KATAKAMI KATAKAMI

Juni 16, 2009

Membanggakan Pidato Obama Yang Tekankan Pentingnya Harmonisasi Hubungan Baru AS & Dunia Islam

Filed under: barack obama,cairo university,katakami,n,world news — katakamikatakami @ 5:08 pm
Iklan

Meminjam Sebuah Judul Lagu Untuk Berkata Kepada Benjamin Netanyahu Dan Israel, “SUARA, DENGARKANLAH AKU !”

Filed under: benjamin netanyahu,israel,katakami,palestine,simon peres,world news — katakamikatakami @ 5:07 pm

Simon Peres & Benjamin Netanyahu

Dimuat selengkapnya di di http://www.katakaminews.wordpress.com dan http://www.katakamikatakami.blog.fr

Jakarta 15/6/2009 (KATAKAMI) Pekan lalu, saat kami memuat tulisan “Menanti Sang Prajurit Komando Bernama BENJAMIN NETANYAHU Menepati Janjinya Mewujudkan Perdamaian & Keamanan” yang merespon janji Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa dirinya akan berkomitmen tinggi mewujudkan perdamaian dan keamanan, kami mendapatkan begitu banyak respon yang positif dan semua bermuara pada satu hal yaitu agar Benjamin Netanyahu dan Israel sungguh membuka hati dalam merealisasikan “janji atau komitmen” mewujudkan perdamaian dan keamanan itu, dalam konteks dengan Palestina.

Salah respon yang kami terima adalah dari anggota Komisi I DPR-RI Jeffrey Massey dari Fraksi Partai Damai Sejahtera, yang sunggu berkeyakinan bahwa Benjamin Netanyahu akan menepati janji itu. Namun, seraya berharap juga agar HAMAS tidak terus menerus melakukan provokasi yang bisa membuyarkan upaya dan kesungguhan hati semua pihak untuk merealisasikan perdamaian dan keamanan tersebut.

Berhari-hari menunggu seperti apa sebenarnya visi dan misi Benjamin Netanyahu tentang “potret perdamaian dan keamanan” yang akan dengan kesungguhan hati diwujudkannya disaat ia memangku sebuah jabatan yang sangat prestisius di Israel, akhirnya rasa penasaran itu terjawab.

Minggu 14 Juni 2009 (waktu setempat). Benjamin Netanyahu menyampaikan pidatonya di “Begin-Sadat (BESA) Center for Strategic Studies, Bar-Ilan University, Israel”.

Salah satu bagian dari pidato itu berbunyi sebagai berikut, :In my vision of peace, two peoples live freely, side-by-side, in amity and mutual respect. Each will have its own flag, its own national anthem, its own government”.

Kemudian di bagian penutup pidato itu berbunyi, “I call on the leaders of the Arab world and on the Palestinian leadership, let us continue together on the path of Menahem Begin and Anwar Sadat, Yitzhak Rabin and King Hussein. Let us realize the vision of the prophet Isaiah, who in Jerusalem 2700 years ago said: “nations shall not lift up sword against nation, and they shall learn war no more. With God’s help, we will know no more war. We will know peace”.

Bendera Israel & Palestina

Ya betul, dengan pertolongan Tuhan — tanpa membedakan suku, agama, ras dan golongan — seharusnya memang tak perlu lagi ada PEPERANGAN !

Bahkan Tuhan sendiripun, dengan segala keagungan dan kemuliaan-Nya, pastilah sudah sangat lama menunggu agar umat kesayangan-Nya sungguh mau terdorong, tergerak dan bertindak secara nyata untuk mewujudkan PERDAMAIAN & KEAMANAN itu.

Indahnya kata-kata dalam pidato Benjamin Netanyahu di pertengahan bulan Juni ini, semakin menguatkan secercah harapan yang ada di hati rakyat Palestina dan Israel. Dan sulit untuk tidak mempercayai figur Benjamin Netanyahu, sebab pastilah ia bukan tipikal yang asal ngecap, asal bunyi, asal ngember, dan asal “TEBAR PESONA” untuk mempertontonkan retorika-retorika yang mendunia.

Benjamin Netanyahu tentu tahu konsenkuensi dari sebuah JANJI yang disampaikan dari mulut seorang pemimpin yaitu janji itu haruslah ditepati secepatnya secara baik dan benar. Mengikis semua permusuhan dan peperangan yang gendang kebenciannya sudah menelan begitu banyak korban nyawa, harta, benda dan nilai-nilai kemanusiaan yang paling mendasar.

Sekali lagi, kami mengulangi bahwa korban terbesar dari peperangan yang penuh “keabadian” ini adalah anak-anak dan perempuan.

Sekali lagi, kami mengulangi bahwa kepedihan dari peperangan yang penuh “keabadian” ini adalah berterbangannya nyawa secara sia-sia tanpa ada yang bisa menyatakan dirinya sebagai pemenang yang berhak meraih dan mengangkat piala arogansi yang berkilauan.

Sebab, piala dari peperangan itu tak akan pernah mengeluarkan kilauan yang indah dan memukau semua mata yang memandang. Sebab, piala dalam medan pertempuan adalah piala yang berlumuran darah dan airmata.

Setiap pemimpin dunia di muka bumi ini, terutama yang terkait dalam upaya mendamaikan Israel dan Palestina — termasuk yang secara gigih mendorong berdirinya negara PALESTINA yang merdeka — pasti dengan mudah menyuarakan pidato-pidato yang indah, yaitu pidato yang penuh dengan kata-kata yang berbumbu, bersayap dan berasesori sangat padat.

Sehingga kadang-kadang, orang yang mendengarkan saja sudah kebingungan. Apakah harus mengagumi dan mempercayai pidato itu, atau malah mengutuk dan tidak mempercayai semua rangkaian kata yang seakan-akan sungguh tak bermakna karena terkesn OMDO alias OMONG DOANG.

Photo by GPO

Tapi semoga, apa yang dipidatokan oleh Benjamin Netanyahu, bukanlah bagian dari pidato yang penuh retorika dan omong kosong berkepanjangan.

Atmosfir kekerasan yang menyelimuti langit di atas Israel dan Palestina, sudah tak bisa menunggu terlalu lama. Sudah tak mungkin dipaksa untuk diam tak bergeming untuk mendengarkan lebih banyak lagi pidato demi pidato dari seluruh pemimpin dunia yang hobi atau kemampuannya cuma berpidato saja dari kejauhan untuk mendorong Israel dan Palestina berdamai.

Apa arti dari seruan-seruan jarak jauh, jika ternyata pada prakteknya di lapangan dentuman bom dan rentetan tembakan masih merajalela di garis terdepan peperangan itu sendiri ?

Itulah sebabnya, meminjam sebuah judul lagu yang sedang “naik daun” di Indonesia ini, ingin rasanya menyampaikan sebuah harapan yang lebih kuat kepada Benjamin Netanyahu & Israel :

“SUARA, DENGARKANLAH AKU … !”

Dengarkanlah aku, dan semua warga dunia yang ingin agar peperangan itu benar-benar dihentikan. Kasihani kami dan semua rakyat disana (di Israel dan Palestina) yang mendambakan agar mubazirnya nyawa yang berterbangan selama ini dalam nafas peperangan yang brutal, segera dihentikan !

Dengarkanlah aku dan semua warga dunia yang ingin agar kehidupan di Israel dan Palestina sungguh berjalan dengan sangat apa adanya yaitu kehidupan yang aman, nyaman, tenteram dan tidak dengan mudah membunuhi siapa saja yang dianggap sebagai lawan atau musuh bebuyutan !

Dengarkanlah aku dan semua warga dunia yang sangat tersayat hatinya bila mendengar atau melihat tayangan-tayangan gambar pada pemberitaan media massa, begitu banyak anak-anak, perempuan, kaum lansia dan rakyat kecil yang tak berdaya menjadi korban keganasan amunisi-amunisi arogansi antar pihak yang bertikai dalam semua lini peperangan di muka bumi ini — khususnya di Israel dan Palestina –.

“Suara, DENGARKANLAH AKU !”

Memang hanya bagian judul yang kami pinjam untuk mewakili kuatnya harapan tentang mendesaknya perdamaian dan keamanan di kawasan Israel dan Palestina.

Tapi bila peperangan itu sungguh diakhiri, tak mustahil lagu yang sangat indah berjudul “SUARA, DENGARKANLAH AKU !” ini bisa dinyanyikan dengan hati yang sangat hidup dan penuh damai oleh siapapun yang ingin saling mencintai dan menjalin tali kasih antar 2 anak manusia yang ada di Israel dan Palestina bila nanti peperangan itu benar-benar diakhiri.

Saling mencintai dalam alam perdamaian yang sesungguhnya dan kesejatian.

Benjamin Netanyahu, DENGARKANLAH AKU, tepati janjimu hai kesatria sejati ! Dan lakukan segala sesuatu yang baik (demi kemanusiaan), untuk KEMULIAAN ALLAH.

Ad Majorem Dei Gloriam.

(ms)

L A M P I R A N :

Pidato Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu Yang Terfokus Pada Komitmen Untuk Mewujudkan Perdamaian Dan Keamanan
Address by Prime Minister Benjamin Netanyahu at the Begin-Sadat (BESA) Center for Strategic Studies, Bar-Ilan University (June 14, 2009)

Honored guests, citizens of Israel.

Peace has always been our peoples most ardent desire. Our prophets gave the world the vision of peace, we greet one another with wishes of peace, and our prayers conclude with the word peace.

We are gathered this evening in an institution named for two pioneers of peace, Menachem Begin and Anwar Sadat, and we share in their vision.

Two and half months ago, I took the oath of office as the Prime Minister of Israel. I pledged to establish a national unity government – and I did. I believed and I still believe that unity was essential for us now more than ever as we face three immense challenges – the Iranian threat, the economic crisis, and the advancement of peace.

The Iranian threat looms large before us, as was further demonstrated yesterday. The greatest danger confronting Israel, the Middle East, the entire world and human race, is the nexus between radical Islam and nuclear weapons. I discussed this issue with President Obama during my recent visit to Washington, and I will raise it again in my meetings next week with European leaders. For years, I have been working tirelessly to forge an international alliance to prevent Iran from acquiring nuclear weapons.

Confronting a global economic crisis, the government acted swiftly to stabilize Israels economy. We passed a two year budget in the government – and the Knesset will soon approve it.

And the third challenge, so exceedingly important, is the advancement of peace. I also spoke about this with President Obama, and I fully support the idea of a regional peace that he is leading.

I share the Presidents desire to bring about a new era of reconciliation in our region. To this end, I met with President Mubarak in Egypt, and King Abdullah in Jordan, to elicit the support of these leaders in expanding the circle of peace in our region. I turn to all Arab leaders tonight and I say: “Let us meet. Let us speak of peace and let us make peace.” I am ready to meet with you at any time. I am willing to go to Damascus, to Riyadh, to Beirut, to any place- including Jerusalem.

I call on the Arab countries to cooperate with the Palestinians and with us to advance an economic peace. An economic peace is not a substitute for a political peace, but an important element to achieving it. Together, we can undertake projects to overcome the scarcities of our region, like water desalination or to maximize its advantages, like developing solar energy, or laying gas and petroleum lines, and transportation links between Asia, Africa and Europe.

The economic success of the Gulf States has impressed us all and it has impressed me. I call on the talented entrepreneurs of the Arab world to come and invest here and to assist the Palestinians – and us – in spurring the economy. Together, we can develop industrial areas that will generate thousands of jobs and create tourist sites that will attract millions of visitors eager to walk in the footsteps of history – in Nazareth and in Bethlehem, around the walls of Jericho and the walls of Jerusalem, on the banks of the Sea of Galilee and the baptismal site of the Jordan. There is an enormous potential for archeological tourism, if we can only learn to cooperate and to develop it.

I turn to you, our Palestinian neighbors, led by the Palestinian Authority, and I say: Lets begin negotiations immediately without preconditions.

Israel is obligated by its international commitments and expects all parties to keep their commitments. We want to live with you in peace, as good neighbors. We want our children and your children to never again experience war: that parents, brothers and sisters will never again know the agony of losing loved ones in battle; that our children will be able to dream of a better future and realize that dream; and that together we will invest our energies in plowshares and pruning hooks, not swords and spears.

I know the face of war. I have experienced battle. I lost close friends, I lost a brother. I have seen the pain of bereaved families. I do not want war. No one in Israel wants war.

If we join hands and work together for peace, there is no limit to the development and prosperity we can achieve for our two peoples – in the economy, agriculture, trade, tourism and education – most importantly, in providing our youth a better world in which to live, a life full of tranquility, creativity, opportunity and hope.

If the advantages of peace are so evident, we must ask ourselves why peace remains so remote, even as our hand remains outstretched to peace? Why has this conflict continued for more than sixty years?

In order to bring an end to the conflict, we must give an honest and forthright answer to the question: What is the root of the conflict?

In his speech to the first Zionist Conference in Basel, the founder of the Zionist movement, Theodore Herzl, said about the Jewish national home “This idea is so big that we must speak of it only in the simplest terms.” Today, I will speak about the immense challenge of peace in the simplest words possible.

Even as we look toward the horizon, we must be firmly connected to reality, to the truth. And the simple truth is that the root of the conflict was, and remains, the refusal to recognize the right of the Jewish people to a state of their own, in their historic homeland.

In 1947, when the United Nations proposed the partition plan of a Jewish state and an Arab state, the entire Arab world rejected the resolution. The Jewish community, by contrast, welcomed it by dancing and rejoicing. The Arabs rejected any Jewish state, in any borders.

Those who think that the continued enmity toward Israel is a product of our presence in Judea, Samaria and Gaza, is confusing cause and consequence. The attacks against us began in the 1920s, escalated into a comprehensive attack in 1948 with the declaration of Israels independence, continued with the fedayeen attacks in the 1950s, and climaxed in 1967, on the eve of the Six-Day War, in an attempt to tighten a noose around the neck of the State of Israel. All this occurred during the fifty years before a single Israeli soldier ever set foot in Judea and Samaria.

Fortunately, Egypt and Jordan left this circle of enmity. The signing of peace treaties have brought about an end to their claims against Israel, an end to the conflict. But to our regret, this is not the case with the Palestinians. The closer we get to an agreement with them, the further they retreat and raise demands that are inconsistent with a true desire to end the conflict.

Many good people have told us that withdrawal from territories is the key to peace with the Palestinians. Well, we withdrew. But the fact is that every withdrawal was met with massive waves of terror, by suicide bombers and thousands of missiles.

We tried to withdraw with an agreement and without an agreement. We tried a partial withdrawal and a full withdrawal. In 2000 and again last year, Israel proposed an almost total withdrawal in exchange for an end to the conflict, and twice our offers were rejected. We evacuated every last inch of the Gaza strip, we uprooted tens of settlements and evicted of Israelis from their homes, and in response, we received a hail of missiles on our cities, towns and children.

The claim that territorial withdrawals will bring peace with the Palestinians, or at least advance peace, has up till now not stood the test of reality. In addition to this, Hamas in the south, like Hizbullah in the north, repeatedly proclaims their commitment to “liberate” the Israeli cities of Ashkelon, Beersheba, Acre and Haifa.

Territorial withdrawals have not lessened the hatred, and to our regret, Palestinian moderates are not yet ready to say the simple words: Israel is the nation-state of the Jewish people, and it will stay that way.

Achieving peace will require courage and candor from both sides, and not only from the Israeli side. The Palestinian leadership must arise and say: “Enough of this conflict. We recognize the right of the Jewish people to a state of their own in this land, and we are prepared to live beside you in true peace.”

I am yearning for that moment, for when Palestinian leaders say those words to our people and to their people, then a path will be opened to resolving all the problems between our peoples, no matter how complex they may be. Therefore, a fundamental prerequisite for ending the conflict is a public, binding and unequivocal Palestinian recognition of Israel as the nation state of the Jewish people. To vest this declaration with practical meaning, there must also be a clear understanding that the Palestinian refugee problem will be resolved outside Israels borders. For it is clear that any demand for resettling Palestinian refugees within Israel undermines Israels continued existence as the state of the Jewish people.

The Palestinian refugee problem must be solved, and it can be solved, as we ourselves proved in a similar situation. Tiny Israel successfully absorbed tens of thousands of Jewish refugees who left their homes and belongings in Arab countries. Therefore, justice and logic demand that the Palestinian refugee problem be solved outside Israels borders. On this point, there is a broad national consensus. I believe that with goodwill and international investment, this humanitarian problem can be permanently resolved.

So far I have spoken about the need for Palestinians to recognize our rights. In am moment, I will speak openly about our need to recognize their rights. But let me first say that the connection between the Jewish people and the Land of Israel has lasted for more than 3500 years. Judea and Samaria, the places where Abraham, Isaac, and Jacob, David and Solomon, and Isaiah and Jeremiah lived, are not alien to us. This is the land of our forefathers.

The right of the Jewish people to a state in the land of Israel does not derive from the catastrophes that have plagued our people. True, for 2000 years the Jewish people suffered expulsions, pogroms, blood libels, and massacres which culminated in a Holocaust – a suffering which has no parallel in human history. There are those who say that if the Holocaust had not occurred, the state of Israel would never have been established. But I say that if the state of Israel would have been established earlier, the Holocaust would not have occured.

This tragic history of powerlessness explains why the Jewish people need a sovereign power of self-defense. But our right to build our sovereign state here, in the land of Israel, arises from one simple fact: this is the homeland of the Jewish people, this is where our identity was forged.

As Israels first Prime Minister David Ben-Gurion proclaimed in Israels Declaration of Independence: “The Jewish people arose in the land of Israel and it was here that its spiritual, religious and political character was shaped. Here they attained their sovereignty, and here they bequeathed to the world their national and cultural treasures, and the most eternal of books.”

But we must also tell the truth in its entirety: within this homeland lives a large Palestinian community. We do not want to rule over them, we do not want to govern their lives, we do not want to impose either our flag or our culture on them.

In my vision of peace, in this small land of ours, two peoples live freely, side-by-side, in amity and mutual respect. Each will have its own flag, its own national anthem, its own government. Neither will threaten the security or survival of the other. These two realities – our connection to the land of Israel, and the Palestinian population living within it – have created deep divisions in Israeli society. But the truth is that we have much more that unites us than divides us.

I have come tonight to give expression to that unity, and to the principles of peace and security on which there is broad agreement within Israeli society. These are the principles that guide our policy. This policy must take into account the international situation that has recently developed. We must recognize this reality and at the same time stand firmly on those principles essential for Israel.

I have already stressed the first principle – recognition. Palestinians must clearly and unambiguously recognize Israel as the state of the Jewish people.

The second principle is: demilitarization. The territory under Palestinian control must be demilitarized with ironclad security provisions for Israel. Without these two conditions, there is a real danger that an armed Palestinian state would emerge that would become another terrorist base against the Jewish state, such as the one in Gaza. We don want Kassam rockets on Petach Tikva, Grad rockets on Tel Aviv, or missiles on Ben-Gurion airport. We want peace.

In order to achieve peace, we must ensure that Palestinians will not be able to import missiles into their territory, to field an army, to close their airspace to us, or to make pacts with the likes of Hizbullah and Iran. On this point as well, there is wide consensus within Israel. It is impossible to expect us to agree in advance to the principle of a Palestinian state without assurances that this state will be demilitarized. On a matter so critical to the existence of Israel, we must first have our security needs addressed.

Therefore, today we ask our friends in the international community, led by the United States, for what is critical to the security of Israel: Clear commitments that in a future peace agreement, the territory controlled by the Palestinians will be demilitarized: namely, without an army, without control of its airspace, and with effective security measures to prevent weapons smuggling into the territory – real monitoring, and not what occurs in Gaza today. And obviously, the Palestinians will not be able to forge military pacts. Without this, sooner or later, these territories will become another Hamastan. And that we cannot accept.

I told President Obama when I was in Washington that if we could agree on the substance, then the terminology would not pose a problem. And here is the substance that I now state clearly:

If we receive this guarantee regarding demilitirization and Israels security needs, and if the Palestinians recognize Israel as the State of the Jewish people, then we will be ready in a future peace agreement to reach a solution where a demilitarized Palestinian state exists alongside the Jewish state.

Regarding the remaining important issues that will be discussed as part of the final settlement, my positions are known: Israel needs defensible borders, and Jerusalem must remain the united capital of Israel with continued religious freedom for all faiths. The territorial question will be discussed as part of the final peace agreement. In the meantime, we have no intention of building new settlements or of expropriating additional land for existing settlements.

But there is a need to enable the residents to live normal lives, to allow mothers and fathers to raise their children like families elsewhere. The settlers are neither the enemies of the people nor the enemies of peace. Rather, they are an integral part of our people, a principled, pioneering and Zionist public.

Unity among us is essential and will help us achieve reconciliation with our neighbors. That reconciliation must already begin by altering existing realities. I believe that a strong Palestinian economy will strengthen peace.

If the Palestinians turn toward peace – in fighting terror, in strengthening governance and the rule of law, in educating their children for peace and in stopping incitement against Israel – we will do our part in making every effort to facilitate freedom of movement and access, and to enable them to develop their economy. All of this will help us advance a peace treaty between us.

Above all else, the Palestinians must decide between the path of peace and the path of Hamas. The Palestinian Authority will have to establish the rule of law in Gaza and overcome Hamas. Israel will not sit at the negotiating table with terrorists who seek their destruction. Hamas will not even allow the Red Cross to visit our kidnapped soldier Gilad Shalit, who has spent three years in captivity, cut off from his parents, his family and his people. We are committed to bringing him home, healthy and safe.

With a Palestinian leadership committed to peace, with the active participation of the Arab world, and the support of the United States and the international community, there is no reason why we cannot achieve a breakthrough to peace.

Our people have already proven that we can do the impossible. Over the past 61 years, while constantly defending our existence, we have performed wonders.

Our microchips are powering the worlds computers. Our medicines are treating diseases once considered incurable. Our drip irrigation is bringing arid lands back to life across the globe. And Israeli scientists are expanding the boundaries of human knowledge. If only our neighbors would respond to our call – peace too will be in our reach.

I call on the leaders of the Arab world and on the Palestinian leadership, let us continue together on the path of Menahem Begin and Anwar Sadat, Yitzhak Rabin and King Hussein. Let us realize the vision of the prophet Isaiah, who in Jerusalem 2700 years ago said: “nations shall not lift up sword against nation, and they shall learn war no more.”

With Gods help, we will know no more war. We will know peace.

BENJAMIN_NETANYAHU

L A M P I R A N :

Menanti Sang Prajurit Komando Bernama BENJAMIN NETANYAHU Menepati Janjinya Mewujudkan Perdamaian & Keamanan

Jakarta 8/6/2009 (KATAKAMI) Pekan ini, rencananya Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu akan menyampaikan pidato kebijakannya yang akan mencakup masalah perdamaian dan keamanan. Hal itu disampaikannya dalam rapat kabinet di negaranya hari Minggu (7/6/2009) kemarin. Netanyahu menegaskan misi penting kabinetnya untuk meraih perdamaian dengan Palestina dan Negara-Negara Arab.

Atau, tepatnya yang diucapkan oleh Perdana Menteri Netanyahu adalah :

“We want to achieve peace with the Palestinians and with the countries of the Arab world, while attempting to reach maximum understanding with the US and our friends around the world. My aspiration is to achieve a stable peace that rests on a solid foundation of security for the State of Israel and its citizens. Next week, I will make a major diplomatic speech in which I will present the citizens of Israel with our principles for achieving peace and security. Ahead of the speech, I intend to listen to the opinions of the coalition partners and other elements among the Israeli public.”

Sinyalemen dari bapak 3 anak ini, cukup positif dan tentu dinantikan oleh semua pihak. Tentu saja ini dinantikan karena kebijakan yang akan dijabarkan oleh kabinet baru yang dipimpim Netanyahu ini akan sangat menentukan bagaimana masa depan rekonsiliasi antara Israel dan Palestina.

Kabinet yang dilantik pada 31 Maret 2009 ini, diharapkan oleh semua pihak untuk bisa menjadi motor penggerak yang akan membawa Israel dan Palestina bisa secara nyata bertetangga dengan baik. Walaupun sebenarnya, praktek di lapangan akan sangat sulit.

Berbicara mengenai mengenai Palestina, maka semua pihak harus mengakui bahwa ada “unsur” HAMAS yang sangat radikal didalamnya.

Dan sepanjang tingkat radikalisme HAMAS tak bisa dikendalikan atau mengendalikan diri maka kebijakan-kebijakan yang dibuat sangat positif oleh Israel dan Palestina, akan menjadi sia-sia. Jangan ada lagi provokasi yang disengaja untuk memancing kemarahan atau memicu peperangan. Jangan ada lagi provokasi tak bersahabat lewat dentuman ratusan mortir HAMAS yang menari-nari dalam menggempur ISRAEL di malam Natal, malam sakral yang sangat dihormati oleh Umat Kristiani diseluruh dunia. Akibatnya, pecahlah peperangan sengit yang sangat memedihkan hati semua bangsa didunia ini periode akhir tahun 2008 sampai memasuki minggu-minggu pertama di awal tahun 2009 lalu.

Dan kini, pernyataan dan pengakuan dari Netanyahu bahwa pihaknya siap untuk mewujudkan perdamaian dengan Palestina dan Negara-Negara Arab, adalah poin penting yang harus digaris-bawahi oleh semua pihak. Artinya, dengan menggaris-bawahi itikat baik dari Israel menjalin dan mewujudkan perdamaian tadi, perlu didukung.

Dukungan internasional terhadap “ROAD MAP” atau “PETA JALAN” menuju perdamaian tadi, jangan diimplementasikan lewat tutur kata, perbuatan atau kebijakan yang terkesan menggurui dan memaksa Israel agar sepenuhnya berada dibawah kendali pihak lain diluar kedua belah pihak yang “head to head” berhadap-hadapan di lapangan yaitu Israel dan Palestina.

Bayangkan jika sebuah negara, terlukai martabatnya hanya karena terkesan digurui atau dikendalikan.

Percayakanlah saja bahwa sepenuhnya pernyataan dan pengakuan Kabinet Netanyahu memang akan diwujudkan sebagaimana mestinya.

Click to enlargeNetanyahu, berlatar-belakang militer.

Netanyahu, berlatar-belakang militer.

Jika membaca rekam jejak perjalanan kariernya, tahun 1967-1972 Netanyahu bergabung menjadi PASUKAN KOMANDO KHUSUS / PASUKAN ELITE ISRAEL (semacam Pasukan Kopassus kalau di Indonesia). Bahkan ia ikut dalam operasi khusus yang membanggakan seperti operasi penyelamatan terhadap pembajakan pesawat Sabena tahun 1972.

Jiwa “Komando” yaitu prajurit sejati yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah misi khusus yang sangat penting, akan tetap terpatri sampai kapanpun dalam diri Netanyahu.

Jiwa “Komando” yaitu prajurit yang dilatih dengan kemampuan khusus yang sangat tinggi dan hebat, tetap diharuskan menghormati dan mengedepankan keselamatan perempuan dan anak-anak.

Disini, Netanyahu tentu menyadari di kedalaman hatinya bahwa jika pertempuran dan perseteruan yang berkepanjangan, berlarut-larut dan tak pernah berkesudahan sepanjang masa, sudah dapat dipastikan hanya akan memperbanyak jumlah korban di pihak sipil yang didalamnya terdapat begitu banyak anak-anak dan perempuan dari kedua belah pihak (Israel dan Palestina).

Tolong, jangan lagi ada peperangan yang sangat berkepanjangan. Dengarkan jerit tangis anak-anak dan perempuan yang menjadi sangat tersiksa dan tercekam dalam api peperangan yang sangat mengerikan. Jangankan untuk mendapatkan mimpi indah dalam tidur di siang atau malam hari, bahkan untuk tidur pun sudah tak ada yang berani jika api peperangan itu berkobar tanpa henti.

Sara and Binyamin NetanyahuNetanyahu honors his late brotherPhoto(china)photo (school)

Dalam kehidupan di muka bumi ini, semua orang pasti sudah pernah mendengar kalimat indah yang mengatakan bahwa “Surga Berada Di Telapak Kaki Ibu”.

Itu menandakan bahwa kaum perempuan, adalah sentral dari misi perdamaian yang perlu dicapai oleh negara manapun yang berlomba memuntahkan amunisi-amunisi peperangan yang mematikan.

Tetapi, didalam injil juga disebutkan hal lain yang berkaitan dengan surga yaitu anak-anak kecil adalah pihak yang paling diutamakan oleh Surga.

Ini bukan dimaksudkan bahwa setiap pertempuran atau peperangan di belahan manapun didunia ini, sangat sah dan dapat ditolerir jika menembaki pihak musuhnya tetapi ribuan anumisi atau ledakan-ledakan mortir mematikan itu justru menewaskan anak-anak kecil (bahkan bayi).

Pemahamannya justru harus dibalik bahwa dalam kehidupan secara universal, keselamatan anak-anak harus diutamakan dan dikedepankan.

Tanpa bermaksud untuk menyalahkan pihak manapun juga di Israel dan Palestina, cobalah hitung berapa perempuan dan anak-anak yang sudah bertumbangan dan berterbangan nyawanya karena gempuran sengit kalangan bersenjata.

Pidato kebijakan yang akan disampaikan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjadi secercah harapan baru tentang akan terwujudnya perdamaian dan keamanan di Timur Tengah, terutama antara Israel dan Palestina.

Kesatria sejati tidak akan pernah menarik ucapannya, jika ucapan itu telah dikumandangkan secara resmi dan terbuka.

Kesatria sejati tidak akan pernah mengingkari janjinya, jika nafas utama dari janji itu adalah untuk ikut berpartisipasi dalam mewujudkan perdamaian dan keamanan dunia.

Kesatria sejati tidak akan pernah “lagi” menutup mata hati dan mata imannya terhadap perlunya melindungi dan tetap membiarkan anak-anak dan perempuan pada umumnya di kawasan Israel dan Palestina dapat hidup dengan tenteram dan damai (bukan justru hidup dalam belenggu peperangan yang jika salah melangkah sedikit saja, bisa berakibat fatal yaitu tewas tertembus peluru dari dua kubu yang tak henti berperang).

Dan kami sungguh mempercayai bahwa seorang Benjamin Netanyahu adalah kesatria sejati dan prajurit “Komando” yang akan bersungguh-sungguh melaksanakan ucapannya.

Semua pihak tentu menunggu dengan penuh harapan bahwa perdamaian dan keamanan yang sejati itu, bukan sekedar isapan jempol atau angan-angan yang mustahil menjadi kenyataan.

Sepanjang Israel memang satu suara dan satu antara perkataan serta perbuatannya, maka dalam mewujudkan perdamaian dan keamanan itu tak diperlukan banyak campur tangan dari pihak manapun.

Didalam injilpun disebutkan, apa sebenarnya dan bagaimana sesungguhnya yang Tuhan inginkan dari setiap negara atau setiap bangsa di muka bumi ini,

“Sungguh, Alangkah Baiknya & Indahnya, Apabila Saudara-Saudara Diam (Hidup) Bersama Dengan Rukun (Damai)” (Mazmur 133).

Sehingga, dengan segala daya nalar dan logika dari akal sehat yang tetap dimiliki oleh semua anak manusia di muka bumi ini, “janji” untuk mewujudkan perdamaian dan keamanan yang sejati itu dinantikan dari Benjamin Netanyahu.

Just do it and please go for it, Sir !

Prajurit dari PASUKAN ELITE yang sejati, tak akan pernah mengingkari nilai paling hakiki yang ditanamkan dalam jiwa dan raganya bahwa apa yang terbaik baik “rakyat” secara keseluruhan, maka itulah yang terbaik untuk dilakukan.

KOMANDO !!!

(MS)

Kepada Bidadari Surgaku, Janganlah Menangis Tetapi Tersenyum & Menanyilah Merdu Dihatiku "Amazing Grace"

Filed under: katakami,kiti ann,rodeo kobe — katakamikatakami @ 4:30 pm

34eycno.gif (75×96)34eycno.gif (75×96)34eycno.gif (75×96)34eycno.gif (75×96)34eycno.gif (75×96)

Jangan menangis untuk diriku, Bidadari Surga

Didalam kehidupan didunia yang fana
Memang selalu akan ada badai dan prahara
Bahkan bila kita teguh bersuara dan bertahan dalam kebenaran
Tak perlu merasa sangat terbeban atas apa yang kuhadapi
Tangan Tuhan akan mengaturkannya menjadi sangat mudah
Untuk dilewati tahap demi tahap dengan langkah kemenangan


Hello%20Kitty%20Animation.gif (100×120)Hello%20Kitty%20Animation.gif (100×120)Hello%20Kitty%20Animation.gif (100×120)Hello%20Kitty%20Animation.gif (100×120)


Jangan menangis untuk diriku, Bidadari Surga
Di tempat kini dirimu berada, sudah tak perlu ada tangisan
Inilah kehidupan yang akan selalu dipenuhi dengan kezaliman
Dan untuk itulah Tuhan memberikan akal budi dan moralitas
Agar langkah itu tak ikut terseret dalam arus zaman yang kotor
Tangan Tuhan, lagi-lagi akan memberikan tuntunan ke arah yang baik
Agar jejak kaki yang melangkah menuju titik kemenangan

cartoon_267.gif (212×221)cartoon_267.gif (212×221)

Jangan menangis untuk diriku, Bidadari Surga
Kurindukan cerita baru dan canda yang penuh tawa seperti biasa
Ya betul, keprihatinan itu tanda cinta
Ya betul, keprihatinan itu potret sentuhan hati yang merasa ikut tersakiti
Tetapi percayalah, setiap manusia harus hidup untuk kehidupan ini
Dengan mata iman yang tajam dan tak gentar pada kezaliman yang berkepangan
Tersenyumlah seperti biasa, dan nyanyikan saja dihatiku lagu
Yang selalu dilagukan padaku dalam perbicangan hati penuh ketulusan :
kittyglitter026.gif (239×322)kittyglitter026.gif (239×322)

Amazing Grace


Amazing grace! How sweet the sound
That saved a wretch like me!
I once was lost, but now am found; an” style=”font-family:georgia;”>

Was blind, but now I see.

‘Twas grace that taught my heart to fear,
And grace my fears relieved;
How precious did that grace appear
The hour I first believed.

Through many dangers, toils and snares,
I have already come;
‘Tis grace hath brought me safe thus far,
And grace will lead me home.

The Lord has promised good to me,
His word my hope secures;
He will my shield and portion be,
As long as life endures.

Yea, when this flesh and heart shall fail,
And mortal life shall cease,
I shall possess, within the veil,
A life of joy and peace.

The world shall soon dissolve like snow,
The sun refuse to shine;
But God, who called me here below,
Shall be forever mine.

When we’ve been there ten thousand years,
Bright shining as the sun,
We’ve no less days to sing God’s praise
Than when we’d first begun.

merci3.jpg

Merci, Kiti. Merci, Rodeo Kobe. Je T’Aime.

sax2animated.gif (106×112)sax2animated.gif (106×112)sax2animated.gif (106×112)

Ketegaran Hati Obama Diuji Oleh Arogansi Rezim Lalu Dan Kini Ada Panggung Lawak Senator Yang Menampik Anggaran Penutupan “Gitmo” Guantanamo


Jakarta 23/5/2009 (KATAKAMI) Jujur saja, dari semua pemimpin dunia yang saat ini memerintah, posisi dan kedudukan Presiden AS ke-44 Barack Obama adalah yang paling “kurang nyaman”. Bukan karena Obama menunjukkan ketidak-mampuannya memimpin atau melakukan kesalahan. Sama sekali bukan ! Obama tetap Obama yang berpikir, bertindak & terus bekerja secara sangat cerdas.

Ia tetap menjadi dirinya, melakukan apa yang dijanjikannya semasa kampanye dulu dan terus melakukan hal-hal yang memang sangat baik untuk kepentingan negaranya. Bahkan di tataran internasional, ia — didukung Hillary Clinton dan perangkat pemerintahan Amerika lainnya, termasuk tentunya didukung Dinas Rahasia CIA dan FBI –, Obama justru mendapat dukungan yang sangat signifikan.

Pemimpin dunia yang selama puluhan tahun dendam kusumat dan darah tinggi kepada AS, mencair dan menghangat sikapnya karena gaya politik Obama yang bersahaja. Ia tak mengemis dan pantang merendahkan diri hanya untuk mendapat dukungan, apresiasi atau “senyuman” dari musuh-musuh besar AS.

Tetapi dengan caranya, Obama berani tampil dan mengubah sejumlah kebijakan yang selama ini sangat mempersulit posisi AS.

Dan mengapa dibagian atas tadi, kami sebutkan posisi Obama yang paling kurang nyaman dibandingkan para pemimpin dunia lainnya ?

Ya, sebab Obama menerima warisan setumpuk permasalahan yang sangat buruk dan memusingkan kepala dari presiden sebelumnya yaitu George Walter Bush.

Apa yang membanggakan dari pemerintahan Bush, jika dikaitkan dengan dampak hebat terhadap harkat, martabat dan kehormatan AS sebagai sebuah bangsa ? Lihatlah kebijakannya mendirikan penjara Guantanamo (GITMO) !

Apa yang bisa dijelaskan sekarang oleh Bush, mantan Wapres Dick Cheney dan anggota Kongres AS yang pada pekan ini menolak pengajuan anggaran untuk penutupan penjara Guantanamo.

Dari segi angka, anggaran yang diminta tidak terlalu besar untuk sebuah rencana yang “besar”. Anggaran yang diajukan hanya US 80 juta. Sehingga, ketika anggaran ini ditolak maka yang patut dipertanyakan kepada Bush, Cheney, dan Kongres AS yang menolak anggaran itu adalah apa maksud dan keinginan mereka sekarang ? Dan anehnya, walaupun menolak anggaran untuk penutupan penjara Guantanamo, tetapi Senat Amerika telah menyetujui 91,3 miliar dolar rancangan pengeluaran yang akan membiayai operasi militer di Afghanistan dan Irak.

Para Senator meluluskan rancangan itu hari Kamis (21/5/2009) dengan suara 86 lawan 3.

Sebagian dana itu akan digunakan untuk meningkatkan jumlah tentara di Afghanistan — satu prioritas Presiden Barack Obama. Tetapi, penolakan dana untuk Guantanamo dapat menimbulkan pertentangan dengan presiden, yang telah bertekad untuk menutup sarana itu sebelum awal tahun depan.

Seperti yang dilaporkan Radio Voice Of America (VOA), rancangan Senat itu harus direkonsiliasi dengan 95,7 milyar dolar rancangan pembiayaan perang Dewan Perwakilan Rakyat, sebelum rancangan terakhir dapat diajukan ke Gedung Putih untuk mendapat persetujuan.

Bush dan Cheney, sebaiknya “tutup mulut” dan banyak merenung pada saat ini !

Tidak pantas jika duet kepemimpinan yang sangat amat buruk citranya di mata rakyat AS dan dunia internasional ini, masih banyak bacot alias ngoceh saja mengkritik kebijakan Obama menutup penjara Guantanamo.

Besarnya hujatan dari dunia internasional akibat dampak-dampak hukum, HAM dan kemanusiaan yang timbul dibalik kemisteriusan penjara Guantanamo, adalah dosa yang tak termaafkan dari duet Bush dan Cheney.

Dan sebaiknya, Obama — atau siapa di AS — perlu sangat menyadari bahwa apapun yang terjadi di Guantanamo selama ini yang menjadi pemicu kritikan dan hujatan di bidang hukum, HAM dan kemanusiaan — semua itu bukan salah prajurit militer, petugas atau penyidik yang ada di Guantanamo.

Kesalahan dan tanggung-jawab secara total menyeluruh ada pada Bush dan Cheney !

Sentral utama dari semua kesalahan dan tanggung-jawab itu harus dituntut dari kedua orang ini. Sehingga, Obama dan rakyat AS harus bertanya kepada kedua orang ini, apa mau mereka sekarang setelah semua dampak yang ditimbulkan oleh penjara Guantanamo menjadi sangat TIDAK kondusif bagi AS.

Bush dan Cheney, termasuk juga Senator-Senator yang menolak anggaran penutupan itu , jangan menganggap bahwa mereka adalah pihak yang paling benar, paling tahu dan paling berhak menentukan kemana arah penanganan terorisme demi “NATIONAL SECURITY” atau keamanan nasional bagi AS.

Semua ada masanya, begitu dinasehatkan oleh orang yang bijak.

Ada masa untuk mengatas-namakan perang melawan teror agar bisa melakukan invasi ke sejumlah negara dan “menghajar” siapa saja yang dianggap terkait urusan terorisme.

Tetapi sekarang, ada masa untuk memulihkan dampak dari berbagai kebijakan yang salah kaprah dari pemerintahan Bush dan Cheney. Dan yang menerima warisan tak sedap dari Bush dan Cheney adalah Obama !

Sebenarnya, kalau Obama punya sedikit saja “keisengan atau ketegaan” maka biarkan saja Bush dan Cheney mempertanggung-jawabkan semua kebijakan mereka yang nyata-nyata salah serta melanggar hukum, HAM dan kemanusiaan. Tidak usah dilindungi atau ditutupi.

Mungkin, Bush dan Cheney lupa bahwa saat ini yang memegang kendali dan otoritas penuh untuk mengakses semua data dan dokumentasi kerahasiaan negara ada ditangan Presiden Obama.

Untung Bush dan Cheney hidup di AS sana. Coba kalau mereka hidup di Indonesia sini, maka keduanya tidak bakal bisa hidup tenang dan ongkang-ongkang kaki mengkritik pemerintahan baru. Mereka bisa didemo dan “dihajar” habis-habisan di semua media massa.

Sebab agak aneh dan lucu, jika ada pihak yang menjadi sumber permasalahan dan biang kerok dari munculnya kebijakan yang tidak populer bagi sebuah bangsa sebesar AS, sekarang ini masih punya kepercayaan diri dan begitu nyaring suaranya mengkritik pemerintahan baru yang sangat amat berat tugasnya membereskan semua permasalahan yang timbul akibat “kegilaan” Bush dan Cheney menangani terorisme.

Dan patut dapat diduga, ini adalah permainan politik tingkat tinggi dari lawan politik Obama yang terkalahkan dengan sangat telak pada Pemilihan Presiden bulan November 2008 lalu.

Mengapa disebut permainan politik tingkat tinggi ?

Ya, sebab keputusan menutup penjara Guantanamo adalah kebijakan pertama yang dikeluarkan Presiden Obama pasca pelantikannya bulan Januari lalu. Sehingga, kalau kebijakan maha penting ini menjadi awut-awutan dan terguncang karena tidak adanya persetujuan dalam hal anggaran maka akan mempermalukan Obama.

Tahukah mereka — jika benar dibalik ini semua ada permainan politik tingkat tinggi — bahwa jika patut dapat diduga ada lawan politik yang pro pada rezim dan partai politik yang menjadi “rumah” Presiden George W. Bush ingin mempermalukan Presiden Obama, maka satu hal yang penting disadari bahwa Obama bukan lagi Obama yang dulu.

Obama yang sekarang, adalah pemimpin AS yang sah dan konstitusional.

Obama yang sekarang, adalah ikon dan lambang kedigdayaan AS.

Sehingga, salah besar jika permasalahan negara dicampur-aduk dengan dendam politik atau sikap keras kepala yang terkontaminasi dengan sikap sok tahu, dari sisa-sisa kesombongan yang masih melekat pada Bush, Cheney, pendukung mereka dan Anggota Kongres AS yang tidak menyetujui anggaran penutupan penjara Guantanamo.

Kalau sudah kalah, ya terima saja kekalahan.

Dan harus satu antara kata dan perbuatan.

Jika memang memang sudah kalah, sportif memberikan ucapan selamat dan mengakui kemenangan Obama, maka sepanjang Obama memerintah wajib hukumnya bagi siapapun juga yang menjadi lawan politik Obama untuk memberi dukungan terhadap apapun kebijakan yang positif bagi AS.

Bush dan Cheney, harus malu kepada semua prajurit AS karena akibat kebijakan pemerintahan yang lalu di AS maka penterjemahan pada pelaksanaan taktis dan teknis di lapangan seputar penanganan terorisme menjadi simpang siur.

Sehingga, yang harusnya diakui disini adalah kesalahan soal penanganan terorisme (apapun bentuk kesalahannya), maka itu bukan kesalahan CIA, militer AS atau siapapun yang terkait dalam semua kebijakan keamanan sepanjang Bush menderita sakit paranoid kelas akut dalam menangani terorisme.

Tidakkah disadari, bahwa jiwa raga dikorbankan oleh prajurit-prajurit AS di berbagai medan pertempuran, hanya untuk memuaskan dan menjadi tempat pelampiasan sakit paranoid kelas akut yang diderita Bush ?

Dan soal Guantanamo, inilah yang justru termasuk kesalahan fatal dari Bush.

Jika penjara ini tidak ditutup, lalu apa formula penyelesaian yang oleh Bush dan Cheney dianggap paling baik agar penegakan hukum dalam penanganan terorisme itu tidak menerapkan hukum rimba yang menghalalkan praktek kekerasan ? Coba ditanyakan kepada Bush dan Cheney, apa formula terbaik yang menurut mereka perlu dilakukan ?

Jika mereka tidak menjawab, bagaimana kalau diterapkan cara bertanya dengan metode “WATER BOARDING” yaitu kepala mereka dibenamkan dalam air sampai megap-megap, agar mereka mau menjawab !

Ya, sebab kedua pemimpin ini sudah sangat keterlaluan.

Ketika mereka menjabat dan memerintah, otomatis seluruh perangkat keamanan harus mampu dan dituntut menterjemahkan secara cepat “perintah” dari panglima tertinggi mereka yang sakit paranoid kelas akut tadi.

Ternyata pemerintahan berganti di AS dan partai politik yang menjadi “kendaraan” politisi-politisi yang serumpun dengan Bush, kalah telak pada Pemilihan Presiden AS. Sudah sepantasnya, apapun juga langkah dan kebijakan yang diambil oleh Presiden Obama demi kepentingan rakyat AS memang harus terus didukung.

Kongres AS ibarat sedang melawak diatas panggung perpolitikan.

Anggaran untuk Irak dan Afghanistan disetujui, tetapi anggaran untuk penutupan penjara Guantanamo tidak disetujui. Entah dimana kecerdasan berpolitik dan moralitas para Senator ini, jika dalam memandang permasalahan sangat pelik — dimana situasi dan kondisi riil di penjara Guantanamo — sudah tak memungkinkan untuk dipertahankan.

Kongres AS ibarat sedang kurang kerjaan dan kurang lahan untuk mencari sensasi.

Akhirnya, yang mau dijadikan sasaran tembak justru Presiden Obama.

Sangat tidak pantas jika seorang presiden yang nyata-nyata sedang berusaha memulihkan dan menyelesaikan persoalan berat yang diwariskan pemerintahan yang lalu, justru dijegal dengan cara seperti ini.

Presiden Barack Obama sendiri sudah menyampaikan dalam pernyataannya baru-baru ini bahwa ia tetap akan menutup penjara militer Amerika di Teluk Guantanamo, Kuba, meskipun ada berbagai kritik di Amerika.

Dalam pidato yang disiarkan televisi secara nasional, Obama mengatakan ia akan menutup kamp tahanan Guantanamo yang diwariskan kepada dirinya mulai menjabat empat bulan lalu.

Obama mengatakan sebagian dari 240 tahanan yang menunggu proses pengadilan akan dikirim ke penjara-penjara Amerika dengan pengamanan sangat ketat dan nantinya akan diadili dalam pengadilan sipil, sementara lainnya akan menghadapi pengadilan militer.

tyle-span”>Menurut Obama, pemerintahannya telah menyetujui pengiriman 50 tahanan ke negara-negara lain.

Lalu, menanggapi semua ini muncul komentar sinis dari mantan presiden Dick Cheney mengatakan dalam pidato hari Kamis di Washington bahwa keputusan Obama untuk menutup pusat tahanan itu dibuat dengan – dalam kata-katanya – “sedikit pertimbangan dan tanpa rencana”.

Kalau kami yang jadi Presiden Obama, maka harusnya dilayangkan pertanyaan sederhana kepada Dick Cheney, “What the hell are you talking about ? Shut up !”.

Komentar sinis itu ibarat tong kosong yang nyaring bunyinya. Sebab, rezim yang menyebabkan seluruh dampak buruk yang kini dihadapi AS, justru masih berani “berbunyi”.

Tetapi yang kini harus dilakukan Presiden Obama adalah tak gentar dan tak surut dalam melaksanakan kebijakan yang telah diambilnya dengan pertimbangan, kecermatan dan memegang teguh prinsip kehati-hatian demi tegaknya hukum, HAM dan kemanusiaan.

Sebagai seorang politisi, Obama tentu sudah menyiapkan dirinya untuk melewati “kerikil-kerikil tajam” yang memang biasa terjadi didalam kehidupan siapapun juga di dunia ini.

Obama, harus tetap menjadi pribadi bermental baja dan meyakini bahwa misi apapun yang diembannya untuk kebaikan bangsa, negara dan rakyat AS, sepanjang membawa misi kebaikan maka akan selalu ada jalan untuk mewujudkannya.

(MS)

Kebanggaan Dunia Pada Obama Menguat, Dari Meksiko Obama Tegaskan Kelanjutan Perang Terhadap NARKOBA (Heal The World, Make It Better Place, Mr Obama)

Filed under: barack obama,katakami,world news — katakamikatakami @ 4:25 pm

JAKARTA 17 APRIL 2009 (KATAKAMI) Persis tanggal 20 April mendatang, Presiden Barack Obama memasuki bulan ke-3 memerintah di Amerika Serikat. Pemimpin muda yang tak cuma membuat rakyat AS saja yang terkesima atas kecerdasannya.

Tahun 2007 silam, saat dimana INDONESIA belum begitu “welcome” terhadap figur Obama yang sudah mengumumkan bahwa dirinya akan melangkah maju pada Pilpres AS 2008, Pemimpin Redaksi KATAKAMI telah meyakini bahwa Obama akan memenangkan pertarungan itu.

Sehingga, sejumlah petinggi di negara ini (yang tak usah kami sebutkan namanya), mendapat pemberian sederhana dari Pemimpin Redaksi KATAKAMI yaitu buku biografi Barack Obama yang sudah mulai dijual di Toko Buku Gramedia. Kami memberikan buku itu sebagai alternatif bacaan tentang akan munculnya seorang pemimpin baru yang relatif berusia muda di blantika perpolitikan AS.

Barangkali saat memasuki tahun 2007, banyak orang yang belum yakin bahwa Obama punya kans yang besar untuk menang. Tapi kami mempunyai firasat yang baik bahwa pemimpin muda yang satu ini memang akan memenangkan pertarungan politik di AS. Ia bukan cuma seorang orator yang ulung. Tetapi dari setiap kalimat yang diucapkannya, ada daya tarik yang bagaikan magnet akan menarik perhatian dan kepercayaan dari siapa saja yang mendengarnya.

Bahkan, dalam hitungan waktu yang mundur ke belakang, saat Pemimpin Redaksi KATAKAMI masih bekerja sebagai wartawati di Radio Voice Of America (VOA) – untuk periode 2003-2008 – pada masa awal Obama memulai debutnya sebagai kandidat Capres di AS yaitu tahun 2006 kami sudah membuka situs dari Obama dan mendaftarkan alamat EMAIL kami untuk terus dikirimi kabar terbaru tentang Obama. Padahal, beberapa rekan senior kami di Radio Voice Of America (VOA) sendiri yaitu mereka yang sudah puluhan tahun tinggal di AS, belum mengetahui bahwa Obama membuka situs pribadi dan rutin mengirimi kabar terbaru tentang debut politiknya.

Saat ini, Presiden Obama berada di Meksiko dan telah mengadakan pembicaraan Tete A Tete atau pembicaraan empat mata dengan Presiden Meksiko

Dari laporan Radio Voice Of America (VOA) disebutkan bahwa Presiden Obama dan Presiden Meksiko Felipe Calderon telah menyepakati kerjasama untuk melawan perdagangan narkoba, Kamis (16/4/2009).

Obama memuji usaha Meksiko untuk menumpas kartel narkoba dan mengatakan Amerika Serikat akan melakukan bagiannya untuk menanggulangi permintaan Amerika akan narkoba dan arus senjata dan uang tunai di perbatasan. Ia mengatakan demikian setelah bertemu dengan Presiden Calderon di Kota Meksiko.

Obama mengatakan ia menghendaki Kongres Amerika menyetujui perjanjian yang membatasi ekspor senjata Amerika ke negara-negara Amerika Latin dan terus mendanai program yang akan memberi kepada Meksiko helikopter militer untuk membantu perang narkoba.

Barangkali kami salah dan mohon maaf jika kami memang salah, rasanya pernyataan terbuka Presiden Obama di Meksiko tentang PERANG MELAWAN NARKOBA ini adalah pernyataan terbuka pertama sejak ayah dari 2 anak ini resmi menjabat sebagai PRESIDEN AS yang ke-44.

Tapi, entah itu memang pernyataan terbuka yang pertama atau yang ke berapapun juga, satu hal yang disayangkan dari Presiden Obama.

Apakah kerjasama dan konsistensi AS dalam memerangi NARKOBA itu hanya ditujukan kepada Meksiko ?

Tidakkah Obama mengetahui atau menyadari bahwa negara-negara lain di dunia ini, sungguh juga ingin agar AS dengan sangat sungguh-sungguh memberikan bantuan yang serius dan kuat sekali dalam memerangi NARKOBA ?

Termasuk Indonesia, cq MABES POLRI, tentu memerlukan dukungan yang lebih kuat dari AS dalam memerangi NARKOBA.

Dari Situs Resmi MABES POLRI (WWW.POLRI.GO.ID) diperoleh data resmi hasil kerja Jajaran Direktorat IV (Narcotics And Organized Crimes) Bareskrim POLRI pada pertengahan April 2009 ini bahwa kasus tindak pidana narkoba periode 2009 yang berhasil ditangani sampai bulan Februari 2009 adalah 803 kasus narkoba dengan penetapan status tersangka kepada 1068 orang, kasus psikotropika sebagai 973 dengan jumlah tersangka 1299 orang.

Tentu kinerja yang sebaik ini memang pantas dihargai.

Dan yang perlu ditekankan juga kepada MABES POLRI adalah kesungguhan dalam pemberantasan narkoba itu sendiri. Artinya, tidak dibiarkan jika patut dapat diduga ada oknum-oknum didalam internal MABES POLRI yang justru terlibat dalam perdagangan gelap narkoba di tingkat nasional dan internasional.

Jangan dibiarkan juga, jika patut dapat diduga ada oknum POLRI yang “main mata” dengan oknum KEJAKSAAN dalam melakukan kongkalikong untuk meraup uang panas dari kasus-kasus narkoba dengan seribu satu macam akal busuk yang dirancang dan disepakati bersama.

Jangan dibiarkan juga, jika patut dapat diduga ada permainan pada pasal-pasal yang bisa ditetapkan dalam kasus narkoba dan dari pemilihan pasal-pasal hukum itu dapat diraup keuntungan yang tak ternilai harganya.

Jangan dibiarkan juga, jika patut dapat diduga bergelimpangannya barang bukti narkoba menjadi sasaran empuk oknum polisi dan jaksa untuk menjualnya kembali ke “pasaran” atau mengkonsumsinya sendiri.

Jangan dibiarkan juga, jika patut dapat diduga ada bandar dan mafia narkoba kelas KAKAP (bahkan kelas IKAN HIU dan IKAN PAUS) yang diloloskan dari jerat hukum oleh oknum PERWIRA TINGGI POLRI.

Dalam hal ini contoh yang sangat nyata adalah kasus bandar dan mafia narkoba LIEM PIEK KIONG alias MONAS, yang patut dapat diduga sudah 3 kali berturut-turut diloloskan dari jerat hukum yang memungkinkan diri si bandar keparat ini mendapatkan VONIS MATI dari majelis hakim.

Bayangkan, bandar dan mafia narkoba MONAS ini terakhir kali ditangkap JAJARAN POLRI pada bulan Agustus 2007 di Apartemen Taman Anggrek Jakarta Barat dengan barang bukti 1 JUTA PIL EKSTASI.

Dari 9 orang yang ditangkap, hanya 3 orang saja yang diajukan oleh PENYIDIK POLRI kepada pihak KEJAKSAAN dan ketiga telah mendapatkan VONIS MATI dari majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Salah seorang diantara yang mendapatkan VONIS MATI itu adalah CECE (isteri dari bandar dan mafia narkoba MONAS) yang saat ini ditahan di Rutan Pondok Bambu Jakarta Timur dan dari balik jeruji besi tetap mengendalikan perdagangan gelap narkoba.

Sedangkan yang 6 orang (salah seorang diantaranya adalah MONAS, sang bandar dan mafia pemilik1 JUTA PIL EKSKTASI itu) justru dibebaskan dari jerat hukum pada kasus narkoba Taman Anggrek. Lalu yang 5 orang lainnya itu adalah sekelas MONAS juga alias rekan sesama bandar dan mafia narkoba, dimana sampai detik ini MONAS dan kelima bandar keparat itu tak pernah lagi kelihatan batang hidungnya pasca penangkapan di Apartemen Taman Anggrek (November 2007).

Sebenarnya, betapa malunya kita sebagai sebuah bangsa bahwa ada fakta seperti ini di Indonesia.

Sebenarnya, betapa malunya kita sebagai sebuah bangsa bahwa patut dapat diduga seorang PERWIRA TINGGI POLRI yang ditugasi memberantas narkoba di negeri ini malah menjadi BEKING UTAMA dari sindikat para bandar dan mafia narkoba internasional.

Sedihnya lagi, oknum PERWIRA TINGGI POLRI yang patut dapat diduga menjadi beking utama tersebut justru merupakan KOLEGA dari Aparat Penegak Hukum AS (terutama FBI dan DEA). Sehingga, pada era pemerintahan Presiden Barack Obama, FBI dan DEA harus membuka matanya secara lebar-lebar (Please open your eyes, man !) agar mulai detik ini mereka memasukkan nama oknum PERWIRA TINGGI yang patut dapat diduga sebagai beking dari sindikat bandar dan mafia narkoba internasional itu ke dalam daftar hitam AS atau di-black list.

Jika patut dapat diduga ada segelintir orang dalam internal POLRI dan KEJAKSAAN yang melakukan penyimpangan dan pelanggaran hukum maka perbuatan mereka tidak bisa digenelarisir sebagai kelemahan kesalahan atau kekurang-seriusan MABES POLRI dan KEJAKSAAN sebagai institusi dalam menangani kasus-kasus narkoba.

MABES POLRI sebagai institusi adalah sebuah lembaga hukum yang sepenuhnya harus didukung oleh semua pihak dalam menangani kasus-kasus tindak pidana narkoba di negeri ini. Begitu juga halnya dengan KEJAKSAAN.

MABES POLRI sebagai institusi adalah sebuah lembaga hukum yang sepenuhnya juga perlu tetap didukung secara kuat oleh AS, dalam hal ini sepanjang masa pemerintahan Presiden Barack Obama.

Walau ada beberapa kelemahan disana-sini, semua itu sangat wajar dalam perjalanan hidup sebuah bangsa seperti INDONESIA. Artinya, Presiden Obama tak perlu ragu untuk juga mengarahkan pandangannya dalam bekerjasama dengan INDONESIA untuk memerangi NARKOBA.

Selain tetap membangun kerjasama dan dukungan penuh untuk kelanjutan penanganan terorisme yang sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku (sudah bukan saatnya lagi isu terorisme dijadikan komoditi “bombastis”), AS tetap dapat meningkatkan kerjasama di bidang penanganan narkoba.

Seruan Obama dari Meksiko tentang konsistensi AS dalam memerangi narkoba, patut dihargai.

Dan ini membuat harapan dunia kepada figur Obama menjadi lebih besar untuk membuat kehidupan ini menjadi baik.

Obama dengan kedigdayaan AS, diharapkan akan menjadi motor untuk membuat PERUBAHAN (CHANGE) juga ke arah yang jauh lebih mensejahterakan kehidupan manusia.

Walau di Indonesia ini, pemerintahnya patut dapat diduga melindungi beking dari sindikat para bandar dan mafia narkoba internasional (semacam Liem Piek Kiong alias MONAS), tetapi Obama tak perlu ragu untuk tetap membantu Indonesia dengan segala potret realita yang tak begitu menyenangkan ini.

Saat mendengar kabar bahwa Presiden Obama menyatakan AS melanjutkan PERANG MELAWAN NARKOBA dengan memberikan dukungan kepada Meksiko, hati ini rasanya menjadi lebih bangga dan ikut senang.

Sebab, Presiden Obama pasti akan mewujudkan janji dukungan itu secara nyata.

Dalam hal pemberantasan NARKOBA ini, keseriusan Obama yang saat ini menjadi orang nomor satu di AS, membuat kami teringat pada sebuah lagu yang diciptakan dan dinyanyikan oleh Michael Jackson. Obama dan AS diharapkan melanjutkan terus dukungan dan bantuan mereka yang seluas-luasnya kepada negara mana saja (termasuk INDONESIA) dalam melakukan PERANG TERHADAP NARKOBA.

Yes, you can also CHANGE the world, Mr President.

Make it better place … for you and for me !

Dan sambil menyendiri, entah dimanapun juga, barangkali baik untuk Obama untuk mendengarkan lagu Michael Jackson tadi (HEAL THE WORLD) :

There’s A Place In
Your Heart
And I Know That It Is Love
And This Place Could
Be Much
Brighter Than Tomorrow
And If You Really Try
You’ll Find There’s No Need
To Cry
In This Place You’ll Feel
There’s No Hurt Or Sorrow

There Are Ways
To Get There
If You Care Enough
For The Living
Make A Little Space
Make A Better Place

Reff :
Heal The World
Make It A Better Place
For You And For Me
And The Entire Human Race
There Are People Dying
If You Care Enough
For The Living
Make A Better Place
For You And For Me

If You Want To Know Why
There’s A Love That
Cannot Lie
Love Is Strong
It Only Cares For
Joyful Giving
If We Try
We Shall See
In This Bliss
We Cannot Feel
Fear Or Dread
We Stop Existing And
Start Living

Then It Feels That Always
Love’s Enough For
Us Growing
So Make A Better World
Make A Better World…

(MS)

Laman Berikutnya »

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.