja. Si Bapak itu bilang bahwa si Polwan itu tidak tahu diri dan harus tahu diri bahwa dia itu siapa, dia bukan siapa-siapa. Jadi maksudnya jangan lancang ikut campur. ” Kata si PARANORMAL.

Akibat sakit hati, akhirnya si Oknum Polwan yang modal airmata saat diusir dari tumpangan rumah yang diberikan, yang jadi sasaran tembak justru sang PARANORMAL yang tidak bersedia memberikan bantuan apapun kepada oknum Polwan ini.

Duh, Si Monyet Ini Main Tembak Seenaknya ....

Tetapi, sahabat dekat dan sejumlah warga NTT (teman sedaerah dari oknum Polwan ini) sangat banyak yang mengenal baik dan bersimpati pada sang PARANORMAL dari daerah Solo ini. Sehingga, semua bisa diketahuinya.

Itulah sebabnya, saat si oknum Polwan itu ditampari dan diusir secara tegas, langsung dari lokasi pertemuan itu si PARANORMAL bisa dihubungi oleh sahabat si Polwan.

Oknum Polwan ini, perlu mendapat tindakan tegas dari Pimpinan POLRI. Apakah harus menunggu sampai mati bergelimpangan sejumlahg korban akibat brutalisme penggunaan senjata api, baru nanti ada tindakan tegas ?

Oknum Polwan yang bertugas di Direktorat Narkoba jajaran Kepolisian tertentu ini, harus secepatnya dipindahkan ke bagian administrasi di Polda lain yang ada di daerah agar jangan memberikan ancaman kepada banyak orang. Betapa buruknya pengawasan dari atasan jika ada bawahan yang sisi moralitasnya sangat buruk.

Oktober 2008, oknum Polwan ini mendatangi ibu PARANORMAL yang bermukim di daerah Krukut (Cinere) Jakarta Selatan. Ia meminta agar seorang Perwira Tinggi “dipaksa” untuk mau memberikan uang sebagai biaya hidup. Namun permintaan si oknum Polwan ini t idak digubris oleh sang PARANORMAL.

Hal ihwal tentang perilaku oknum Polwan ini sudah pernah kami sampaikan secara lisan kepada Irjen Adang Firman (semasa menjadi Kapolda Metro Jaya).

“Tolong diperhatian dan diawasi Pak, sudah mulai aneh-aneh kelakuan Polwan itu” kata KATAKAMI kepada perwira tinggi berbintang dua tersebut saat bertemu dalam acara peringatan HARI ANTI KORUPSI SEDUNIA bulan Desember 2008.

*****

Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri, khususnya Ibu Nani Bambang Hendarso Danuri, apakah akan mendiamkan saja jika ada oknum Polwan yang sangat morat-marit moralitasnya seperti ini ?

KATAKAMI.COM beberapa kali bertemu dan berbicara dengan Ibu Nani Bambang Hendarso Danuri. Beliau figur Ibu yang sangat lembut dan penuh belas kasih. Santun sekali. Kami ingin beliau tahu bahwa ada salah seorang “anak” beliau di jajaran Kepolisian, bertingkah laku yang sangat memalukan.

Lalu Wakapolri Komjen Makbul Padmanegara dan Ibu, apakah juga akan mendiamkan ada oknum Polwan yang main ancam sana sini untuk ditembak dengan senjata apinya ? Apalagi ancaman itu datang kepada seorang jurnalis muda ?

Irwasum Polri Komjen Jusuf Manggabarani dan Kepala Divisi Propam Polri Oegroseno, apakah akan mendiamkan saja indikasi penyimpangan semacam ini ?

Dimana letak kemacetan reformasi birokrasi jika ada seorang oknum Polwan dibiarkan mengancam dengan senjata apinya kesana kemari, lalu menggoda dan merusak rumah tangga orang lain ?

Apakah sudah lupa dengan kejadian seorang anggota Provost menembak mati atasannya sendiri ?

Briptu Hance Christanto pada bulan Maret 2007 menembak mati Wakapolwiltabes Semarang. Aksi penembakan tanggal 14 Maret 2007 itu menyebabkan Lilik Purwanto tewas di tempat. Ia ditembak berulang-ulang dari arah depan dan belakang oleh tersangka Briptu Hance Christanto. Sedikitnya, berdasarkan pemeriksaan di Labfor ada 14 butir peluru masuk ke tubuh korban.

Kalau Hance Christanto menembaki secara brutal atasannya sendiri, bukan tidak mungkin satu saat nanti oknum Polwan ini menembaki perempuan mana saja yang dianggapnya sebagai saingan atau ancaman yang kriterianya hanya berdasarkan halusinasinya.

Oknum Polwan yang tak berprestasi ini, tak layak untuk bertugas di sebuah Direktorat bergengsi yang terletak di kota besar.

Presiden dan Wakil Presiden perlu mengamati gejala sosial yang menjangkiti polisi. Mundur atau morat-matirnya moralitas anggota polisi, akan menjadi tolak ukur berhasil atas tidaknya reformasi birokrasi POLRI.

Reformasi Birokrasi POLRI bukanlah reformasi jika masih ada oknum polisi yang seenak jidatnya mengancam orang tak benar-benar tak bersalah dengan kata-kata, “SAYA TEMBAK KAMU NANTI !”.

Waduh waduh waduh. Oknum polwan ini lebih cocok jadi bintang film saja di film action yang dipadukan dengan unsur horor dan mistik.

Ih, serem deh ! Dar der dor, mending kalau yang mati di tembak bandar narkoba atau teroris. Ini bisa-bisa yang jadi korban justru warga sipil tak bersenjata, yang ketiban sial karena si oknum Polwan sedang “kumat” sakit moralitasnya.

Tolong. Plis deh … sekali-sekali, coba arahkan moncong senjata api itu ke jidat sendiri dan tarik pelatuknya. Ketika peluru tajam itu menembus masuk, enak atau tidak rasanya ? Mati atau hidup kalau menembak diri sendiri ? Lakukan dulu kepada diri sendiri sehingga jangan seenaknya menyakiti atau mengancam orang lain. Apalagi mengancam wartawan. Sekali lagi, plis deh … !

Oknum polwan dan oknum perwira tinggi itu, sudah sepantasnya dicopot dan DIBERHENTIKAN SECARA TIDAK HORMAT karena patut dapat diduga sangat kotor dan buruk moralitasnya, ini bisa menjadi virus yang sangat berbahaya dari rumah tangga atau keluarga dari KELUARGA BESAR POLRI.

(MS)

Inilah Sebagian Dari Ribuan SMS Kiriman Gories Mere Sejak Tahun 2006-2009 Yang Memang Mengemis-Ngemis Perhatian & Meminta Pertolongan

Filed under: GORIES MERE,katakami,mega simarmata,world news — katakamikatakami @ 3:42 pm

Jakarta 9 Mei 2009 (KATAKAMI) Kami muat sebagian dari RIBUAN SMS yang diterima Pemimpin Redaksi KATAKAMI Mega Simarmata dari Komisaris Jenderal GORIES MERE dari periode 2006-2009 (Bagian Pertama).

Sekedar untuk memberikan peringatan bahwa kami tidak akan segan-segan membuka semua dokumentasi data dan rahasia, jika patut dapat diduga Sdr GORIES MERE melakukan teror dan intimidasi secara sangat berlebihan karena ingin agar kami menutupi berbagai dugaan pelanggaran hukumnya.

Terutama dugaan pelanggaran hukum yang patut dapat diduga menjadi beking bandar & mafia narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS, serta patut dapat diduga terlibat sepenuhnya sebagai makelar pembunuhan NZ. Jangan korbankan Kombes Wiliardi Wizard. Dan jangan memutar-balikkan fakta. Kami hanya ingin bahwa yang benar dikatakan benar, dan yang salah dikatakan salah.

Gories, janganlah menjadi serigala berbulu domba. Berdamailah dengan diri sendiri dan kasihani diri anda sebab sangatlah hina bila ada seorang manusia yang mengemis-ngemis perhatian serta menghalalkan segala cara agar perhatian itu WAJIB diterima oleh orang yang tak sudi menerima perhatian yang sangat menyimpang dan sangat menjijikkan.

Mega Simarmata, Editor In Chief Of KATAKAMI.COM

Tidak, kami tidak mau dipaksa untuk menutupi kebenaran.

Selamat membaca sebagian kecil dari SMS-SMS yang memang mengemis-ngemis perhatian dan permintaan tolong.

Dan ketika KATAKAMI konsisten untuk tetap menyuarakan dan memihak pada KEBENARAN, patut dapat diduga Perwira Tinggi yang sudah 3 tahun mengemis-ngemis perhatian ini kesetanan melakukan teror, intimidasi, tekanan dan pengrusakan terhadap SITUS KATAKAMI. Kasihan, serangannya beda-beda tipis bak serangan hewan buas yang kelaparan.

Dari nomor telepon 0811.99.5999 (17 Januari 2007, Pada Pukul 15.46.05)
Just arrive in DC, NON

(Gories Mere berada di Washington DC untuk mendampingi KAPOLRI Jenderal Sutanto yang melakukan kunjungan kerja ke AS, guna meminta akses pemeriksaan terhadap HAMBALI, teroris yang ditahan di Guantanamo Kuba).

Dari nomor telepon 0811.99.5999 (18 Januari 2007, Pada Pukul 11.00.49)

Non, ini jawaban Brigjen Badrodin Haiti :

“Kapolda mana yang dihubungi Pak ? Sampai sekarang saya tdk pernah dihubungi oleh Ka BIN atau orang BIN masalah hal tsb”.

(Hal ini berkaitan dengan kabar bahwa POLRI telah meminta penambahan pasukan dari TNI untuk mengatasi situasi keamanan di POSO. Gories Mere sedang berada di Amerika Serikat, sementara di Gebang Rejo Poso berkecamuk bentrok fisik yang sangat serius antara POLRI dengan kelompok bersenjata. Atas perintah Gories Mere maka dilakukan penyerangan yang kedua kalinya di Poso tanggal 22 Januari 2007 yang mengakibatkan belasan orang sipil tak bersenjata tewas akibat tembakan POLRI. Saat itu, KOMNAS HAM turun ke lokasi bentrok tersebut dan menyimpulkan bahwa POLRI telah melakukan pelanggaram HAM).

Dari nomor telepon 0811.99.5999 (22 Januari 2007, Pada Pukul 11.29.38)

Di Gebang Rejo, Poso, pagi ini, seberapa hebat dlm Negara Republik, ada berbagai jenis senjata yang ditembakkan kelompok sipil kriminal thd RAID (operasi penyerangan , Red) Aparat Penegak Hukum

Dari nomor telepon 0811.99.5999 (22 Januari 2007, Pada Pukul 11.49.39)

3 Polri terluka ditembak kriminal bersenjata api yang tercerai-berai lari ke bukit, sedang dikejar terus NON

Dari nomor telepon 0811.99.5999 (23 Januari 2007, Pada Pukul 08.32.34)

Eh NON mana your comment soal BOZZ MZ (Ryamizard Ryacudu, red).

Dari nomor telepon 0811.99.5999 (23 Januari 2007, Pada Pukul 08.37.14)

Dia (Ryamizard Ryacudu, Red) nggak yakin ada JI (Al Jamaah Al Islamyah, red), Your Comment ?

(Sejumlah SMS dari Gories Mere memang berbunyi yang bernada mengejek Jenderal Ryamizard Ryacudu dan semua SMS yang sangat lancang serta tidak santun ini, tidak ditanggapi oleh Mega Simarmata. Sebab, Jenderal Ryamizard Ryacudu tidak pernah samasekali mengeluarkan pernyataan atau pendapat yang menyalahi aturan dalam tugas-tugasnya sebagai KEPALA STAF TNI ANGKATAN DARAT. Sedangkan Gories Mere, memiliki kecenderungan untuk mengejek dan merendahkan TNI, tetapi juga mengejek dan merendahkan INSTITUSI POLRI. Menurut pendapat kami, Gories Mere adalah perwira tinggi POLRI yang sangat tidak kredibel dan menyebarkan benih perpecahan disana sini).

Dari nomor telepon 0811.99.5999 (24 Januari 2007, Pada Pukul 13.23)

Kalo nggak pedas dan santun gini, bukan NON lagi.

(SMS ini untuk menanggapi teguran dari Pemred KATAKAMI agar ybs tidak mengganggu Mega Simarmata)

Dari nomor telepon 0811.99.5999 (24 Januari 2007, Pada Pukul 13.46.42)

Non, rupanya untuk mematahkan semangatmu dan membekukan hatimu, sangat sederhana caranya NON

(SMS ini untuk menanggapi teguran dari Pemred KATAKAMI agar ybs tidak mengganggu Mega Simarmata)

Dari nomor telepon 0811.99.5999 (24 Januari 2007, Pada Pukul 18.33.29)

Mission Oriented ! (SMS untuk Pemberi Semangat untuk Si Pedas dan Pemberani, NON MS.

(SMS ini untuk menanggapi teguran dari Pemred KATAKAMI agar ybs tidak mengganggu Mega Simarmata)

Dari nomor telepon 0811.99.5.999 (28 Januari 2007, Pukul 00.46.10)

Non, kalau misalnya ada yang menyakiti kamu, apakah itu TB 1 (KAPOLRI), P5 (Panglima TNI) atau siapa saja, apalagi si ST (Suryo Tan, red) BABI CACING CAWUK, segera tumpahkan dan curhatkan pada GM, yach. Pokoknya GM siap jadi consultant MS, Ok NON ?

Dari nomor telepon 0811.99.5.999 (29 Januari 2007, Pada Pukul 00.35.52)

I just wake up ‘coz KORINTUS. Kamu itu memang HEBAT meledak-ledak tapi juga penuh KASIH. Saya ingat diri saya tempo dulu. He he. Tapi skr JUGA masih kambuhan sekali2 kalo lagi “battle in d field” (barangkali karena saya born in Green Daugther Hosp, Medan).

Dari nomor telepon 0811.99.5.999 (3 Februari 2007, Pada Pukul 17.41)

Kesulitan hub HP nggak bisa tembus Non Jagoanku dari tadi malam

(Ybs ingin bertemu untuk mengantarkan OLEH-OLEH yang diklaim-nya dibawa dari AMERIKA SERIKAT berupa 7 buah botol PARFUM, tetapi beberapa hari kemudian ada 2 orang JURNALIS di Istana Kepresidenan yang memang memiliki panca indera ke-6 memberitahu Pemred KATAKAMI bahwa tampaknya parfum itu semua ada “isinya” dan tidak baik jika digunakan karena patut dapat diduga terindikasi ada interes pribadi yang menyesatkan dari Ybs ini. Pada periode ini, Gories Mere mengirimkan hadiah HP Nokia 9300 dan keesokan harinya dikembalikan oleh Mega Simarmata karena patut dapat diduga HP tersebut dipasangi alat penyadap. Lalu pada periode ini juga, Gories Mere mengirimkan uang Rp. 2 juta kepada rekening pengusaha mutiara di Lombok NTB untuk mengirimkan sejumlah perhiasan MUTIARA kepada Mega Simarmata).

Dari nomor telepon 0811.99.5999 (19 Februari 2007, Pada Pukul 01.37.23)

Hey, NON Jagoanku, kami lagi on mission, saya baru keluar dari “our kitchen” sejak kemarin dan sat ini sudah masuk Jakarta. Besok monitor DPR, Selasa masuk lagi ke “our kitchen”. Kalo ada yang bagus, NON yang pertama saya contact yach.

Dari nomor telepon 0811.99.5999 (14 Mei 2007, Pada Pukul 12.39.37)

Orang-orang benci kepada saya karena :1. Saya pengikut YESUS

2. Saya tampil beda dengan rekan-rekan saya lainnya (ketika semua sudah berbudaya ala birokrat Indonesia yang berpikir mana bagianku, mana korupsi yang kubawa pulang, saya berbudaya yang berpikir dan berbuat apa yang bisa disumbangkan utk orang banyak, rakyat / bangsa & negara)

Dari nomor telepon 0811.99.5999 (8 Mei 2007, Pada Pukul 21.57.54)

I’m still in Madrid Non, Praying, Praying, Praying.

(Sms ini untuk meminta pertolongan terus melalui kemampuan dan karunia doa yang dimiliki Pemred KATAKAMI Mega Simarmata sesuai dengan ajaran agama Katolik. Dan saat berada di Spanyol inilah, GORIES MERE mengadakan pertemuan gelap atau rahasia dengan Pengusaha yang menyediakan alat penyadap dari ISRAEL yang mengeluh banyaknya upeti yang setoran yang harus dikeluarkan jika hendak melakukan investasi ke Indonesia. Tetapi semua ini hanya keterangan sepihak dari GORIES MERE. Pertanyaannya adalah mengapa ia mengadakan pertemuan gelap atau rahasia di luar negeri dengan Pengusaha alat penyadap ?

Dari nomor telepon 0816.999999 (9 Juni 2007, Pada Pukul 14.15.47)

Di Hutan Pantai Selatan Wilayah Gombong, Non.

Dari nomor telepon 0816.999999 (nomor ini atas nama TOMMY WINATA yang digunakan sejak bertahun-tahun lalu oleh GORIES MERE, 13 Juni 2007, Pada Pukul 01.06.28)

We got him. Thank you so much NON, for everything that has been happened & already done.

(Mengucapkan terimakasih karena kemampuan dan karunia doa dari Pemred KATAKAMI Mega Simarmata telah mampu untuk membantu mempercepat penangkapan terhadap teroris)

Dari nomor telepon 0816.999999 (17 Juni 2007, Pada Pukul 08.26.22)

Belum Misa, NON ? Sangat confidential, Only For NON. Ada yang sedang diambil dan sedang dikorek-korek karena masih kunci mulut. Pakai DOA-nya NON lagi, dong …

(Meminta pertolongan lagi dari Pemred KATAKAMI Mega Simarmata yang memang memiliki panca indera ke-6 dan karunia sebagai seorang pendoa).

Dari nomor telepon 0816.999999 (20 Juni 2007, Pada Pukul 23.07.40)

NON, orang-orang nggak tahu yang dibawah permukaan :- ABD (Abu Dujana, Red) bukan Ratu Kecantikan Dunia, Miss World yang untuk touching him dengan big KISSING yang mesra di bibir. Hehehe.- ABD : Military Wing Comannder yang dari analisa IT diketahui- 1. Dalam operasinya ABD selalu membawa senjata api (NORINKHO)- 2. ABD gerakkan Askhary-nya dan kirimkan bahan peledak & persenjataan ke POSO- 3. ABD sdh putuskan utk membalas & menyerang Polri / Satgas Bom yang toghut (setan besar).- ABD sudah perintahkan bawahannya mencari rumah baru untuk pelarian & memindahkan sekolah anak-anaknya. ABD baru 2 hari balik ke rumah dalam rangka segera akan pindah / menghilang.- Kita sudah rencanakan penyerbuan ke rumahnya sore tgl 9 Juni tetapi ketika Petugas kami observasi terakhir lewat jalan belakang sebelum RAID, kaget berpapasan dengan ABD face to face & langsung spontan menyergap sendirian (satu lawan satu).

– Sebenarnya Petugas kami akan melumpuhkan dgn menembak KEPALA ABD. Tapi Ybs berkelit. Menundukkan kepala & pahanya NUNGGING ke ATAS sampai tertembus peluru. Hehehe. Untung dia !

Dari nomor telepon 0816.999999 (29 Juni 2007, Pukul 03.24.36)

Thank you So Much, NON !
We got another target (Still analizing the IT very seriously for hunting in the field). NON, Please always praying …

(SMS ini mengabarkan kembali bahwa target selanjutnya dari Densus 88 Anti Teror telah didapatkan, dan terus meminta pertolongan karunia dan kemampuan Mega Simarmata sebagai seorang pendoa agar lebih membukakan dan memudahkan jalan menangani serta menangkapi kalangan teroris)

Dari nomor telepon 0816.999999 (25 Juni 2007 Pukul 14.03.00)

Im otw to KL transit Cengkareng non. I will send something this afternoon. Could you received it, Please NON ?

(GORIES MERE berusaha memberikan uang suap Rp. 10 juta agar Pemred KATAKAMI bersedia untuk terus mendukungnya tetapi uang tersebut ditolak alias tidak diterima.

Dari nomor telepon 0816.999999 (22 Juni 2007 Pukul 21.40WIB)

Tolong Ben, sekarang juga bahan tadi dikirim melalui fax.

(GORIES MERE mem-forward SMS yang dikirimkannya kepada KOMBES BENNY MAMOTO yang berisi bahan penting karena GORIES MERE meminta pertolongan dengan sangat memelas agar Pemred KATAKAMI Mega Simarmata menolong DENSUS 88 yang terpojok)

Dari nomor telepon 0816.999999 (26 Juni 2007 Pukul 11.13.39 WIB

Semua jurnalist asing beri comment kalo mereka sangat suka cara SD menjawab yg sagat tangkas & smart, tdk kaya PEJABAT INDONESIA yg suka kamuflase & jawaban berpura-purat api tak ada isinya. San
thi saja yg sdh terbiasa sama jawaban klasik HUMAS government yg mutar2 gak ada ujungnya

Dari nomor telepon 0813.988.788.98 (AJUDAN GORIES MERE bernama SANTOS)

Mat pagi Ibu, apa kabar. Maaf ini dengan saya SANTOS, ADC Pak GM, mungkin saya bisa ketemu Ibu dimana, ini ada titipan dari Bapak untuk Ibu, Mohon petunjuk Bisa ketemu Ibu dimana. Balas. SANTOS

Dari nomor telepon 0816.999999 (29 Juni 2007 Pukul 10.39.56)

Thanks berat semua kerja teramat keras dari waktu ke waktu, NON

(Ucapan terimakasih dari GORIES MERE atas pertolongan yang diberikan Mega Simarmata membantu dan menyelamatkan Densus 88 Anti Teror yang semakin terpojok ketika itu pasca penembakan Abu Dujana di hadapan anaknya. Untuk memberi keseimbangan pemberitaan, Mega Simarmata meminta pendapat, pandangan dan tulisan kolom dari Mantan Presiden Abdurrahman Wahid, Adhie Massardi dan sebagainya. Dan dimuat di halaman khusus yang dibayar berdasarkan tarif iklan advetorial berbagai surat kabar sehingga menghabiskan dana hampir Rp. 20 Juta)

Dari nomor telepon 0816.999999 (27 Juni 2007 Pukul 23.10.20)

Barusan saya diinfokan bahwa malam ini RAHMA SARITA dalam acara Metro Realitas barusan membuat kalimat kesimpulan sbb : “Jangan sampai perang melawan teroris justru mengorbankan anak bangsa”. Terus, bagaimana kalau tampilan2 media yang mendukung teroris penuh fitnah kepada kebenaran seperti ini harus dipercaya, NON ?

Dari nomor telepon 0816.999999 (23 April 2008 Pukul 11.11.25)

Beberapa waktu belakangan ini saya sering diluar. Skr sdg di Spore. Benar kedua JI itu termasuk sangat penting dan berarti untuk ungkap jaringan JI. Abu Husna bagian pendidikan rekruit doctrine radical JI dan Dr Agus Ketua Mantiqi Poso.

Blog di WordPress.com.